YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM berkolaborasi dengan IBR Media Komunikasi Kreatif untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif di Kota Pelajar. Kolaborasi itu diimplementasikan dengan menghadirkan platform Jogja Spark The Hub Central di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta.
Platform tersebut mulai diperkenalkan kepada para perwakilan mahasiswa di Kota Yogyakarta dalam acara pre-introduction di PDIN Yogyakarta, pada Rabu (29/4/2026).
Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengapresiasi keberadaan Jogja Spark sebagai penghubung yang akan mengoneksikan talenta lokal dengan pasar global lebih luas.
“Ini adalah langkah bagus untuk mengoneksikan potensi yang ada di Kota Yogyakarat dengan Jogja Spark sebagai agregatornya. Kami ingin talenta-talenta muda di Kota Yogyakarta bisa memanfaatkan momentum itu untuk skill-up (tingkatkan kemampuan) agar bisa disalurkan serta bersaing di level nasional maupun pasar global,” ucap Wawan.
Menurutnya, wadah bagi talenta kreatif sangat dibutuhkan di Kota Yogyakarta. Lantaran, kekuatan utama Kota Yogyakarta terletak pada potensi kreatif sumber daya manusia (SDM) yang berakar dari budaya lokal dan pariwisata. Oleh karena itu, sinergitas lintas sektoral diperlukan untuk memastikan kompetensi talenta kreatif dan pengembangan potensi.
“Kami sangat mendukung agar program itu bisa berkelanjutan,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menjelaskan bahwa Jogja Spark hadir sebagai platform inkubasi untuk mendidik serta memberikan sertifikasi keahlian kepada mahasiswa hingga talenta kreatif.
“Jadi nanti talenta-talenta muda dari perguruan tinggi dan komunitas kreatif akan diinkubasi untuk mendapatkan sertifikasi keahlian. Dengan sertifikasi itu mereka siap bersaing di pasar global,” jelasnya.
Menurutnya, selama ini mahasiswa maupun talenta kreatif di Indonesia tidak kalah dalam hal pengetahuan dengan negara lain. Namun, kurang berkompetisi di pasar internasional karena belum memiliki sertifikasi sebagai pengakuan formal atas keahlian mereka.
“Ibaratnya di sini nglambeni (memakaikan pakaian) yang sudah kreatif dan keahliannya dipoles menyesuaikan kebutuhan. Harapannya dengan bekal selembar sertifikasi, para kreator bisa mewarnai sektor kreatif dunia,” tutur dia.
Sementara itu, Founder Jogja Spark, Imat Badruddin, mengungkapkan bahwa saat ini kunci yang dibutuhkan oleh talenta kreatif agar bisa bersaing di pasar internasional adalah skill bukan ijazah sarjana. Adapun skill tersebut harus dibuktikan dengan sertifikasi keahlian.
“Kunci daripada talent sekarang itu adalah skill, not degree, itu saya sudah buktikan. Kebanyakan mahasiswa di Indonesia fokus on getting the degree (mendapatkan gelar). Lulusan S1 paling pinter di kampus ternama tapi tidak punya keahlian, bagaimana mau laku (di dunia kerja),” katanya.
Sebagai Kota Pelajar, lanjut Imat, Kota Yogyakarta memiliki potensi melimpah mahasiswa dan talent kreatif yang sudah mempunyai kemampuan di bidang digital kreatif. Namun, keahlian mereka sebagian besar belum siap kerja (not yet industry ready), tidak punya akses ke pasar untuk mendapatkan project, atau portopolio lokal belum menyasar pasar global.
“Maka di Jogja Spark nanti kami menawarkan pelatihan dan pendampingan terstruktur, pasar bakat profesional, akses ke klien nasional serta internasional, pusat produksi kolaboratif, jalur pengembangan talenta dan jembatan karier, serta penyaluran kerja berbasis proyek dan jangka panjang,” sebutnya.
“Visi Jogja Spark bisa memposisikan Yogyakarta sebagai gerbang bakat kreatif dan digital Indonesia di dunia,” tambahnya.
Jogja Spark pun bakal membuka jalan bagi para talenta lokal ke pasar global melalui jejaring mereka yang berbasis di New York, Amerika Serikat, maupun melalui jaringan bisnis international hingga event global outsourcing expo. (populi.id/Dewi Rukmini)












