YOGYAKARTA, POPULI.ID – Viral di media sosial sebuah unggahan yang menuding sejumlah orang Indonesia ketahuan melakukan manipulasi riset dalam konferensi International untuk para ahli pneumonia di Kopenhagen, Denmark.
Unggahan akun @mandharabrasika dan @w.o.d.d itu menuding dua peneliti asal Indonesia melakukan manipulasi dengan memalsukan identitas dan menggunakan AI (artificial intelligence atau kecerdasan buatan) dalam riset.
“Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu, dibuat dengan AI dan atau fabrikadi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat, padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga,” tulis unggahan tersebut.
Lokasi riset juga dinilai tidak masuk akal. Sebab, lokasi riset berada di luar negeri antara lain Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Banhladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malavi, dan India Utata. Namun perisetnya semua orang Indonesia, tanpa kolaborator setempat, dan keterangan persetujuan etik.
“Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang bisa membuat mereka keluar negeri gratis. Gratis karena yang bayar mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia,” tulisnya.
Adapun dua peneliti yang dituding melakukan manipulasi riset itu adalah alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka juga mencantumkan nama instansi Fakultas Biologi UNY dalam risetnya.
Pihak UNY pun buka suara terkait dugaan manipulasi riset yang dilakukan oleh alumninya. Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof Nur Hidayanto, mengatakan saat ini sedang melakukan penelusuran dan klarifikasi terhadap informasi yang beredar di media sosial. Sebab, hingga kini belum ada laporan resmi yang masuk ke universitas.
“Kami masih memproses isu tersebut. Karena istilahnya belum ada laporan resmi ke kami, yang ada kan baru di media sosial itu. Jadi kami baru melakukan penelusuran dengan tim,” ungkap Nur, Kamis (28/5/2026).
Berdasarkan informasi yang beredar, nama dua peneliti yang diduga melakukan manipulasi riset itu adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini. Keduanya diduga merupakan alumni dari UNY.
Terkait hal itu, Nur membenarkan bahwa nama dua orang itu tercatat sebagai alumni di database kampus UNY. Kendati demikian, pihaknya masih melakukan konfirmasi kepada yang bersangkutan untuk memastikan kesesuaian identitas yang dimaksud di media sosial.
“Atas dua nama itu, kami melakukan penelusuran memang benar sebagai alumni. Tapi informasinya masih kami dalami dulu. Kami tabayun klatifikasikan dulu ke yang bersangkutan,” katanya.
Nur mengungkapkan, berdasarkan database dua nama alumni tersebut tercatat sebagai lulusan S1 Matematika. Mereka dikatakan sudah lulus sekitar 10 tahun lalu.
“Kalau nama berdua itu benar di database kami alumni 2018 dan 2017. Tapi sekali lagi, kami perlu cek benar tidak orangnya itu. Dua nama itu memang ada di database kami, tapi kami tidak tahu itu orangnya sama atau tidak,” jelas dia.
Dia menegaskan tidak ingin memperkeruh keadaan dan asal menuduh orang, sehingga perlu melakukan konfirmasi dan klatifikasi terlebih dahulu. Oleh karena itu, pihaknya belum bisa memastikan apakah akan ada sanksi kepada yang bersangkutan apabila dugaan manipulasi tersebut benar.
Menurutnya, sesuai aturan akademik ada beberapa tingkatan untuk pemberian sanksi terhadap pelanggaran. Akan tetapi, sanksi terhadap alumni berbeda kasus, sehingga biasanya dibawa ke komite etik apabila terbukti melakukan pelanggaran.
“Sekali lagi kami masih klarifikasi dan konfirmasi lagi. Kami berhati-hati supaya tidak ada masalah di kemudian hari. Supaya kami tidak menzalimi juga,” papar Nur.
Lebih lanjut, Nur menuturkan telah berhasil menghubungi Prihantini saat menelusuri kebenaran isu tersebut. Nur mengatakan bahwa Prihantini telah meminta maaf atas kegaduhan yang menyeret nama kampus. Dia juga menyebut ada miskomunikasi yang terjadi di beberapa pihak dan menyebar di media sosial dengan cepat.
“Kami menyatakan telah terjadi miskomunikasi di beberapa pihak dan menyebar di media sosial dengan cepat tanpa adanya konfirmasi di pihak kami terlebih dahulu. Yang beredar di sosial media tidak semuanya benar. Kami sedang menyusun klarifikasi penjelasan di media sosial,” ungkap Nur membacakan pesan Prihantini.
Sedangkan untuk Rifaldy Fajar, Nur menyampaikan pihak kampus belum berhasil menghubungi. Sehingga belum ada klarifikasi dari Rifaldy Fajar.











![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)
