SLEMAN, POPULI.ID – Kondisi sulit tengah dialami para perajin genteng di Sleman akibat semakin terbatasnya sumber bahan baku.
Alih fungsi lahan menjadi kawasan perumahan membuat tanah lempung yang selama ini menjadi bahan utama genteng kian susah didapat.
Situasi tersebut dirasakan langsung oleh Sunardi (62), perajin genteng sokka asal Padukuhan Kwagon, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean, Sleman, DIY. Ia menyebut, tren penurunan ketersediaan bahan baku sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Paling sudah tiga tahunan ini bahan baku susah. Wilayah yang selama ini menjadi pemasok bahan baku sebagian besar sudah jadi perumahan,” kata Sunardi saat ditemui, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, tanah dari pegunungan di wilayah Godean yang dulu menjadi andalan kini hampir habis.
Kondisi itu memaksa sebagian perajin genteng di sekitarnya beralih profesi menjadi pembuat batu bata yang dinilai lebih fleksibel dalam hal bahan baku.
“Kayak gunung sekitar sini sudah digusur. Banyak dibangun perumahan sekarang. Banyak yang sudah ganti jualan batu bata,” ujarnya.
Sunardi menjelaskan, bahan baku genteng membutuhkan kualitas tanah tertentu. Tanah lempung biasanya diambil dari sekitar wilayah Godean, bantaran Kali Progo, sawah, kebun, atau gumuk yang lebih tinggi. Namun tidak semua tanah cocok untuk genteng.
“Kalau batu bata, bahan asal tanah bisa jadi. Tapi kalau genteng, kalau kurang bagus ya pecah. Belum dijemur saja sudah pada pecah,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, ia mengaku hanya mampu memproduksi paling banyak sekitar 300 buah genteng dalam satu kali proses. Dari sisi kualitas, genteng produksinya berada di kelas menengah.
“Kalau kualitas ini masih menengah. Yang lebih bagus mungkin Kebumen, soalnya di sana mengandung pasir besi jadi lebih kuat,” katanya.
Soal pemasaran, Sunardi menyebut permintaan biasanya meningkat saat ada program bedah rumah atau proyek tertentu. Namun, pada bulan puasa penjualan cenderung sepi. Dalam enam bulan terakhir, aktivitas produksi kembali sedikit ramai meski terkendala cuaca.
“Ini baru rame lagi setengah tahun ini. Tapi kalau hujan ya susah keringnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses produksi genteng tergolong melelahkan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Omzet pun tidak menentu karena bergantung pada siklus produksi.
“Kalau omzet enggak tentu, Mas. Saya kan satu kali bakar. Biasanya dua minggu baru bisa bakar, dijemur dulu, ditumpuk, baru dibakar,” ungkap Sunardi.
Untuk biaya produksi, ia mengaku harus mengeluarkan Rp220 ribu per rit tanah. Dalam satu kali pembakaran, ia membutuhkan sekitar 13 hingga 15 rit tanah.
“Ini semua beli tanahnya. Satu rit Rp220 ribu. Kalau dua kali bakar ya tinggal dikalikan saja,” katanya.
Sambut Baik Gentengisasi Presiden Prabowo
Terkait rencana program Gentengisasi yang digaungkan Presiden Prabowo, Sunardi menyambut baik kebijakan tersebut. Menurutnya, penggunaan genteng lebih tahan lama dibandingkan bahan atap lain seperti seng atau galvalum.
“Kalau buat perajin ya bagus. Seng sama galvalum itu bisa karatan, kalau genteng enggak. Selama enggak pecah ya aman,” tuturnya.
Ia berharap, jika program tersebut benar-benar direalisasikan, dapat memberi angin segar bagi para perajin genteng yang kini jumlahnya semakin sedikit, khususnya di wilayah Sleman. (populi.id/Hadid Pangestu)



![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)








