JAKARTA, POPULI.ID – Kegiatan safari politik mantan presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di Provinsi Lampung baru-baru ini memicu sorotan di kalangan pengamat politik.
Langkah tersebut dinilai bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya sistematis untuk menjaga relevansi politik pasca jabatan serta mengirim pesan kuat kepada para pesaing politiknya melalui simbol-simbol adat.
Pengamat Komunikasi Politik dan Militer dari Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menyebut fenomena ini sebagai bentuk pos-presidensi politik.
Menurutnya, Jokowi tidak memilih untuk menjadi “begawan” atau negarawan yang menarik diri dari urusan politik praktis setelah masa jabatannya berakhir.
“Jokowi itu orang yang tidak memilih menjadi begawan, artinya belum selesai urusan politiknya, ambisi-ambisi politiknya masih sangat tinggi,” ujar Selamat dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, dikutip Rabu (1/7/2026).
Ia menambahkan bahwa safari ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Jokowi masih memiliki jaringan elit, birokrasi, hingga relawan yang solid.
Simbol Injak Kepala Kerbau
Salah satu momen yang paling disorot dalam kunjungan ke Lampung adalah prosesi adat di mana Jokowi menginjak kepala kerbau. Secara semiotika politik, Selamat menafsirkan tindakan ini sebagai pesan simbolis yang sangat tajam, terutama jika dikaitkan dengan hubungan Jokowi dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berlambang banteng.
“Jangan salahkan juga kalau publik punya persepsi bahwa Jokowi sedang menginjak bekas partai yang dulu membesarkannya,” kata Selamat.
Ia menjelaskan bahwa kerbau, sapi, dan banteng berada dalam satu rumpun satwa, sehingga tindakan tersebut dapat dibaca sebagai sebuah pesan tersendiri.
“Jadi kalau PDIP marah itu ya bagi saya wajar juga di dalam politik seperti itu, ini kan pesan symbol, jadi ini gajah posisinya di atas kerbau,” tambah Selamat.
Lebih lanjut, penggunaan simbol gajah yang identik dengan Lampung juga dimaknai sebagai upaya memposisikan diri sebagai kekuatan besar.
“Gajah di Lampung itu lebih hebat daripada banteng. Pesan mengenai kesinambungan kepemimpinan atau kekuatan politik, ‘Gue raksasa politik, gue besar loh, bukan semut politik tapi gajah politik’,” jelasnya.
Mempersiapkan Jalan untuk Gibran 2029
Selain masalah simbolisme, safari politik ini juga dinilai erat kaitannya dengan upaya memperkuat posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan masa depan politik putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka. Mengingat Gibran tidak memiliki basis partai politik yang kuat, Jokowi dianggap sedang turun tangan langsung untuk memastikan keberlanjutan dinasti politiknya di kancah elit nasional.
“Safari politik Jokowi ini pasti juga terkait dengan Gibran. Bagaimana anaknya ini tetap berada di kancah elit nasional,” ungkap Selamat.
Ia bahkan memprediksi bahwa langkah ini adalah bagian dari kampanye terselubung untuk Gibran menghadapi kontestasi 2029, baik sebagai calon presiden maupun wakil presiden kembali.
Strategi Offensive Defense
Di sisi lain, Selamat Ginting melihat adanya strategi offensive defense dalam komunikasi politik Jokowi. Dengan terus melakukan aktivitas publik yang masif, Jokowi dinilai berusaha mengalihkan narasi negatif, seperti isu ijazah dan kritik ekonomi, menjadi narasi dukungan massa.
“Ini upaya mengendalikan narasi media, dari isu ijazah menjadi safari politik. Dia ingin menunjukkan legitimasi politiknya masih kuat kepada publik dan mengurangi persepsi bahwa dirinya sedang terdesak,” pungkasnya.








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



