POPULI.ID – Sepak bola Belanda saat ini sedang diguncang oleh isu administratif serius yang dikenal sebagai “Paspor-gate”. Bukan soal strategi di lapangan hijau, melainkan polemik mengenai legalitas identitas pemain yang kini menjadi bola liar di kompetisi Eredivisie dan Eerste Divisie. Skandal ini secara langsung menyeret beberapa nama besar di Timnas Indonesia, seperti Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Tim Geypens, hingga Dean James.
Awal Mula Pemicu Krisis
Ketegangan ini bermula dari protes keras klub NAC Breda terhadap Go Ahead Eagles terkait status Dean James. NAC Breda mempertanyakan mengapa James didaftarkan sebagai pemain Uni Eropa (EU), padahal ia telah resmi membela Timnas Indonesia. Masalah ini kemudian merembet dan membuka kotak pandora yang lebih besar.
Pengamat sepak bola, Haris Pardede alias Bung Harpa, memberikan peringatan keras sejak awal. Ia menyentil kebiasaan pihak-pihak terkait yang cenderung abai sebelum masalah benar-benar meledak.
“Kebiasaan orang kita itu adalah nunggu kebakaran dulu baru panggil blambir (pemadam kebakaran). Jadi enggak dari awal dicermati dan diantisipasi,” ujar Bung Harpa dalam kanal YouTube miliknya, dikutip Senin (6/4/2026).
Konsekuensi Finansial: Aturan Gaji Rp12 Miliar
Inti dari masalah ini adalah benturan antara kewarganegaraan baru para pemain dengan regulasi ketat di Liga Belanda. Di Belanda, pemain non-Uni Eropa (non-EU) dilindungi oleh aturan gaji minimum yang sangat tinggi untuk melindungi pemain lokal.
Jika seorang pemain terdaftar sebagai pemain non-EU, klub wajib menggajinya minimal 600 ribu Euro per tahun (sekitar Rp 12 miliar). Bagi klub-klub dengan anggaran terbatas seperti Go Ahead Eagles, FC Emmen, atau Fortuna Sittard, angka ini hampir mustahil untuk dipenuhi.
Bung Harpa menegaskan betapa beratnya beban ini bagi klub menengah ke bawah.
“Kalau terdaftar sebagai pemain non-EU, konsekuensinya minimum gaji itu 600.000 Euro per tahun. Gampangnya itu hampir Rp 12 miliar per tahun, jadi Rp 1 miliar per bulan. Itu tinggi banget buat tim seperti FC Emmen atau Go Ahead Eagles,” jelasnya.
Ancaman “Sayonara” dari Eropa
Situasi ini menjadi semakin pelik karena Dinas Imigrasi dan Naturalisasi Belanda (IND) telah merilis daftar 25 pemain yang mengalami kendala izin kerja, termasuk Hubner, Nathan, dan Geypens. Jika klub tidak mampu membayar gaji standar non-EU atau kuota pemain asing mereka sudah penuh, para pemain ini berada di persimpangan jalan yang sulit.
Bung Harpa mengkhawatirkan skenario terburuk jika masalah ini tidak segera dicarikan solusinya, yaitu para pemain diaspora terpaksa meninggalkan Eropa dan kembali ke liga domestik Indonesia di usia emas mereka.
“Kemungkinan ketiga adalah bye-bye, adios, sayonara. Mereka akan keluar dari Belanda. Kalau mereka semua kemudian berbondong-bondong ke Liga Indonesia di usia prime, akhirnya program naturalisasi ini menuju senja. Ini yang paling gue takutin,” kata Bung Harpa.
Posisi PSSI dan Jalan Keluar
Di sisi lain, PSSI melalui Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji, menegaskan bahwa secara hukum Indonesia, proses naturalisasi para pemain tersebut sudah sah dan tidak ada masalah hukum. Masalah ini murni merupakan kendala administratif di internal otoritas sepak bola dan imigrasi Belanda.
Meskipun PSSI menjamin legalitas mereka sebagai WNI, nasib karier mereka di Belanda kini bergantung pada apakah ada revisi aturan gaji bagi pemain non-EU atau upaya lobi administratif lainnya.
Paspor-gate bukan sekadar urusan dokumen, melainkan ujian nyata bagi masa depan proyek diaspora Timnas Indonesia. Tanpa langkah antisipatif, prestasi yang telah dibangun bisa terancam oleh tembok regulasi Eropa yang kaku.
“Mentalitas untuk mengantisipasi itu harus dikedepankan. Jangan nunggu ramai dulu baru kita teriak-teriak,â tegas Bung Harpa.











