POPULI.ID – Ajang ASEAN Championship atau Piala AFF 2026 akan menjadi panggung pembuktian bagi pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman. Pengamat sepak bola, Mohamad Kusnaeni atau yang akrab disapa Bung Kusnaeni, menegaskan bahwa turnamen ini merupakan momentum krusial bagi Herdman untuk memenangkan kepercayaan publik sepak bola tanah air.
Menurut Kusnaeni, meskipun Herdman sudah memimpin dalam beberapa laga uji coba, Piala AFF adalah standar ukuran kesuksesan bagi seorang pelatih di mata pendukung Indonesia. Gelar juara dipandang sebagai sebuah “quick win” dalam proses transformasi Timnas agar Herdman mendapatkan dukungan penuh seperti pendahulunya.
“Herdman ini baru di level meyakinkan sebagian besar pendukung timnas bahwa dia orang yang tepat. Jadi ukuran dia nanti bahwa dia betul-betul dipercaya itu ketika stadion penuh, memberikan dukungan kepada timnas,” ujarnya di kanal YouTube Blind Spot by Bung Kusnaeni, dikutip Sabtu (18/7/2026).
Persiapan Timnas Indonesia menghadapi kendala serius karena turnamen ini tidak masuk dalam kalender resmi FIFA. Akibatnya, banyak pemain pilar yang berkarier di luar negeri tidak bisa dipanggil, termasuk penyerang andalan Ole Romeny. Kusnaeni menyebut absennya Ole sebagai pekerjaan rumah (PR) besar bagi lini serang Indonesia.
“Salah satu yang paling PR itu ketika kita di depan enggak bisa bawa Ole Romeny. Soalnya di banyak pertandingan, kita golnya dari Ole terus,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ketidakhadiran Ole memaksa Herdman melakukan latihan intensif di Bali yang berfokus pada penyelesaian akhir (finishing) dan penciptaan peluang di area pertahanan lawan.
Di tengah absennya beberapa pemain kunci, kehadiran Matthew Baker yang baru saja menjadi WNI diharapkan menjadi pembeda. Kusnaeni menilai Baker memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan Ole Romeny, yakni sebagai seorang target man murni.
“Baker ini benar-benar tipikal targetman. Dia kuat dalam bola atas, finishing, dan dia lebih banyak nunggu di area kotak penalti,” ungkapnya.
Herdman pun kini tengah mencoba meracik strategi agar para pemain sayap seperti Yakob Sayuri atau Egi Maulana dapat memberikan pasokan bola matang bagi Baker.
Untuk mengatasi masalah kekompakan dalam waktu singkat, Kusnaeni melihat adanya potensi Herdman menggunakan kerangka tim dari klub-klub besar Super Legue seperti Persib Bandung dan Persija Jakarta. Dari 50 pemain yang dipanggil untuk dalam pemusatan latihan, mayoritas berasal dari klub-klub papan atas tersebut.
“Lebih mudah kalau dia (Herdman) bangun kerangka dengan minjam dari kerangka tim yang sudah ada. Sebagian besar adalah pemain yang latar belakangnya dari Persib, sebagian dari Persija juga,” tuturnya.
Peningkatan level permainan Indonesia berkat kehadiran pemain diaspora kini telah menjadikan skuad Garuda sebagai tim yang paling diwaspadai di Asia Tenggara. Kusnaeni menyebut Indonesia kini berada di level “musuh bersama” bagi negara-negara tetangga seperti Vietnam, Kamboja, dan Singapura.
“Sekarang Indonesia itu yang dianggap sebagai ‘musuh bersama’. Vietnam takut sama kita, Kamboja takut sama kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa negara-negara lain mulai terinspirasi oleh langkah Indonesia dalam melakukan naturalisasi pemain untuk mengejar ketertinggalan.
Kusnaeni menekankan bahwa setelah enam kali menjadi runner-up, target Indonesia kali ini tidak boleh lagi hanya sekadar masuk final atau menjadikan ajang ini sebagai batu loncatan.
“Kali ini kita harus bisa lebih baik lagi, jangan cuma masuk final, saatnya kita juara,” pungkasnya.







![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



