YOGYAKARTA, POPULI.ID – Rencana pemerintah menutup sejumlah program studi (prodi) yang dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan ekonomi masa depan memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menilai kebijakan tersebut mengandung penyederhanaan yang berisiko ketika penutupan prodi yang minim peminat atau dinilai tidak relevan dibingkai dengan jargon link and match.
Menurut Wisnu, cara pandang semacam itu berpotensi menempatkan perguruan tinggi dalam posisi yang terlalu bergantung pada kebutuhan pasar dalam jangka pendek. Ia mempertanyakan dasar pemikiran yang menjadikan kebutuhan industri sebagai acuan utama pendidikan tinggi.
“Menutup program studi karena dianggap tidak dibutuhkan industri terdengar rasional sampai kita bertanya lebih jauh, sejak kapan pasar kerja menjadi penentu tunggal arah pendidikan tinggi?” kata Wisnu, dilansir dari laman resmi UGM, Sabtu (6/62026).
Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama dari kebijakan tersebut adalah anggapan bahwa kebutuhan industri dapat diperkirakan dan direspons secara stabil oleh perguruan tinggi. Padahal, perkembangan teknologi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan proses pendidikan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Mengacu pada laporan World Economic Forum (WEF), sekitar 44 persen keterampilan kerja diprediksi mengalami perubahan dalam lima tahun mendatang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan yang saat ini dianggap penting belum tentu tetap relevan di masa depan.
“Artinya, apa yang hari ini dianggap relevan bisa dengan sangat cepat menjadi usang. Dalam kondisi seperti ini, memaksa kampus mengejar kebutuhan industri justru seperti berlari mengejar bayangan,” ujar Wisnu.
Ia menilai kebijakan yang terlalu berorientasi pada kesiapan kerja dalam waktu singkat justru dapat menimbulkan persoalan baru. Berbagai keterampilan teknis yang saat ini banyak dicari, mulai dari kemampuan pemrograman dasar hingga pekerjaan administratif, semakin rentan digantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Berdasarkan laporan McKinsey & Company, sekitar 30 persen aktivitas kerja di dunia berpotensi mengalami otomatisasi pada 2030. Karena itu, jika perguruan tinggi hanya mengejar keterampilan yang sedang populer di pasar, lulusan yang dihasilkan bisa cepat kehilangan relevansinya.
Sebaliknya, Wisnu menilai kemampuan yang bersifat fundamental justru lebih tahan menghadapi perubahan zaman. Kemampuan berpikir kritis, analisis, komunikasi, dan pemahaman sosial dinilai tetap dibutuhkan di berbagai sektor.
Data National Association of Colleges and Employers (NACE), lanjutnya, secara konsisten menempatkan kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, dan kerja sama tim sebagai kompetensi yang paling dicari oleh pemberi kerja.
“Justru keterampilan fundamental inilah yang diasah secara sistematis dalam ilmu dasar, humaniora, dan ilmu sosial, bidang-bidang yang kerap diposisikan sebagai prodi tidak laku,” tegas Sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM tersebut.
Wisnu juga menyoroti pandangan yang menganggap hanya bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, asumsi tersebut tidak didukung oleh fakta.
Berbagai penelitian terhadap pimpinan perusahaan besar menunjukkan latar belakang pendidikan yang sangat beragam. Banyak tokoh bisnis dunia justru berasal dari disiplin ilmu nonteknis.
Susan Wojcicki, misalnya, memiliki latar belakang sejarah dan sastra sebelum memimpin YouTube. Howard Schultz, mantan CEO Starbucks, menempuh pendidikan komunikasi, sedangkan Ken Chenault, mantan CEO American Express, merupakan lulusan sejarah. Sejumlah studi terhadap perusahaan Fortune 500 juga menemukan banyak CEO berasal dari bidang humaniora dan ilmu sosial.
Wisnu menilai fakta tersebut penting untuk dipahami karena keberhasilan memimpin organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Kemampuan memahami manusia, membaca situasi, dan mengambil keputusan strategis juga berperan besar.
Menurutnya, inovasi sering kali lahir dari pertemuan berbagai disiplin ilmu, bukan dari spesialisasi yang semata-mata mengikuti tren pasar. Banyak terobosan dalam ekonomi digital, sektor kesehatan, hingga kebijakan publik muncul dari kolaborasi lintas bidang keilmuan.
“Jika kampus direduksi sekadar menjadi penyedia tenaga kerja, ruang eksperimen intelektual yang melahirkan inovasi justru akan tergerus,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wisnu menekankan bahwa dampak kebijakan penutupan prodi tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi. Ketika arah pendidikan tinggi sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar, fungsi kampus sebagai ruang lahirnya pengetahuan, kritik, dan refleksi sosial berpotensi terabaikan.
Ia mengingatkan bahwa filsuf Martha Nussbaum telah lama memperingatkan dampak pengabaian bidang humaniora terhadap kualitas demokrasi dan kemampuan berpikir kritis masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, Wisnu menilai pemahaman yang terlalu sederhana mengenai relevansi pendidikan dapat mempersempit peran perguruan tinggi. Jika ukuran keberhasilan hanya didasarkan pada tingkat penyerapan kerja dalam jangka pendek, bidang-bidang yang berkontribusi terhadap pembangunan jangka panjang seperti kebudayaan, riset dasar, dan pengembangan pemikiran kritis akan semakin tersisih.
“Pendidikan tinggi bukanlah balai latihan kerja tambahan bagi industri. Menutup program studi hanya karena tidak sesuai dengan selera pasar hari ini adalah bentuk keputusan rabun jauh yang mengabaikan dinamika masa depan,” tegasnya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi semestinya tidak diposisikan sebagai pabrik pencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan industri semata. Kampus memiliki tugas yang lebih luas, yakni membentuk individu yang mampu berpikir, beradaptasi, serta menciptakan berbagai terobosan baru.
“Jika kita terus memaksakan logika pasar sebagai satu-satunya ukuran relevansi, yang dihasilkan bukanlah generasi yang siap menghadapi masa depan, melainkan generasi yang dilatih untuk masa lalu,” pungkasnya.










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

