YOGYAKARTA, POPULI.ID – Momentum lebaran kerap kali dimanfaatkan bagi para perantau untuk mudik ke kampung halaman.
Namun, tidak semua orang berkesempatan mudik pada momen Lebaran 2026. Sejumlah orang terpaksa tidak mudik Lebaran karena harus tetap berangkat kerja, menghindari kemacetan, maupun alasan ekonomi.
Satu di antaranya yang tak mudik saat momen Lebaran 2026 adalah Arif Mujiyo (23). Warga Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah itu tidak bisa pulang kampung karena harus tetap masuk kerja sebagai pegawai minimarket. Bahkan pada Hari Raya Idulfitri, dia tidak libur dan tetap masuk kerja setelah menunaikan Salat Ied.
“Ya lebaran kemarin saya tidak mudik karena tidak libur. Rasanya sedih tidak bisa kumpul keluarga tapi mau bagaimana lagi,” kata Arif kepada Populi.id, Rabu (25/3/2026).
Dia mengaku sudah tiga tahun terakhir tidak pernah mudik lebaran karena alasan yang sama. Meski sedih tapi Arif menyadari hal itu sudah menjadi kewajiban dan bentuk tanggung jawab yang harus diemban.
“Mungkin besok saat saya libur baru pulang ke Cilacap. Walaupun cuma libur sehari tapi saya cuman ingin pulang ketemu orang tua,” ujarnya.
Perantau lainnya, Husnul Khotimah (23), juga memilih tidak mudik ke kampung halamannya di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Lebaran 2026. Husnul sekeluarga mengaku sudah dua tahun tidak mudik saat Lebaran.
“Kemarin saya sekeluarga tidak mudik karena perjalanannya macet. Mungkin habis Lebaran selesai baru kami mudik,” katanya.
Dia menuturkan biasanya naik travel untuk pulang kampung ke Banyuwangi. Dikatakan, harga tiket travel bisa mencapai Rp400-an ribu saat momen libur Lebaran.
Sementara itu, seorang pedagang telur gulung, Santoso (57), memilih tidak mudik Lebaran karena alasan ekonomi. Warga asal Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu merasakan penurunan omzet penjualan selama puasa sehingga memilih tidak pulang kampung.
“Karena keponakan saya banyak, jadi harus ngasih THR. Daripada mengecewakan keponakan, mendingan (lebih baik) saya tidak pulang saja,” ucap dia.
Santoso mengatakan biasanya mangkal berjualan berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia mengaku bisa mengantongi penghasilan kotor sekitar Rp200 ribu sehari.
Akan tetapi, penjualannya mengalami penurunan omzet selama bulan Ramadan. Sebab, banyak sekolah libur sehingga dia kehilangan pelanggan tetap.
“Tahun ini ekonomi terasa berat, penjualan saya menurun. Apalagi saat puasa hanya dapat Rp100 ribu sehari, itu belum dipotong modal dan paling sisanya cuma bisa untuk makan,” tuturnya.
Diapun berharap perekonomian ke depan bisa menjadi lebih baik dan penjualannya lancar. (populi.id/Dewi Rukmini)












