SLEMAN, POPULI.ID – Tingkat hunian hotel di Kabupaten Sleman mengalami lonjakan signifikan selama penyelenggaraan sejumlah agenda berskala besar. Dua event, yakni Prambanan Jazz dan Jogja Mandiri Marathon, disebut menjadi pendorong utama meningkatnya okupansi hotel hingga mendekati penuh.
Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman, Andhu Pakerti, mengatakan tingkat hunian hotel anggota PHRI mencapai hampir 100 persen saat penyelenggaraan Prambanan Jazz pada akhir Juni 2026. Sementara itu, saat Jogja Mandiri Marathon yang digelar sepekan sebelumnya, okupansi berada di kisaran 80–90 persen.
“Kalau liburan sekolah kemarin dan weekend dua minggu terakhir, saat Prambanan Jazz hotel anggota kami penuh. Seminggu sebelumnya saat Mandiri Marathon juga okupansinya sangat tinggi,” kata Andhu kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, tingginya tingkat hunian tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan event hiburan maupun olahraga masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke Sleman.
Meski demikian, Andhu menilai kondisi ekonomi masyarakat saat ini mulai memengaruhi pola perjalanan wisata. Banyak wisatawan yang memilih datang tanpa menginap atau memanfaatkan tempat tinggal kerabat maupun penginapan alternatif.
“Antara mereka lebih memilih perjalanan singkat tanpa bermalam, menginap di rumah teman, rumah saudara, atau guest house. Itu berkaitan dengan kondisi ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, tren tersebut diperkirakan masih akan berlanjut selama tekanan ekonomi belum mereda.
“Kita lihat sampai sekarang nilai dolar belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Kebutuhan pokok naik, sementara pengeluaran untuk hiburan pasti menjadi yang pertama dipangkas,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Kus Endarto, mengatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan melalui berbagai strategi promosi, seperti table top dan travel dialog yang melibatkan pengelola destinasi wisata, pelaku usaha oleh-oleh, hingga penyelenggara event.
“Optimalisasi kami lakukan melalui table top dan travel dialog. Kami mengajak pengelola destinasi, toko oleh-oleh, hingga penyelenggara event agar bisa menawarkan paket wisata yang lebih menarik,” katanya.
Kus menjelaskan, wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi di berbagai daerah. Karena itu, penyelenggaraan event menjadi pembeda yang mampu menarik wisatawan datang ke Sleman.
“Pariwisata tidak hanya ditopang destinasi, tetapi juga event. Ketika event dipromosikan dengan baik dan destinasi juga dikenal, travel agent akan lebih mudah menawarkan paket wisata ke Sleman,” ujarnya.
Dalam forum promosi tersebut, Dispar Sleman juga mempertemukan travel agent dengan pengelola destinasi wisata agar dapat menyusun paket wisata dengan harga yang kompetitif.
“Kami membawa profil pariwisata Sleman, mulai dari desa wisata, candi, museum, hingga destinasi lainnya. Travel agent bisa langsung berkoordinasi dengan pengelola untuk mendapatkan penawaran terbaik,” katanya.
Menurut Kus, tingkat okupansi hotel di Yogyakarta, khususnya Sleman, sangat dipengaruhi oleh keberadaan event. Sebab, destinasi wisata di berbagai daerah kini memiliki daya tarik yang relatif serupa sehingga wisatawan lebih mempertimbangkan agenda atau kegiatan yang sedang berlangsung.
“Kalau destinasi, banyak daerah punya. Yang membedakan adalah event. Event menjadi mesin penggerak pariwisata,” tegasnya.
Ia menambahkan, Dispar Sleman juga memanfaatkan penyelenggaraan event di kabupaten lain di DIY sebagai peluang untuk meningkatkan tingkat hunian hotel di Sleman.
“Prinsip kami, silakan menikmati event di mana pun, baik di Kota Yogyakarta, Bantul, maupun Gunungkidul. Yang penting wisatawan tetap menginap di Sleman,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)







![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



