JAKARTA, POPULI.ID – Said Didu membeberkan detail mengejutkan mengenai pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Diketahui, Said Didu bersama sejumlah tokoh yang dianggap oposisi diudang bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara, Jumat (30/1/2026) lalu.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam lebih sejak pukul 17.00 WIB tersebut, sejumlah tokoh termasuk Said Didu mendiskusikan banyak hal mengenai isu terkini bersama Prabowo.
1. Kebocoran Anggaran
Mantan staf khusus Menteri Energi dan Sumber Daya pada 2014 tersebut mengungkapkan di antara isu yang dibicarakan yakni mengenai “perampokan negara” yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Melalui obrolan bersama Akbar Faizal di channel YouTube Akbar Faizal Uncencored, Said Didu mengaku sempat terkejut lantaran Presiden Prabowo memaparkan sendiri data mengenai kebocoran anggaran dan praktik ilegal di berbagai sektor.
“Bayangkan presiden mempresentasikan sendiri tentang perampokan negara. Berapa besar yang dirampok, siapa perampoknya, dan apa yang akan dilakukan terhadap para perampok,” ujar Said Didu.
Satu di antara poin yang paling menonjol adalah praktik under-invoicing (pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya) yang diperkirakan mencapai 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp15.000 triliun selama 30 tahun terakhir.
“Presiden sangat marah saat memaparkan data tersebut, termasuk temuan mengenai judi online senilai 12 miliar dolar AS serta penyimpangan di BUMN,” ungkapnya.
Said Didu menyatakan bahwa Presiden telah mengidentifikasi nama-nama pelaku dan koordinator di balik praktik tersebut, yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh yang sangat kaya.
2. To Kill or To Be Killed
Dalam pertemuan itu, Said Didu mengaku sempat memberikan peringatan keras kepada Presiden.
Ia menyatakan bahwa Prabowo kini berada di posisi “to kill or be killed” (membunuh atau dibunuh) karena berani menyentuh kepentingan oligarki yang sudah sangat kuat.
Said Didu menilai bahwa jika Presiden tidak menuntaskan masalah tersebut dengan cepat, pihak oligarki dapat berbalik menggulingkan kekuasaannya.
“Bapak sekarang sudah masuk di titik to kill or be killed, dibunuh atau membunuh. Karena dari tujuh presiden, sekarang Bapak Presiden kedelapan yang berani menyentuh oligarki baru Bapak,” ungkapnya kepada Prabowo.
Ia mendefinisikan oligarki dalam konteks tersebut sebagai pengusaha yang mendikte kekuasaan dan penegak hukum demi kepentingan bisnis mereka, termasuk penguasaan terhadap sumber daya alam dan wilayah melalui perubahan undang-undang yang kilat.
3. Reformasi Polri
Disamping itu, Said Didu mengungkap, selain menyinggung soal kebocoran anggaran dan pergerakan kaum oligarki, Prabowo juga mendedahkan persoalan reformasi Polri.
“Terkait institusi kepolisian, Presiden Prabowo disebut sedang menyiapkan langkah perbaikan menyeluruh dan tidak ingin melakukan penyelesaian yang bersifat “tambal sulam”,” terangnya.
Presiden bahkan sempat melontarkan pertanyaan mengenai apakah Polri sebaiknya berada di bawah kementerian atau langsung di bawah Presiden.
4. Ultimatum Kepala OJK
Selain itu, Said Didu menceritakan momen saat Presiden memberikan ultimatum kepada Kepala OJK untuk mengundurkan diri sebelum pukul 18.00 WIB pada hari pertemuan mereka.
“Langkah ini diambil karena Presiden tidak ingin Bursa Efek Jakarta terus dimanfaatkan untuk merampok uang rakyat,” beber Said Didu.
5. Jokowi dan Gibran
Tak ketinggalan, dalam pertemuan itu, Prabowo juga sempat menyinggung mengenai dinamika Politik dengan Jokowi dan Gibran.
Said Didu menyebut, menurut analisisnya berdasarkan diskusi malam itu, Prabowo tidak berada di bawah bayang-bayang Jokowi.
“Berdasarkan “clue” dalam pertemuan tersebut, keputusan Prabowo mengambil Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden bukan karena keinginan murni, melainkan karena situasi yang “terpaksa” atau dipaksa oleh keadaan politik saat itu,” jelasnya.
Lebih jauh, Said Didu menegaskan meski telah diundang ke Istana dan diajak berdiskusi, sikapnya bersama kolega untuk menjadi oposisi tak berubah.
Ia menyatakan lebih bermanfaat menjadi “mobil di luar” daripada menjadi “sekrup di dalam” sistem pemerintahan.
“Saya lebih jauh bermanfaat ada di luar daripada saya di dalam. Saya 30 tahun di dalam itu saya jadi sekrup. Kalau di luar saya bisa jadi mobil,” tegas Said Didu.
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Said Didu dan tokoh oposisi lainnya pertama kali diungkap oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menambahkan, pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh di antaranya ada peneliti senior BRIN, Siti Zuhro, mantan Kabareskrim Susno Duadji hingga mantan Ketua KPK Abraham Samad.
“Macam-macam di situ ada banyak, diskusi juga mengenai berbagai hal, semisal Profesor Siti Zuhro memaparkan mengenai persoalan kepemiluan, kemudian bersama Pak Susno dan Pak Samad mengenai penegakan hukum hingga pemberantasan korupsi,” terangnya.












