YOGYAKARTA, POPULI.ID – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah, penjualan ayam hidup di Pasar Terban, Kota Yogyakarta, mulai mengalami peningkatan signifikan. Permintaan ayam hidup diketahui naik 50 persen dibanding hari biasa, seiring melonjaknya kebutuhan masyarakat untuk persiapan Lebaran.
Pantauan Populi.id, aktivitas jual beli ayam hidup terlihat ramai pada Rabu (18/3/2026). Sejumlah warga silih berganti memilih ayam-ayam hidup yang akan dibeli. Para pedagang ayam tampak telaten membantu pembeli memilihkan serta menimbang ayam hidup yang dikehendaki.
Seorang pedagang ayam hidup di Pasar Terban, Ade (35), mengatakan bahwa peningkatan penjualan ayam hidup sudah terlihat sejak Selasa (17/3/2026). Peningkatan dikatakan mencapai 50 persen, bahkan dia terus menambah stok persediaan ayam hidup agar bisa memenuhi permintaan konsumen.
“Ada peningkatan permintaan 50 persen dibanding hari biasa, sejak kemarin (16/3/2026). Kalau hari biasa saya menjual ayam hidup 250 ekor, sekarang melonjak bisa 1.500 ekor sehari,” ucap Ade kepada Populi.id, Rabu (18/3/2026).
Lonjakan permintaan ayam hidup tersebut dibarengi dengan peningkatan harga ayam hidup. Dikatakan, kini harga ayam naik dari Rp27 ribu menjadi Rp34 ribu per kg. Harga ayam hidup yang dia jual pun dihitung berdasarkan beratnya, sehingga ayam yang dipilih pembeli akan ditimbang, lalu beratnya dikalikan harga per kg.
“Pembelinya ini warga sekitar yang sudah jadi pelanggan lama saya. Warga Jogja pasti membeli ayam hidup untuk menyambut Idul Fitri, biasanya untuk dimasak opor,” katanya.
Meski ada lonjakan permintaan, namun Ade menyebut stok ayam hidup dalam kondisi aman. Bahkan dia menyebut tidak kesusahan mencari pasokan ayam hidup karena bisa diambil di wilayah Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Ramainya penjualan ayam hidup juga dirasakan pedagang lainnya bernama Prapti (45). Warga Kota Yogyakarta itu menuturkan, permintaan ayam hidup meningkat sekitar 30 persen dibanding hari biasanya.
“Kalau hari biasa saya jual ayam 250 ekor per hari, sekarang bisa menjual 400 ekor. Untuk harga juga ada kenaikan dari Rp30 ribu per kg menjadi Rp35 ribu per kg,” katanya.
Walaupun ada lonjakan signifikan, namun Prapti menilai penjualan ayam hidup masih ramai Lebaran tahun lalu. Sebab, dia belum lama pindah kembali ke Pasar Terban sehingga perlu adaptasi lagi.
“Tapi di sini sekarang lebih bersih dan nyaman, cuman memang perlu adaptasi lagi,” tuturnya.
Adapun setelah memilih sejumlah ayam, sebagian pembeli bergegas jalan menuju rumah pemotongan unggas yang ada di bagian belakang Pasar Terban.
Sebanyak lima gerai rumah pemotongan unggas (RPU) itu tampak ramai berkumpul pelanggan dan ratusan ayam hidup yang siap disembelih. Mereka pun tampak sabar antre menunggu giliran agar ayamnya disembelih petugas RPU.
Seorang warga Kelurahan Gowongan, Andri Sumantri (43), mengaku menunggu selama 2,5 jam untuk memotongkan ayam di RPU Pasar Terban. Dia datang sejak pukul 07.00 WIB dan baru selesai dilayani pada pukul 09.30 WIB.
“Biasanya tidak selama ini nunggunya. Kalau hari biasa paling 10 menit sudah selesai, tapi ini tadi nunggu 2 jaman karena ramai. Di banding tahun lalu lebih ramai saat ini,” paparnya.
Pada kesempatan itu, Andri mengaku membawa ayam enam ekor untuk dipotongkan di RPU Pasar Terban. Ayam hasil ternak itu akan Andri bagikan ke tetangga dan dimasak opor.
“Ya itu sudah jadi tradisi setiap jelang Lebaran masyarakat beli dan potong ayam untuk masak opor. Karena harga ayam relatif terjangkau, kalau kalangan masyarakat menengah ke atas mungkin masak daging sapi,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












