YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta telah mendata sebanyak 205 titik lokasi di Kota Yogyakarta akan melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriyah.
Ratusan titik itu berada di masjid, tanah lapang, hingga halaman lembaga pendidikan di seluruh wilayah Kota Pelajar.
Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta, Ahmad Shidiq, mengungkapkan, dari jumlah tersebut sebanyak 153 titik di antaranya telah menentukan pelaksanaan Salat Idulfitri mengikuti keputusan Muhammadiyah, pada Jumat (20/3/2026). Sedangkan 52 titik lokasi lainnya masih menunggu keputusan dari pemerintah.
“Jadi dari 205 lokasi tempat pelaksanaan Salat Idulfitri, 153 lokasi sudah menentukan akan melaksanakan pada Jumat (20/3/2026) besok dan 52 lokasi masih menunggu pemerintah,” ucapnya.
Ahmad menjelaskan, keputusan pemerintah terkait penetapan 1 Syawal atau pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriyah akan diumumkan setelah sidang Isbat. Adapun, gelaran sidang Isbat bakal diselenggarakan pada Kamis (19/3/2026).
“Sidang Isbat nantinya akan melihat sejauh mana hasil pengamatan hilal atau bulan yang tersebar di wilayah Indonesia. Pemerintah dalam menentukan awal bulan Syawal menggunakan metode hisab dan rukyah,” katanya.
Dikatakan metode yang digunakan pemerintah untuk memastikan awal Syawal sudah sesuai dengan kesepakatan Menteri Agama di empat negara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Dia menyebut, apabila pada 19 Maret 2026 ketinggian bulan yang bisa dilihat dari ujung timur sampai barat Indonesia tertinggi di angka 2 derajat 51 detik dan elongasinya 6 derajat 9 detik. Maka kemungkinan dengan ketinggian tersebut hilal belum bisa dilihat secara visual.
“Akan tetapi kami masih tetap menunggu hasil rujukan atau hasil pemeriksaan secara langsung besok (19/3/2026) di 100 titik wilayah Indonesia. Nanti masing-masing titik akan menyampaikan laporannya,” jelas dia.
Lebih lanjut, Ahmad menyampaikan bahwa momen Hari Raya Idulftri bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi.
Oleh karena itu, Kementerian Agama Kota Yogyakarta mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu menjaga ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama anak bangsa.
Agar bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain dalam melaksanakan hari raya masing-masing.
“Jika nanti perbedaan ketentuan 1 Syawal mungkin terjadi di sekitar kita, mohon agar seluruh masyarakat tetap mengedepankan ukhuwah Islamiyah, bisa menghormati perbedaan dalam menentukan 1 Syawal. Sehingga harmonisasi kerukunan di masyarakat, khususnya di wilayah Kota Yogyakarta bisa diwujudkan bersama,” harapnya.
Pihaknya juga meminta masjid-masjid membuka akses 24 jam dan menyiapkan fasilitas berupa toilet, tempat istirahat, dan makanan atau minuman kepada pemudik. Demi mendukung mobilitas arus mudik Lebaran 2026, terutama masjid-masjid yang berada di wilayah jalur mudik.
“Di Kota Yogyakarta sendiri kami data sudah ada 9 masjid yang siap memfasilitasi para pengunjung atau pemudik,” pungkasnya. (Populi.id/Dewi Rukmini)
YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta telah mendata sebanyak 205 titik lokasi di Kota Yogyakarta akan melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriyah.
Ratusan titik itu berada di masjid, tanah lapang, hingga halaman lembaga pendidikan di seluruh wilayah Kota Pelajar.
Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta, Ahmad Shidiq, mengungkapkan, dari jumlah tersebut sebanyak 153 titik di antaranya telah menentukan pelaksanaan Salat Idulfitri mengikuti keputusan Muhammadiyah, pada Jumat (20/3/2026). Sedangkan 52 titik lokasi lainnya masih menunggu keputusan dari pemerintah.
“Jadi dari 205 lokasi tempat pelaksanaan Salat Idulfitri, 153 lokasi sudah menentukan akan melaksanakan pada Jumat (20/3/2026) besok dan 52 lokasi masih menunggu pemerintah,” ucapnya.
Ahmad menjelaskan, keputusan pemerintah terkait penetapan 1 Syawal atau pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriyah akan diumumkan setelah sidang Isbat. Adapun, gelaran sidang Isbat bakal diselenggarakan pada Kamis (19/3/2026).
“Sidang Isbat nantinya akan melihat sejauh mana hasil pengamatan hilal atau bulan yang tersebar di wilayah Indonesia. Pemerintah dalam menentukan awal bulan Syawal menggunakan metode hisab dan rukyah,” katanya.
Dikatakan metode yang digunakan pemerintah untuk memastikan awal Syawal sudah sesuai dengan kesepakatan Menteri Agama di empat negara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Dia menyebut, apabila pada 19 Maret 2026 ketinggian bulan yang bisa dilihat dari ujung timur sampai barat Indonesia tertinggi di angka 2 derajat 51 detik dan elongasinya 6 derajat 9 detik. Maka kemungkinan dengan ketinggian tersebut hilal belum bisa dilihat secara visual.
“Akan tetapi kami masih tetap menunggu hasil rujukan atau hasil pemeriksaan secara langsung besok (19/3/2026) di 100 titik wilayah Indonesia. Nanti masing-masing titik akan menyampaikan laporannya,” jelas dia.
Lebih lanjut, Ahmad menyampaikan bahwa momen Hari Raya Idulftri bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi.
Oleh karena itu, Kementerian Agama Kota Yogyakarta mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu menjaga ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama anak bangsa.
Agar bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain dalam melaksanakan hari raya masing-masing.
“Jika nanti perbedaan ketentuan 1 Syawal mungkin terjadi di sekitar kita, mohon agar seluruh masyarakat tetap mengedepankan ukhuwah Islamiyah, bisa menghormati perbedaan dalam menentukan 1 Syawal. Sehingga harmonisasi kerukunan di masyarakat, khususnya di wilayah Kota Yogyakarta bisa diwujudkan bersama,” harapnya.
Pihaknya juga meminta masjid-masjid membuka akses 24 jam dan menyiapkan fasilitas berupa toilet, tempat istirahat, dan makanan atau minuman kepada pemudik. Demi mendukung mobilitas arus mudik Lebaran 2026, terutama masjid-masjid yang berada di wilayah jalur mudik.
“Di Kota Yogyakarta sendiri kami data sudah ada 9 masjid yang siap memfasilitasi para pengunjung atau pemudik,” pungkasnya. (Populi.id/Dewi Rukmini)











