SLEMAN, POPULI.ID – Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menduga kemunculan api misterius di sebuah rumah warga di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, berkaitan dengan gas yang dihasilkan dari fermentasi limbah organik di sekitar lokasi.
Ketua tim peneliti dari Departemen Teknik UGM, Sarju Winardi, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kasus yang cukup unik dan hingga kini belum ditemukan jawaban yang sepenuhnya komprehensif terkait penyebab kemunculan api secara berulang.
Menurut Sarju, berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan, tim menemukan indikasi keberadaan gas hidrogen (H2) yang diduga berperan dalam peristiwa tersebut.
“Kasus ini termasuk kasus khusus. Sampai saat ini kami belum menemukan jawaban yang benar-benar komprehensif, tetapi ada beberapa indikasi yang bisa menjadi dasar analisis,” ujarnya.
Ia menuturkan, secara ilmiah fenomena kebakaran yang dipicu gas hidrogen dan dipantik oleh gas fosfin (PH3) pernah ditemukan dalam sejumlah kasus lain. Salah satunya terjadi di area bekas pembuangan sampah yang mengandung banyak material organik.
“Di lokasi seperti itu terdapat banyak material organisme, hewan mati, tulang, termasuk area yang dekat dengan kuburan. Di tempat-tempat seperti itu sering ditemukan gas hidrogen yang kemudian dapat menyala karena dipicu gas fosfin,” jelasnya.
Selain faktor tersebut, tim peneliti juga sempat mempertimbangkan kemungkinan adanya gas metana yang berasal dari septic tank. Namun setelah dilakukan penyedotan septic tank, kemunculan api masih terjadi di sejumlah titik sehingga dugaan mengarah pada keberadaan gas hidrogen.
“Nah, penyebab hidrogen ini ada berbagai macam. Menurut kami yang paling dekat sejauh ini adalah berasal dari limbah organik,” katanya.
Sarju menjelaskan, gas hidrogen dapat terbentuk melalui proses fermentasi material organik yang melibatkan aktivitas mikroba dan bakteri dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut dinilai memungkinkan terjadi di lokasi kejadian mengingat rumah tersebut telah ditempati selama sekitar 16 tahun.
“Dari perubahan material organik terjadi fermentasi, ada aktivitas bakteri, dan kemungkinan proses itu sudah mencapai puncaknya sehingga menghasilkan gas dalam jumlah cukup banyak,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dugaan sumber gas dari limbah organik masih bersifat hipotesis dan belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Menurutnya, terdapat tiga kesimpulan sementara yang diperoleh tim. Pertama, keberadaan gas hidrogen merupakan temuan yang telah terkonfirmasi melalui alat ukur. Kedua, sumber gas diduga berasal dari fermentasi limbah organik. Ketiga, terdapat kemungkinan keterkaitan antara gas hidrogen dengan gas fosfin sebagai pemicu nyala api.
“Asumsi kami ada tiga hal. Pertama, evidence yang kami miliki adalah adanya gas hidrogen H2 yang sudah terkonfirmasi dari alat. Kedua, sumbernya kami duga berasal dari fermentasi limbah organik. Ketiga, ada kemungkinan gas hidrogen ini berkaitan dengan fosfin. Yang kedua dan ketiga masih berupa asumsi, sedangkan yang pertama sudah berbasis bukti,” tegasnya.
Tim peneliti juga mengamati bahwa sebagian besar titik kemunculan api berada di dalam rumah. Hanya tiga titik yang ditemukan di luar bangunan, yakni di dekat tangga menuju lantai dua, area dapur luar yang berdekatan dengan sumur, serta di sekitar pohon pisang.
Berdasarkan kondisi kontur lahan, tim menduga gas lebih banyak terakumulasi di bawah bangunan rumah yang posisinya lebih tinggi dibanding area di sekitar sumber limbah organik.
“Menurut kami, gas kemungkinan terakumulasi lebih banyak di bawah rumah karena posisi rumah lebih tinggi. Jadi bukan berarti gas keluar hanya dari empat titik yang ditemukan api besar, bisa saja keluar melalui retakan lantai, nat keramik, atau celah di sekitar fondasi bangunan,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi, tim UGM merekomendasikan penggunaan air kapur untuk menekan aktivitas bakteri yang diduga memproduksi gas tersebut.
“Tujuannya untuk mengurangi aktivitas bakteri yang menurut kami cukup intens menghasilkan gas,” pungkas Sarju. (populi.id/Hadid Pangestu)










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

