YOGYAKARTA, POPULI.ID – Alunan musik dari pelantang suara sederhana memecah keheningan di salah satu sudut Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, pada Selasa (14/7/2026). Di sebuah ruang kelas, beberapa remaja berbaju olahraga tampak bergerak malu-malu sambil menyanyikan lagu ‘Di mana Sekolahku Berada’ yang dipandu oleh seorang guru.
Meskipun malu-malu, namun mata belia mereka memancarkan sorotan penasaran terkait ilmu baru yang akan didapatkan selama masa Putih-Biru. Pagi itu adalah hari kedua mereka mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Baru di SMP Gotong Royong Kota Yogyakarta.
Berbeda dengan sekolah swasta lainnya, kondisi MPLS di SMP Gotong Royong cukup sunyi karena hanya diikuti beberapa siswa. Keceriaan gerak tubuh mereka pun tampak kontras dengan pemandangan sekolah yang berada tak jauh dari ikon Kota Yogyakarta atau Tugu Jogja.
Langkah kaki para siswa itu berpijak di atas lantai semen berdebu. Sejumlah bangku dan meja coklat usang terlihat digeser merapat ke dinding, memberi ruang agar tubuh-tubuh itu bisa bergerak bebas di tengah ruang kelas.
Dinding-dinding kelas dari sekolah yang sudah berdiri sejak 1982 itu kusam dimakan usia. Catnya yang memudar, mengelupas, hingga bercak jamur menjadi “hiasan” di berbagai sudut ruangan. Jika mendongak ke atas, pemandangan tak kalah memprihatinkan tersaji. Atap kelas menganga telanjang tanpa plafon, menyisakan kerangka kayu yang mulai melapuk.
Keberadaan sekolah satu atap SMP dan SMA Gotong Royong itu pun berada di lokasi yang tak biasa. Bangunannya berdiri bersandingan langsung tanpa pembatas dengan area pemakaman umum. Sementara di sisi lainnya, ruang-ruang kelas berjejer di tepian jurang berbentuk terasering.
Di tengah keterbatasan fisik yang ekstrem tersebut, SMP Gotong Royong justru menjelma menjadi oase terakhir bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang mendambakan bangku pendidikan. Di sana, tidak ada seleksi ketat dari isi dompet orang tua atau tingginya nilai di lembar lembar ijazah. Sebab, semuanya disambut dengan tangan terbuka dan pelukan hangat.
Salah satu binar harapan tampak tersorot dari mata Dianika Putri (14). Siswa baru kelas VII itu tampak tersenyum malu saat ditanya kesan pertama mengenakan seragam Putih-Biru.
“Saya merasa senang, hebat, dan happy,” ucapnya lirih.
Bagi Putri, bisa kembali memakai seragam sekolah adalah sebuah kemewahan yang sempat tertunda. Lantaran setahun lalu, langkahnya untuk mengenyam pendidikan SMP setelah lulus dari bangku SD sempat terhenti.
Impiannya untuk melanjutkan sekolah harus terganjal kenyataan pahit nilainya dianggap kurang untuk bersaing di sekolah negeri. Sementara, mendaftar ke sekolah swasta lain menuntut biaya yang tak sanggup ditanggung keluarganya. Mengingat, ayahnya hanya bekerja sebagai buruh serabutan, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa.
“Dulu sempat berhenti sekolah selama setahun saat usia 13 tahun. Karena nilainya kurang. Terus dikasih tahu kakak untuk daftar ke sini (SMP Gotong Royong). Dapat bantuan pakai PIP dan KMS,” ujarnya.
Kepala Sekolah SMP Gotong Royong, Ame Lita Br Tarigan Sibero, mengungkapkan bukan hanya Dianika Putri, namun hampir seluruh siswa di SMP dan SMA Gotong Royong berlatar belakang keluarga prasejahtera, anak yatim, korban perceraian, hingga anak yang tinggal dengan kakek atau neneknya. Bahkan ada siswa yang membutuhkan perhatian ekstra karena termasuk anak berkebutuhan khusus.
