JAKARTA, POPULI.ID – Penunjukan tokoh publik ke dalam jajaran pemerintahan era Presiden Prabowo Subianto terus menjadi sorotan.
Terbaru dan menarik perhatian adalah penetapan anak dari budayawan Emha Ainuin Najib atau Cak Nun yakni Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto, sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Pemerintah menegaskan bahwa langkah tersebut diambil bukan demi mengejar popularitas semata.
Noe Letto resmi dilantik oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 15 Januari 2025 sebagai Tenaga Ahli Madya.
Meski publik mengenalnya sebagai musisi dan putra Cak Nun, Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan bahwa pemilihannya didasarkan pada kompetensi, rekam jejak, dan kebutuhan kelembagaan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan dalam dinamika pertahanan modern, DPN memerlukan masukan dari bidang non-militer, seperti sosial, kebudayaan, dan komunikasi strategis.
“Pengangkatan Noe Letto sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) tidak didasarkan pada popularitas atau latar belakang sebagai figur publik,”tapi pada kompetensi, rekam jejak, serta kebutuhan kelembagaan pertahanan,” tutur Rico beberapa waktu lalu.
Kapasitas pemikiran Noe yang lintas disiplin diharapkan mampu memperkaya kajian dan rekomendasi kebijakan strategis pertahanan nasional.
Penunjukan tersebut dilakukan melalui mekanisme rekrutmen khusus yang profesional, tanpa melihat latar belakang keluarga atau faktor non-institusional lainnya.
Penunjukan Noe Letto menambah daftar panjang tokoh publik yang dipercaya mengemban jabatan strategis, baik sebagai Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus, maupun Tenaga Ahli.
Sebelum Noe Letto, pesulap dan YouTuber Deddy Corbuzier telah lebih dulu ditunjuk sebagai Staf Khusus Menteri Pertahanan untuk mendorong inovasi dan kebijakan yang memperkokoh kedaulatan negara.
Berikut ini adalah deretan figur publik lainnya yang mengisi posisi penting:
Utusan Khusus Presiden:
Posisi ini dibentuk untuk memperlancar tugas presiden di luar struktur kementerian.
Figur yang mengisi posisi ini antara lain Raffi Ahmad (Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni) dan Zita Anjani (Bidang Pariwisata).
Sebelumnya, Gus Miftah juga menjabat sebagai Utusan Khusus Bidang Kerukunan Beragama sebelum akhirnya mengundurkan diri pada Desember 2024.
Staf Khusus Presiden dan Menteri:
Yovie Widianto menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif untuk membantu akselerasi pemberdayaan sektor tersebut.
Sementara di Kementerian Komunikasi dan Digital, Raline Shah ditunjuk sebagai Staf Khusus Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital guna memperkuat jaringan internasional dan edukasi masyarakat.
Alasan Penunjukan
Pemerintah beralasan ada kebijakan strategis di balik tren penunjukan para tokoh publik tersebut sebagai bagian dari pemerintahan.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, misalnya, menyatakan bahwa kementerian yang dipimpinnya butuh perspektif pekerja seni untuk memberikan warna baru dan memperkaya ide-ide dalam menjalankan program pemerintah.
“Kami membutuhkan perspektif orang-orang seni untuk mewarnai kementerian ini. Kami selalu yakin perspektif yang kaya akan menjadikan kami menjadi kaya dalam menjalankan ide-idenya,” kata Meutya.
Sementara Kepala Biro Humas Setjen Kemhan, Brigjen TNI Frega Wenas, mengatakan pihaknya menujuk Deddy Corbuzier sebagai staf khusus karena memiliki pengaruh luas di media.
“Termasuk media sosial dan keahliannya dalam komunikasi publik,” ucap Frega.
Secara keseluruhan, pelibatan figur publik ini diarahkan untuk membawa inovasi, mempercepat akselerasi program ekonomi kreatif, hingga memperkuat komunikasi strategis pemerintah di mata publik maupun dunia global.
Dengan latar belakang profesional masing-masing, kehadiran mereka diharapkan pemerintah dapat memberikan kontribusi nyata bagi negara.









