BANTUL, POPULI.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel vs Iran yang semakin memuncak di Timur Tengah diyakini tidak hanya berkaitan dengan masalah geopolitik dan ancaman keamanan.
Di balik narasi resmi, konflik tersebut juga dipandang mengandung agenda strategis dalam perebutan akses energi global, terutama terkait cadangan minyak mentah Iran yang sangat besar.
Menurut pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat isu bahaya nuklir tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi yang jauh lebih besar.
“Kita harus melihat dari sudut pandang yang lebih luas bahwa ada perebutan sumber-sumber ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyerang Iran karena dianggap sebagai ancaman politik,” ujar Faris dilansir dari laman UMY, Rabu (4/3/2026).
Iran tercatat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, dengan cadangan terbukti mencapai sekitar 208,6 miliar barel, atau hampir 12 persen dari total cadangan minyak global, menurut data OPEC. Posisi ini hanya berada di bawah Venezuela dan Arab Saudi dalam peringkat dunia.
Data tersebut menunjukkan bahwa setiap gangguan terhadap produksi atau pemasokan minyak Iran dapat berdampak signifikan pada pasar energi global.
Terutama, apabila konflik meluas atau mengancam stabilitas jalur transit energi seperti Selat Hormuz, yakni jalur yang menjadi rute keluar utama bagi sekitar 20 persen minyak bumi yang diangkut secara laut.
Dampak konflik pun dapat dirasakan oleh perekonomian negara lain. Sebagian besar ekspor minyak Iran selama ini menuju China, yang merupakan satu di antara konsumen energi terbesar dunia. Gangguan suplai dapat memicu lonjakan harga minyak serta gejolak di pasar energi internasional.
Lebih jauh, Faris membandingkan motif strategis konflik ini dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada masa sebelumnya, termasuk intervensi AS di negara-negara produsen minyak lain.
Menurutnya, perubahan rezim di negara kaya energi dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi AS karena memudahkan akses ekonomi yang lebih dominan di kawasan tersebut.
“Dalam konteks kebijakan luar negeri AS, penguasaan akses energi menjadi instrumen penting untuk mempertahankan dominasi ekonomi dan politik global,” jelas Faris, yang juga dosen Program Studi Hubungan Internasional UMY.
Ia mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi memperuncing rivalitas antara kekuatan besar dan memperlemah stabilitas pasar energi internasional.
Jika ketegangan terus meningkat, bukan hanya kawasan Teluk Persia yang terdampak, melainkan juga negara-negara berkembang yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dan energi global.












