SURAKARTA, POPULI.ID – Sidang lanjutan gugatan Citizen Lawsuit (CLS) terkait ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menghadirkan fakta-fakta menarik melalui kesaksian rekan satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Jokowi di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam sidang di Pengadilan Negeri Surakarta pada Selasa (3/2/2026), dua rekan kelompok KKN Jokowi dihadirkan sebagai saksi. Mereka adalah Rince Dwi Wijaja dan Yohana Irmas Sudarwati. Keduanya memaparkan memori mereka saat bersama sosok yang mereka panggil “Jack” di Desa Ketoyan pada tahun 1985.
Berikut adalah poin-poin penting dan pernyataan para saksi yang terungkap di persidangan:
1. Formasi Kelompok KKN Desa Ketoyan
Saksi Rince mengonfirmasi bahwa kelompok KKN mereka di Desa Ketoyan, Boyolali, terdiri dari empat orang dari fakultas berbeda:
- Joko Widodo (Fakultas Kehutanan).
- Rince Dwi Wijaja (Fakultas Biologi).
- Yohana Irmas Sudarwati (Fakultas Hukum).
- Eko Susilo Adi Utomo (Fakultas Teknik Geodesi), yang telah meninggal dunia pada tahun 2018.
Rince menjelaskan bahwa Jokowi bertindak sebagai Koordinator Desa (Kordes) dalam kelompok tersebut.
2. Panggilan Akrab “Jack” dan Kehidupan di Desa
Di lokasi KKN, Jokowi rupanya memiliki panggilan akrab. “Di desa kami, kami memanggilnya sebagai Jack,” ujar Yohana di persidangan.
Selama kurang lebih tiga bulan (Maret-Juni 1985), mereka tinggal di rumah Kepala Desa Ketoyan saat itu, Abdul Wahab alias Pak Jentu.
Saksi Yohana menceritakan kondisi desa yang saat itu belum masuk aliran listrik PLN. Namun, keluarga Pak Jentu memiliki generator (genset) yang digunakan secara terbatas.
“Setiap malam Minggu itu selalu ada nobar (nonton bareng) film dari TVRI,” kenang Yohana mengenai hiburan warga saat itu.
3. Program Kerja Fisik dan Sosial
Selama tiga bulan di desa, para saksi mengungkapkan bahwa Jokowi dan Eko Susilo lebih banyak fokus pada program fisik seperti pembuatan plang nama desa dan perbaikan jamban.
Sementara anggota kelompok perempuan melakukan kegiatan non-fisik seperti penyuluhan kesehatan, gizi, hukum, hingga membimbing anak-anak desa belajar di sore hari.
4. Kontroversi Foto Ijazah dan Kacamata
Salah satu poin krusial dalam persidangan adalah perbedaan ciri fisik Jokowi di masa kuliah dengan foto yang ada pada ijazah. Kedua saksi menegaskan bahwa saat KKN, Jokowi tidak menggunakan kacamata.
Pernyataan mengejutkan datang dari Yohana saat diperlihatkan foto ijazah yang menggunakan kacamata.
“Tidak mengenal orang itu,” cetus Yohana saat diminta mengonfirmasi foto tersebut.
Ia menyatakan hanya mengenali sosok Jokowi yang tidak memakai kacamata dengan rambut yang cenderung panjang atau gondrong.
5. Perdebatan Waktu Pelaksanaan KKN
Kuasa hukum penggugat sempat mencecar saksi mengenai waktu KKN yang jatuh pada bulan Maret hingga Juni (Semester Genap). Sementara buku panduan UGM umumnya mencatat KKN di Semester Ganjil.
Menanggapi hal ini, Rince menjelaskan adanya kebijakan internal fakultas.
“Di fakultas saya itu ada kebijakan, seseorang yang mengikuti KKN itu harus sudah menyelesaikan semua SKS yang bersifat perkuliahan teori dan praktikum,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pada tahap itu mahasiswa biasanya hanya tinggal menyelesaikan KKN dan skripsi.
6. Tanggapan Mengenai Keaslian Ijazah
Meskipun menjadi saksi fakta yang menguatkan keberadaan Jokowi sebagai mahasiswa UGM, para saksi mengaku tidak pernah melihat ijazah asli Jokowi secara langsung.
Rince menyatakan rasa prihatinnya atas polemik yang berlarut-larut ini. Terkait pernyataan Rektorat UGM yang menjamin keaslian ijazah tersebut, ia berkomentar, “Apa yang saya ketahui adalah pernyataan dari Bu Rektor yang mengatakan bahwa ijazah Pak Jokowi itu asli”.
Namun ia menegaskan kembali tidak pernah memegang atau memfoto dokumen yang dimaksud.
7. Putus Komunikasi Pasca Kuliah
Para saksi mengakui bahwa setelah KKN berakhir pada Juni 1985 dan mereka lulus pada 1986, komunikasi dengan Jokowi terputus sepenuhnya.
Rince sempat saling mengirim foto kegiatan KKN melalui pos pada akhir 1985, namun setelah itu tidak ada lagi hubungan komunikasi. Mereka baru menyadari bahwa rekan KKN mereka telah menjadi tokoh nasional melalui pemberitaan di media massa.












