YOGYAKARTA, POPULI.ID – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan arahan baru agar program makan bergizi gratis (MBG) difokuskan untuk anak kekurangan gizi dan keluarga kurang mampu.
Arahan tersebut dikeluarkan untuk memastikan bantuan tepat sasaran menyentuh anak-anak dengan keterbatasan gizi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut positif arahan Presiden Prabowo untuk mengalihkan fokus program MBG kepada anak-anak kurang gizi. Langkah itu dinilai strategis untuk mempercepat penurunan angka stunting di wilayah Kota Yogyakarta.
“Kami menyambut dengan sangat gembira jika fokusnya digeser. Harapan kami, kebijakan itu benar-benar menyasar ibu hamil dan balita karena angka penerimanya masih sangat kecil,” ucap Hasto di Balaikota, Rabu (15/4/2026).
Hasto mengungkapkan, berdasarkan data proporsi penerima manfaat program MBG di Kota Yogyakarta masih didominasi sektor pendidikan. Tercatat ada sebanyak 3.987 guru dan tenaga pendidikan yang telah menerima manfaat program MBG.
Namun, jika dibandingkan dengan kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita, cakupan penerima manfaat MBG masih tergolong rendah. Hasto menyebut di Kota Yogyakarta rata-rata per tahun ada sebanyak 1.600 ibu hamil dan 10.361 balita.
Akan tetapi, penerima manfaat program MBG untuk kategori ibu hamil baru 67 orang, 760 ibu menyusui, dan 695 balita.
“Jadi kalau ada kebijakan dari Presiden untuk digeser ke ibu hamil dan menyusui, saya kira itu bagus sekali,” ujarnya.
Menurutnya, pengalihan fokus itu akan sangat efektif secara biologis untuk mengejar target 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau periode emas pertumbuhan otak anak sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.
Di Kota Yogyakarta tercatat ada sebanyak 4.000 balita di bawah usia dua tahun (baduta) dari total 10.361 balita. Dia menjelaskan, intervensi gizi terhadap baduta dinilai lebih efisien karena masa pertumbuhan otak masih terbuka lebar sebelum ubun-ubun anak menutup sempurna.
“Jika anggaran terbatas, kita bisa selesaikan dulu yang 4.000 baduta ini. Karena jauh lebih strategis dan efisien dibandingkan memberikan bantuan kepada anak di atas 3 tahun yang secara biologis pertumbuhan ubun-ubun sudah menutup,” jelasnya.
Mantan Bupati Kulon Progo itu menyampaikan bahwa menu MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tidak harus makanan fresh (segar). Melainkan bisa diganti menu makanan yang mengandung DHA Omega 3. Pihaknya pun menyinggung best practice dari sejumlah negara maju semisal Amerika, Swedia, Eropa, dan Australia, yang memberikan paket makanan bergizi kepada para ibu hamil baik citizen maupun pendatang.
“Artinya perhatian pemerintah negara maju terhadap generasi penerus itu luar biasa. Sehingga kualitas SDM di negara maju kan bisa hebat-hebat. Karena menggunakan pendekatan biologi proses,” tutur dia.
Lebih lanjut, terkait potensi kendala operasional pendistribusian MBG untuk ibu hamil dan baduta, Hasto menyebut Pemerintah Kota Yogyakarta siap membantu. Mengingat Pemkot Yogyakarta memiliki 390 personel tim pendamping keluarga (TPK) dan 169 bidan serta tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah perkampungan.
“Jadi seandainya diperbolehkan untuk ikut membantu, kami punya tenaga untuk mengantar ke rumah ibu hamil dan balita,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












