YOGYAKARTA, POPULI.ID – Puluhan anak mengikuti Pesantren Ramadan Beradab, Bahagiakan Orang Tua (Pro-Bahagia), sebuah kegiatan religi yang diinisiasi oleh takmir Masjid Al-Ikhlas Karangsari Kulon, Kotagede, Kota Yogyakarta.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Gerakan Anak Cinta Masjid (GACM) dan dilaksanakan oleh Remaja Islam Masjid Al Ikhlas (Rismail) yang diselenggarakan selama dua hari satu malam, Sabtu–Minggu, 14–15 Maret 2026 di Masjid Al Ikhlas.
GACM dipelopori oleh pasangan suami istri Hj. Ninoek Sriyani dan H. Moch Arif Toto Rahardjo, yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan akhlak anak melalui kegiatan berbasis masjid.
Sedangkan Rismail, selama ini berperan aktif dalam mendampingi serta membimbing anak-anak dalam berbagai kegiatan pembinaan keislaman di masjid.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari
upaya pembinaan karakter anak melalui kegiatan masjid dengan menanamkan nilai birrul walidain, yaitu berbakti kepada orang tua,”ujar Hj. Ninoek Sriyani, Minggu (15/3/2026).
Dijelaskan, pesantren Ramadan Pro-Bahagia 1447 H dirancang sebagai kegiatan pembinaan intensif yang memadukan ibadah, pembelajaran Al-Qur’an, pendidikan akhlak, serta aktivitas kebersamaan.
Pada hari pertama (Sabtu, 14 Maret 2026) kegiatan dimulai dengan registrasi peserta dan pembagian kelompok, dilanjutkan dengan pembukaan resmi, tilawah Al-Qur’an, serta sambutan pembina kegiatan.
“Selanjutnya peserta mengikuti materi tentang birrul walidain melalui pemutaran video edukatif yang menggambarkan pentingnya menghormati dan membahagiakan orang tua,” jelasnya.
Lantas, menjelang waktu Maghrib, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama, dilanjutkan peserta melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, makan malam bersama, serta penyampaian kontrak belajar dan tata tertib kegiatan.
Malam harinya peserta melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan kajian parenting bagi para orang tua. Kegiatan malam dilanjutkan dengan murajaah, tadabbur, dan tadarus Al-Qur’an secara berkelompok, dengan fokus pada Surat Al-Isra ayat 23–24 yang menegaskan kewajiban seorang anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
“Salah satu sesi yang paling dinanti peserta adalah “Kak Ari Berkisah”, yang dibawakan langsung oleh Kak Ari Berkisah. Dalam sesi ini, Kak Ari menyampaikan kisah-kisah inspiratif tentang keteladanan Nabi, akhlak mulia, serta pentingnya menghormati orang tua,” tuturnya.
Di hari ke-2, kegiatan dimulai sejak dini hari dengan shalat tahajud berjamaah dan sahur bersama. Setelah itu peserta melaksanakan shalat Subuh berjamaah, kajian Subuh bertema parenting dan pembentukan karakter anak. Memasuki pagi hari peserta mengikuti olahraga bersama, kemudian melanjutkan kegiatan murajaah Al-Qur’an serta penyelesaian tugas kelompok dan individu yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari.
“Sebagai penutup kegiatan, peserta mengikuti lomba cerdas cermat antar kelompok yang menguji pemahaman mereka terhadap materi Al-Qur’an dan nilai akhlak yang telah dipelajari
selama pesantren Ramadan, peserta terbaik berhak atas hadiah,” sebutnya.
Ia menandaskan, bahwa pendidikan akhlak anak merupakan fondasi penting bagi masa depan generasi muda.
Anak-anak yang dibiasakan mencintai masjid, menghormati orang tua, dan memahami nilai Islam sejak kecil akan tumbuh menjadi generasi yang kuat secara moral.
“Anak yang saleh adalah investasi akhirat bagi orang tua,” sambungnya.
Moch Arif Toto Rahardjo, yang juga Pembina Gerakan Anak Cinta Masjid, menyampaikan bahwa masjid harus menjadi pusat pembinaan generasi muda. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat membangun karakter anak-anak.
“Melalui program Pro-Bahagia ini, kami ingin menjadikan masjid sebagai ruang pendidikan akhlak yang menyenangkan bagi generasi muda,” tutur Toto.
Kak Ari Berkisah menambahkan bahwa pendidikan akhlak anak perlu disampaikan dengan metode yang menyenangkan dan mudah dipahami. Menurutnya, anak-anak belajar paling efektif melalui cerita, keteladanan, dan pengalaman langsung.
“Jika masjid bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka, maka kecintaan kepada masjid, Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam akan tumbuh dengan sendirinya,” ungkap pria yang bernama asli Ari Prabowo ini.
Ari berharap kegiatan Pro-Bahagia 1447 H dapat terus dilaksanakan setiap Ramadan sebagai bagian dari gerakan membangun generasi muda yang beriman, berakhlak mulia
dan mencintai masjid sejak dini.











