YOGYAKARTA, POPULI.ID – Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, berkunjung ke Stasiun Yogyakarta, Kota Yogyakarta, pada Rabu (8/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Dominic sempat melakukan diskusi tertutup dengan Perwakilan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Mangkubumi, Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, serta EVP Daop 6 Yogyakarta, Bambang Respationo.
Pantauan Populi.id, rombongan Dubes Inggris Dominic Jermey sampai di Stasiun Yogyakarta sekitar pukul 11.29 WIB. Kedatangan rombongan Dubes Dominic disambut langsung oleh EVP Daop 6 Yogyakarta, Bambang Respationo.
Setelah menghadiri pertemuan tertutup dengan Puteri Sulung Keraton Yogyakarta, Dominic dan rombongan meninjau kondisi peron Stasiun Yogyakarta.
Dubes Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, mengatakan suatu kehormatan bisa kembali berada di Yogyakarta. Dia mengaku cukup mengenal Yogyakarta karena pernah belajar Bahasa Indonesia di Kota Pelajar tersebut.
Dominic juga merasa terhormat dapat bertemu Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi untuk memperkuat kolaborasi antara Inggris dan Yogyakarta, mulai dari aksi iklim hingga pendidikan. Sebagai bagian dari kemitraan strategi Inggris-Indonesia yang diluncurkan awal tahun ini oleh Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.
“Tujuan saya di sini adalah untuk mempererat hubungan antara Inggris dan Yogyakarta. Lalu ada beberapa proyek Inggris di Yogyakarta seperti kajian pengembangan transit-oriented development (TOD) dan land value capture. Serta mendukung The Duke of Edinburgh’s Award and Young People’s Collaboration,” ungkap Dominic kepada awak media, Rabu (8/4/2026).
Dominic menuturkan bahwa kemitraan strategi Inggris-Indonesia di Yogyakarta telah menunjukkan hasil nyata. Dikatakan, melalui kemitraan Melaju tersebut, Inggris mendukung transisi menuju siatem mobilitas perkotaaan yang rendah karbon dan terintegritas.
Dukungan itu mencakup penyusunan panduan implementasi Transit-Oriented Development dan Land Value Capture, serta bantuan teknis yang diperlukan untuk meletakkan dasar perencanaan emobility yang inklusif.
“Di luar mobilitas rendah karbon, kami juga turut mendukung upaya ketahanan iklim serta inisiatif berbasis masyarakat. Mulai dari pengelolaan sampah sirkular di Bantul hingga kehutanan sosial dan ekowisata di Kulon Progo,” paparnya.
“Prinsip inklusivitas menjadi inti pendekatan kami, termasuk melalui aksi iklim yang responsif gender serta memastikan sistem transportasi dapat melayani seluruh lapisan masyarakat,” tambahnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendukung pengembangan pemuda di bawah pilar People and Society dalam Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia. Pihaknya bakal menyerahkan Piagam Emas Duke of Edinburgh’s International Award kepada 62 pemuda-pemudi Indonesia yang sangat inspiratif di Pondok Pesantren Pabalan Magelang dan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
“Inggris berkomitmen untuk terua memperdalam kerja sama dengan Yogyakarta dan wilayah sekitarnya. Demi masa depan yang lebih bersih, inklusif, dan sejahtera,” pungkasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












