YOGYAKARTA, POPULI.ID – Harga plastik kemasan di Kota Yogyakarta mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga plastik saat ini dikatakan mencapai 100 persen atau dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Seorang karyawan toko plastik di Pasar Kranggan, Agus (35) mengatakan bahwa lonjakan harga plastik sudah terjadi sejak sebelum Lebaran. Kini, semua produk plastik mengalami kenaikan harga hingga 100 persen.
“Semuanya naik, bahkan bahan kemasan dari plastik juga naik (harganya). Kenaikan harga hampir dua kali lipat atau 100 persen. Pas puasa sudah mulai naik,” ucapnya kepada Populi.id, Selasa (7/4/2026).
Agus memaparkan, plastik kresek bening kecil yang sebelumnya dijual Rp6.700, kini melonjak menjadi Rp11.700. Harga plastik kresek hitam juga naik dari Rp2.500 menjadi Rp4.800.
Begitu juga dengan cup plastik minuman yang mengalami kenaikan harga hampir dua kali lipat. Sebelumnya, cup minuman dibanderol Rp9.800 per slop isi 50 buah, kini dijual Rp13.300. Wadah plastik kotak ukuran 500 ml juga mengalami kenaikan harga dari Rp26.600 menjadi Rp31.900 per pack isi 25 buah.
“Kalau respon pembeli sering mengeluh ‘kok harganya naik’. Tapi mereka tetap beli dan menyesuaikan belanjaan. Karena kan plastik sudah jadi kebutuhan untuk membungkus barang-barang ya,” ujarnya.
Kondisi lonjakan harga produk plastik juga terjadi di Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta. Danik (46), pedagang plastik di Pasar Beringharjo mengatakan bahwa kenaikan harga plastik terjadi secara bertahap sejak awal Maret 2026.
Di tokonya pun sudah menaikkan harga plastik sebanyak empat kali dalam waktu sebulan terakhir.
“Naiknya harga tidak sama, ada yang 50 persen dan 100 persen. Kayak plastik kresek bening merek Pandu sebelumnya Rp28.500, sekarang Rp51.000 itu isi lima pack ukuran 1 kg, 3 kg, dan 5 kg,” ungkap dia.
Selain plastik kresek, Danik menyebut harga sedotan dan cup minuman juga ikut naik. Sebelumnya, harga sedotan Rp8.000 per pack, kini naik menjadi Rp11.000. Cup minuman yang awalnya dijual Rp8.000, sekarang dibanderol Rp12.000 per peck isi 50 buah.
“Karena harganya naik semua, banyak yang tidak jadi beli. Tapi kalau untuk kebutuhan setiap hari seperti jualan es itu pedagang tetap beli. Namun mengurangi belanjaan, mungkin yang biasa beli satu ikat sekarang milih mengecer,” paparnya.
Kondisi tersebut dikatakan berdampak terhadap penurunan penjualan kuantiti produk. Meskipun secara value penjualan meningkat karena ada kenaikan harga produk, namun Danik mengaku pusing menghadapi keluhan para pembeli.
Kendati demikian, ia memastikan bahwa stok produk plastik masih dalam kondisi aman. Menurutnya, harga plastik belum stabil karena pabrik belum banyak pengiriman barang ke toko.
“Kemarin informasi dari toko pusat di Jakarta, kenaikan harga karena bahan pokok biji plastik dari Arab. Nah imbas perang dan ditutupnya Selat Hormuz jadi bahan baku dari sana terkendala untuk dikirim ke sini,” katanya.
“Harapan kami semoga harga-harga kembali seperti semula,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)











