YOGYAKARTA, POPULI.ID – Sejumlah pedagang perlengkapan sekolah di Kota Yogyakarta mengaku belum merasakan lonjakan pembeli menjelang dimulainya tahun ajaran baru. Bahkan, omzet penjualan disebut mengalami penurunan hingga hampir 50 persen dibandingkan beberapa tahun lalu.
Salah satu pedagang perlengkapan sekolah di Jalan Ibu Ruswo, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Abidin, mengatakan kondisi tersebut telah dirasakan sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Hingga kini, penjualan belum kembali seperti sebelumnya.
“Hampir separuh turun dibandingkan musim menjelang ajaran baru dulu. Apalagi kalau hari-hari biasa, bisa untuk mencukupi kebutuhan rumah saja sudah bersyukur,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurut Abidin yang juga pelopor penjual seragam di wilayah tersebut, pada musim penerimaan siswa baru sebelumnya ia masih mampu meraih omzet harian sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Namun kini, penjualan jauh lebih sepi.
“Biasanya antara Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per hari. Ini dari buka jam 08.00 WIB saja belum ada pembeli yang masuk,” katanya.
Ia menilai penurunan penjualan dipengaruhi sejumlah faktor. Selain daya beli masyarakat yang melemah, banyak sekolah kini menyediakan atau menjual seragam secara langsung kepada siswa sehingga mengurangi pembelian di toko.
Di sisi lain, kondisi ekonomi membuat banyak orang tua lebih mengutamakan harga dibanding kualitas. Konsumen cenderung memilih seragam dengan harga lebih murah meski kualitas bahannya lebih rendah.
Untuk mempertahankan usahanya, Abidin tidak hanya mengandalkan penjualan seragam sekolah. Ia juga menerima berbagai jasa jahit agar operasional toko tetap berjalan.
“Saya ini freelance. Apa yang bisa saya kerjakan ya saya kerjakan. Kalau pilih-pilih pekerjaan, tidak dapat uang. Selama bisa saya kerjakan, saya kerjakan,” tuturnya.
Meski penjualan daring semakin berkembang, Abidin menilai tren tersebut juga mulai melambat. Ia tetap memilih mempertahankan penjualan secara konvensional karena yakin kualitas barang dapat dilihat langsung oleh pembeli.
“Kalau online, kualitas barang yang ditawarkan sering tidak sama dengan yang diterima. Banyak yang katanya bahannya bagus, tapi setelah datang ternyata kualitasnya jauh berbeda. Itu yang membuat penjualan online sekarang juga mengalami penurunan,” ujarnya.
Sementara itu, Rika, warga Wates, Kabupaten Kulon Progo, mengaku tetap memilih berbelanja perlengkapan sekolah di kawasan Gondomanan meski harus menempuh perjalanan cukup jauh.
Ia membeli seragam merah putih dan pramuka untuk dua anaknya yang akan masuk SD dan SMP. Menurutnya, pilihan perlengkapan sekolah di Yogyakarta jauh lebih lengkap dibandingkan di daerah asalnya.
“Kalau belanja di sini lebih lengkap. Mulai dari seragam, topi, dasi sampai ikat pinggang semuanya ada dalam satu kawasan. Di Kulon Progo belum selengkap ini, jadi setiap kebutuhan sekolah saya ke sini,” katanya.
Rika mengaku lebih mengutamakan kualitas bahan saat membeli seragam. Ia memilih bahan yang tebal, tidak panas, dan nyaman dikenakan anak-anak saat beraktivitas di sekolah.
“Saya pilih bahannya yang tidak panas, adem, dan nyaman dipakai anak. Kalau belanja di sini lebih puas karena pilihannya banyak,” ujarnya.
Ia juga mengakui harga seragam sekolah tahun ini mengalami kenaikan. Namun, menurutnya hal tersebut masih wajar karena dipengaruhi meningkatnya harga bahan baku.
“Pasti ada kenaikan harga. Bahan bakunya juga naik, jadi harga seragam ikut menyesuaikan. Memang sudah kami perkirakan dari awal,” katanya. (populi.id/Hadid Pangestu)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



