SLEMAN, POPULI.ID – Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pendeteksian terhadap sejumlah titik retakan tanah yang diduga berkaitan dengan kemunculan api misterius di sebuah rumah warga di Kasuran, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM di rumah milik Fia, yang juga digunakan sebagai lokasi pemotongan ayam.
Satu di antara peneliti, Saptono Budi Samodra, menjelaskan bahwa tim saat ini tengah memetakan kondisi bawah permukaan tanah untuk mengetahui adanya struktur retakan yang berpotensi menjadi jalur keluarnya gas.
“Kalau dari alat terlihat, tanah asli menunjukkan adanya pola atau struktur retakan di sejumlah tempat,” ujar Saptono saat ditemui di lokasi, Senin (8/6/2026).
Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan teknologi georadar yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi 60 MHz. Gelombang tersebut dipancarkan ke dalam tanah dan akan dipantulkan kembali ke permukaan setelah mengenai material tertentu di bawah tanah.
Menurut Saptono, hasil pembacaan alat dapat menampilkan gambaran berupa garis-garis tipis yang menunjukkan adanya lapisan tanah yang terputus akibat retakan dengan kedalaman yang bervariasi.
Meski demikian, ia mengakui georadar memiliki keterbatasan dalam menjangkau lapisan tanah yang lebih dalam. Saat ini alat tersebut hanya mampu mendeteksi kondisi bawah permukaan hingga kedalaman sekitar 20 meter.
“Mungkin di bawah masih berlanjut, cuma keterbatasan kemampuan alat yang tidak bisa mendeteksi sampai lebih dalam,” jelasnya.
Hingga kini, tim baru menyampaikan hasil pembacaan awal dari georadar. Data yang diperoleh masih harus melalui proses pengolahan lebih lanjut untuk memastikan apakah retakan tersebut memiliki keterkaitan dengan keberadaan senyawa yang diduga memicu munculnya api.
Selain itu, penelitian akan dilanjutkan menggunakan metode geolistrik guna memperoleh gambaran kondisi lapisan tanah yang lebih dalam. Tim juga berencana melakukan pengeboran manual untuk mengidentifikasi jenis lapisan tanah yang berada di bawah rumah tersebut.
“Kalau georadar lebih detail dibandingkan hasil pembacaan geolistrik, cuma memang keterbatasannya tidak bisa mendeteksi terlalu dalam,” ungkap Saptono.
Saptono menegaskan bahwa kajian yang dilakukan timnya berfokus pada aspek geologi. Penelitian ini bertujuan mencari kemungkinan lain yang dapat menjelaskan fenomena kemunculan api selain temuan awal dari Pusat Kajian Perlambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM.
Sebelumnya, PKPE UGM menyimpulkan bahwa kemunculan api diduga dipicu oleh gas hidrogen (H2) dan gas fosfin (PH3). Kedua gas tersebut diperkirakan terbentuk dari proses fermentasi limbah organik yang berasal dari aktivitas pemotongan ayam, seperti campuran kotoran, darah, air limbah, serta bulu ayam.
Keberadaan senyawa-senyawa tersebut diyakini dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar pada suhu ruang, sehingga berpotensi menjadi pemicu munculnya api secara tiba-tiba di lokasi tersebut. (populi.id/Hadid Pangestu)










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

