JAKARTA, POPULI.ID – Dinamika politik Indonesia pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mulai menunjukkan pergeseran dalam hubungan antara mantan Presiden Joko Widodo dan presiden terpilih Prabowo Subianto. Pengamat politik, Rocky Gerung, menilai bahwa kemesraan politik yang selama ini terlihat mulai retak, seiring dengan langkah Prabowo yang kian menunjukkan kemandirian strategis.
Menurut Rocky, secara kalkulasi politik praktis, Prabowo Subianto kini berada di titik di mana ia tidak lagi memiliki ketergantungan pada sosok Jokowi. Seluruh instrumen kemenangan yang sebelumnya dipinjam dari pengaruh Jokowi dianggap telah sepenuhnya berpindah tangan.
Rocky menyoroti bagaimana strategi kampanye “Gemoy” yang identik dengan gaya politik Jokowi telah berhasil mengantarkan Prabowo ke kursi kepemimpinan. Namun, setelah kemenangan diraih, formula tersebut dianggap sudah kadaluwarsa bagi sang Jenderal.
“Prabowo tiga kali ikut Pemilu jadi singa, jadi macan, kalah. Satu kali Prabowo jadi gemoy, malah menang dia,” ujar Rocky dalam sebuah siniar di kanal YouTube Total Politik, dikutip Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan bahwa keberhasilan itu menandakan Prabowo telah berhasil melakukan “akuisisi” energi politik dari Jokowi.
“Winning strategy-nya adalah winning strateginya Jokowi. Nah, sekarang Pak Prabowo sepertinya tidak memakai lagi itu the winning strategy karena dia sudah serap sepenuhnya the winning energy dari Jokowi,” tegas Rocky.
Rocky berpendapat bahwa efektivitas Jokowi di panggung politik justru menurun setelah ia mulai terlalu sering tampil secara terbuka untuk mengamankan kepentingan kelompok kecilnya, seperti usahanya membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal ini berbanding terbalik dengan Prabowo yang mulai bermain di ranah elit internasional tanpa perlu berkonsultasi dengan “mentor” lamanya.
Saat ditanya apakah Prabowo masih membutuhkan Jokowi, Rocky menjawab dengan lugas.
“Enggak butuhlah. Buat apa butuhnya Pak Prabowo pada Jokowi? Ya butuh secara persahabatan mungkin, tapi secara politik kan enggak butuh apa-apa lagi,” ungkapnya.
Rocky menilai Jokowi menjadi tidak efektif lagi karena gerakannya terlalu terlihat di permukaan.
Salah satu sinyal kuat kemandirian Prabowo adalah keberaniannya menjalin komunikasi kembali dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Rocky melihat ini sebagai tanda bahwa Prabowo sedang merumuskan “winning formula” baru untuk masa pemerintahannya ke depan, yang mungkin saja meninggalkan garis kebijakan Jokowi.
Pertemuan atau upaya komunikasi dengan Megawati dianggap sebagai langkah seorang “komandan” yang tidak ingin strateginya terbaca oleh lawan maupun kawan lama.
“Bagi seorang komandan itu satu kali dipakai strategi untuk satu jenis perang tertentu, enggak mungkin diulang strateginya. Kalau diulang kebaca dong sama lawan,” jelas Rocky.
Rocky juga mengamati bagaimana Prabowo mulai memposisikan diri sebagai pemain utama di kancah global melalui komunikasi langsung dengan pemimpin dunia seperti Donald Trump, Xi Jinping, hingga Vladimir Putin. Langkah-langkah ini dilakukan secara mandiri, yang menurut Rocky, sulit diikuti oleh kapasitas politik Jokowi saat ini.
Lebih jauh, Rocky menduga Prabowo ingin mengembalikan identitas politiknya yang berakar pada sejarah, mungkin dengan menghidupkan kembali semangat Asia-Afrika atau gagasan sosialisme yang lebih ideologis. Dalam pandangan Rocky, Prabowo sedang bersiap meninggalkan era Jokowi untuk masuk ke era Prabowo yang lebih berdaulat secara politik dan strategis.












