• Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Biaya Hidup di DIY Tertinggi Kedua di Indonesia, Pakar UMY: Penetapan Upah Perlu Dievaluasi

Menurut data BPS tahun 2024, DIY masuk dalam daerah dengan biaya hidup tinggi. DIY masuk dalam urutan kedua

byredaksi
January 29, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi uang

Ilustrasi uang. [pexels/Ahsanjaya]

0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

BANTUL, POPULI.ID – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menjadi sorotan di media sosial setelah beredar unggahan yang menyebutkan wilayah berjuluk Kota Pelajar tersebut menempati posisi kedua sebagai satu di antara daerah dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia.

Padahal upah minimum di Provinsi DIY justru masih berada pada level rendah. Unggahan tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024.

BERITA MENARIK LAINNYA

Gerakan Anak Cinta Masjid Tanamkan Nilai Bakti ke Orang Tua Lewat Program Pro-Bahagia

Mulai 15 Maret 2026, KAI Daop 6 Menambah 1 Lagi KA Tambahan Solo Balapan-Gambir PP

Berdasarkan data upah minimum tahun 2025, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih berada dalam jajaran provinsi dengan upah minimum terendah secara nasional.

Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta tercatat sekitar Rp2,8 juta per bulan. Angka ini terpaut cukup jauh dibandingkan kota-kota besar lain di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, maupun Semarang.

Pakar Ekonomi Pembangunan Wilayah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dessy Rachmawatie menilai kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan antara kebijakan pengupahan dan biaya hidup yang dihadapi masyarakat.

“UMK Kota Yogyakarta yang tertinggi di DIY saja masih sangat jauh di bawah Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya. Padahal, jika dilihat dari sisi biaya hidup, pengeluaran masyarakat relatif hampir sama dengan kota-kota tersebut,” ujar Dessy dilansir dari laman UMY, Kamis (29/1/2026).

Menurutnya, ketimpangan tersebut menjadi persoalan serius ketika dikaitkan dengan daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Kenaikan upah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dinilai belum mampu mengimbangi kenaikan harga kebutuhan pokok, perumahan, serta biaya hidup lainnya, khususnya di kawasan perkotaan.

Dessy juga menyoroti dampak kondisi ini terhadap tingkat kemiskinan di Yogyakarta. Berdasarkan data BPS DIY tahun 2024, angka kemiskinan di DIY berada pada kisaran 10,40 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada pada angka 8,57 persen. Secara absolut, jumlah penduduk miskin di DIY mencapai sekitar 430 ribu orang.

“Walaupun secara persentase kemiskinan menunjukkan tren penurunan, jumlah absolut penduduk miskin di DIY masih cukup besar dan berada di atas rata-rata nasional. Ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah, terutama jika dikaitkan dengan kebijakan upah minimum yang belum sepenuhnya mencerminkan kondisi faktual masyarakat,” terangnya.

Oleh karena itu, Dessy menegaskan sudah saatnya kebijakan penetapan upah minimum di Yogyakarta dievaluasi secara menyeluruh.

Menurutnya, kebijakan pengupahan tidak dapat hanya didasarkan pada pertimbangan daya tahan usaha, tetapi juga harus terintegrasi dengan struktur biaya hidup lokal.

“Kebijakan upah minimum selama ini lebih banyak mempertimbangkan faktor makro seperti daya tahan usaha dan iklim investasi. Namun faktanya, biaya hidup di Yogyakarta sudah tinggi, sementara upah minimum masih rendah. Artinya, kebijakan ini perlu dikaji ulang agar lebih selaras dengan kondisi riil masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah mampu menemukan titik temu antara menjaga iklim usaha dan memastikan kesejahteraan pekerja. Dengan demikian, Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata, tetapi juga sebagai kota yang mampu menjamin kelayakan hidup warganya secara ekonomi.

Tags: biaya hidupDessy RachmawatieDIYevaluasipengupahanUMYupah minimumYogyakarta

Related Posts

Gerakan Anak Cinta Masjid Tanamkan Nilai Bakti ke Orang Tua Lewat Program Pro-Bahagia

Gerakan Anak Cinta Masjid Tanamkan Nilai Bakti ke Orang Tua Lewat Program Pro-Bahagia

March 15, 2026
Mulai 15 Maret 2026, KAI Daop 6 Menambah 1 Lagi KA Tambahan Solo Balapan-Gambir PP

Mulai 15 Maret 2026, KAI Daop 6 Menambah 1 Lagi KA Tambahan Solo Balapan-Gambir PP

March 15, 2026
Kantor BPD DIY Wirobrajan terbakar Kamis malam (12/3/2026). (Polresta Yogyakarta)

Kronologi Kebakaran di Bank BPD DIY Wirobrajan, Data dan Dana Nasabah Dipastikan Aman

March 13, 2026
2 Pemuda dan Balita di Mantrijeron Jadi Korban Ledakan Petasan

2 Pemuda dan Balita di Mantrijeron Jadi Korban Ledakan Petasan

March 11, 2026
PT Taru Martani, satu di antara BUMD milik Pemda DIY

Deretan Skandal PT Taru Martani, Dari Korupsi Belasan Miliar hingga Tudingan Pemberangusan Serikat Pekerja

March 12, 2026
Aktivitas Mudik Lebaran Mulai Terasa di Terminal Giwangan

Aktivitas Mudik Lebaran Mulai Terasa di Terminal Giwangan

March 10, 2026
Next Post
Jop van der Avert saat membela klub K-League 2, Cheongju FC.

PSIM Yogyakarta Dikaitkan dengan Bek Belanda Jop van der Avert, Begini Respons Van Gastel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.