JAKARTA, POPULI.ID – Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menggaungkan gerakan “Gentengisasi”, sebuah usulan untuk mengganti atap seng dengan genteng di seluruh Indonesia.
Langkah ini merupakan bagian dari visi Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), di mana Prabowo menilai atap seng tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga tidak nyaman karena panas dan mudah berkarat.
Baginya, karat adalah lambang degenerasi, sementara genteng dianggap merepresentasikan karakter arsitektur Nusantara yang khas dan berdaulat.
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia,” ujar Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Bermula dari Krisis Kesehatan
Meskipun saat ini genteng dianggap sebagai simbol keindahan bangunan, kehadirannya di Indonesia memiliki sejarah yang cukup kelam.
Sebelum abad ke-20, masyarakat Nusantara umumnya menggunakan bahan alami seperti daun rumbia, ijuk, atau bambu sebagai atap rumah.
Penggunaan genteng tanah liat secara masif baru dimulai pada masa kolonial Belanda, dipicu oleh wabah penyakit pes yang menyerang pada tahun 1920-an.
Hasil penelitian tim kesehatan Belanda saat itu menyimpulkan bahwa tikus-tikus pembawa penyakit bersarang di atap rumbia milik warga.
Sebagai solusinya, pemerintah Hindia Belanda mendorong pembuatan genteng tanah liat untuk mengganti atap rumbia demi menghentikan penularan wabah tersebut.
Secara global, teknologi genteng diperkirakan berasal dari Tiongkok sekitar 10.000 SM, sebelum akhirnya menyebar ke Timur Tengah, Eropa, dan dibawa oleh bangsa Belanda ke Indonesia.
Mengapa Genteng Tanah Liat?
Selain sejarahnya yang panjang, genteng tanah liat memiliki keunggulan fungsional yang luar biasa. Menurut Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), genteng tanah liat memungkinkan “bangunan bernapas” karena sifat bahannya yang berpori.
Hal ini memberikan kenyamanan termal, menjaga rumah tetap sejuk, dan mengurangi ketergantungan pada AC, sehingga lebih efisien energi dan ramah lingkungan. Selain itu, genteng membantu menurunkan efek Urban Heat Island di perkotaan karena tidak memantulkan panas secara agresif.
“Bahan dasar tanah liat yang dibakar menghasilkan genteng yang berpori dan tanggap terhadap kelembapan. Dalam konteks krisis energi dan perubahan iklim, kenyamanan termal alami yang dihasilkan oleh genteng tanah liat menjadi nilai yang sangat penting,” ujar Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto.
Jenama dan Sentra Genteng Legendaris di Indonesia
Dalam perkembangannya, beberapa daerah di Indonesia muncul sebagai produsen genteng ternama yang kualitasnya diakui secara nasional bahkan internasional.
1. Genteng Sokka (Kebumen)
Nama Sokka sudah sangat melegenda di telinga masyarakat Indonesia. Nama ini sebenarnya diambil dari nama sebuah stasiun kereta api di Kebumen, Jawa Tengah. Sentra produksinya berada di Desa Kedawung, di mana tanah liatnya dikenal memiliki kualitas tinggi. Salah satu jenama paling terkemuka adalah AB Sokka, yang pabriknya didirikan oleh H. Ahmad.
Kehebatan genteng Sokka terbukti saat produk mereka terpilih untuk menyuplai material pembangunan Masjid Istiqlal pada tahun 1955 dan menjadi pilihan utama proyek-proyek pemerintah pada era Orde Baru.
2. Genteng Jatiwangi (Majalengka)
Kecamatan Jatiwangi di Majalengka dikenal sebagai pusat genteng yang mulai berkembang sejak tahun 1905. Tokoh perintisnya adalah H. Umar bin Ma’rup dan Barmawi, yang awalnya membuat genteng untuk atap Masjid Al Maidah. Masa kejayaan Jatiwangi terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an, di mana produk mereka diekspor ke Malaysia dan Brunei Darussalam, bahkan digunakan sebagai atap salah satu terminal di Bandara Soekarno-Hatta. Masyarakat setempat menyebut pabrik genteng dengan istilah “Jebor”.
3. Genteng Mayong (Jepara)
Di Jepara, sentra genteng berada di Desa Mayong Lor. Sejarah pembuatan genteng di sini sangat tua, bahkan dikaitkan dengan masa pemerintahan Kerajaan Demak dan tradisi pembuatan gerabah yang diturunkan sejak zaman Ratu Kalinyamat.
Evolusi dan Tantangan Masa Kini
Seiring berjalannya waktu, jenis genteng di Indonesia terus berevolusi. Selain tanah liat, kini tersedia berbagai varian lain seperti:
* Genteng Beton: Muncul di pertengahan abad ke-20, lebih kuat dengan variasi warna yang beragam.
* Genteng Keramik: Pengembangan genteng tanah liat dengan lapisan glasir yang tahan lumut dan terlihat elegan.
* Genteng Metal: Populer karena bobotnya yang ringan dan mudah dipasang.
* Genteng Solar Panel: Inovasi modern yang mampu mengubah sinar matahari menjadi energi listrik.
Namun, industri genteng lokal saat ini menghadapi tantangan besar. Popularitasnya mulai menurun akibat berkurangnya lahan tanah liat berkualitas, mahalnya kayu bakar untuk pembakaran, serta minimnya tenaga kerja muda yang mau meneruskan profesi ini. Melalui gerakan “Gentengisasi” yang diusulkan pemerintah, diharapkan industri genteng lokal dapat bangkit kembali dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.












