BANTUL, POPULI.ID – Klaim Indonesia sebagai satu di antara negara paling bahagia di dunia dinilai perlu dibaca secara lebih kritis.
Psikolog RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mufliha Fahmi menegaskan bahwa indikator yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut bukan semata-mata mengukur kebahagiaan (happiness), melainkan konsep flourishing yang memiliki makna lebih luas dan berbeda secara substansial.
“Flourishing tidak sama dengan happiness. Kebahagiaan hanya sebagian dari kebermaknaan hidup. Flourishing mencakup aspek relasi sosial, makna hidup, tujuan, hingga kontribusi individu dalam masyarakat,” jelas Mufliha dilansir dari laman UMY, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memang memiliki skor tinggi dalam dimensi nonmaterial, seperti makna hidup, relasi sosial, dan religiositas.
Namun, pada indikator kepuasan finansial, kesehatan fisik, dan kesehatan mental, nilainya justru relatif rendah. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi kebahagiaan kolektif dan realitas kesejahteraan psikologis masyarakat.
Mufliha mengaitkan temuan tersebut dengan dinamika sosial yang berkembang, termasuk meningkatnya ekspresi ketidakbahagiaan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda dan kelas pekerja.
Menurutnya, fenomena tersebut bukan sekadar keluhan emosional, melainkan bentuk kebutuhan akan validasi sosial dan ruang aman untuk mengekspresikan tekanan psikologis.
Ia juga menyoroti data kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman yang hingga Februari 2026 telah mencapai empat hingga lima kasus, lebih dari separuh total kasus sepanjang 2025.
“Padahal ini baru bulan Februari, belum genap satu tahun. Artinya, ada persoalan kesejahteraan psikologis yang tidak bisa diabaikan,” imbuhnya.
Meski mengkritisi dimensi struktural, Mufliha menegaskan bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya boleh digantungkan pada situasi politik atau kebijakan negara.
Ia mengajak masyarakat untuk membangun ketahanan psikologis melalui penerimaan diri, pengelolaan emosi, serta perjuangan aktif dalam menghadapi tantangan hidup.
“Kebahagiaan bukan berarti tidak ada kesedihan atau kekecewaan. Kebahagiaan adalah bagaimana kita merespons keadaan tanpa menyerahkan kendali batin sepenuhnya pada situasi eksternal,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan perspektif tentang makna bahagia menjadi penting di tengah tekanan ekonomi, polarisasi politik, dan derasnya arus informasi digital yang turut memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.
Merujuk pemikiran filsuf Al-Farabi, Mufliha menekankan bahwa kebahagiaan individu tidak akan utuh tanpa kebahagiaan sosial.
Dalam konteks tersebut, kesejahteraan psikologis masyarakat menjadi tanggung jawab kolektif, termasuk para pemimpin dan otoritas moral dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara sosial maupun mental.