“Tahun ini kami menerima siswa baru SMP Kelas VII sebanyak tiga orang. Sebenarnya yang mengambil formulir ada lima orang tapi yang kembali (daftar ulang) baru tiga siswa,” ucap Lita.
Dia menyebut, total ada 15 siswa di SMP Gotong Royong, meliputi tiga anak Kelas VIi, empat siswa Kelas VIII, dan delapan murid Kelas IX. Sedangkan untuk jumlah siswa SMA Gotong Royong yang berada di satu atap sebanyak 21 anak. Di antaranya delapan siswa baru Kelas X, enam siswa Kelas XI, dan tujuh murid Kelas XII.
Lita tak menampik bahwa SMP dan SMA Gotong Royong memang kekurangan peminat. Perubahan zaman dan banyaknya sekolah swasta dengan mutu lebih baik serta sarana prasarana lengkap dikatakan lebih menarik bagi masyarakat berekonomi cukup.
Namun, bagi anak-anak yang memiliki kondisi ekonomi tidak stabil, tak memadai, bahkan hampir putus sekolah, SMP dan SMA Gotong Royong siap membantu.
“Genre kami sejak dulu memang membantu mereka yang kesulitan ekonomi. Kalau mereka mampu, pasti memilih sekolah yang sesuai keinginan dan ekonominya. Di sini, kasarnya seperti ‘bengkel’ sekolah. Anak-anak yang terkendala biaya atau punya masalah karakter, kami rangkul agar akhlak dan akademiknya bisa baik,” jelas dia.
Bergantung Uluran Tangan Donatur
Mengelola sekolah tanpa pungutan sepeser pun dari wali murid memaksa pihak sekolah memutar otak setiap hari. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan jaminan sosial seperti Program Indonesia Pintar (PIP) nyatanya jauh dari kata cukup untuk menutup biaya operasional ideal seorang siswa yang mencapai Rp3 juta per tahun.
Terlebih meski terletak di jantung Kota Yogyakarta, namun sebagian besar siswa berasal dari kabupaten tetangga. Hal itu, menjadi kendala bagi sekolah untuk mengakses BOS Daerah (BOSDA) yang mensyaratkan Kartu Keluarga (KK) Kota Yogyakarta.
Untuk menyiasati hal itu, Lita mengandalkan jaringan pertemanan lewat tradisi sambatan dan donatur swasta. Pihak sekolah kerap mengajukan proposal dadakan kepada para donatur untuk kebutuhan mendesak, semisal buku tulis, alat peraga, hingga perbaikan pompa air yang rusak.
Keterbatasan sarana prasarana pun begitu kentara saat musim ujian tiba. Karena tidak memiliki laboratorium komputer dan tak mampu menyewa perangkat daring yang memakan biaya Rp125.000 per hari, pihak sekolah memilih meminjam laptop pribadi milik para guru dan rekan-rekan dari sekolah lain.
“Dari sekolah hanya mempunyai dua laptop. Maka kalau jumlahnya anak sembilan untuk ujian, kami harus punya sepuluh perangkat (sembilan klien, satu host). Sementara ini kami masih pinjam dari guru-guru,” tuturnya.
Bantuan fisik pun minim menyentuh sekolah itu. Selama puluhan tahun, pemerintah dikatakan belum pernah menurunkan bantuan revitalisasi gedung karena prioritas anggaran kerap mendahulukan sekolah negeri.
Perbaikan fisik besar terakhir kali mereka rasakan sekitar tiga tahun lalu, itu pun berkat uluran tangan Paguyuban Tionghoa Jogja yang membantu memperbaiki atap. Padahal, kondisi atap dan pondasi bangunan yang dibangun sejak 1982 tersebut kini sudah masuk dalam kategori darurat.
Panggilan Jiwa Guru untuk Pelayanan
Di tengah seluruh keterbatasan itu, denyut nadi sekolah tetap berdetak berkat ketulusan 12 guru honorer yang mengajar satu atap di SMP dan SMA Gotong Royong. Tanpa adanya gaji tetap dari sekolah, para guru menyambung hidup dengan insentif bulanan dari pemerintah kota atau provinsi sebesar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu yang dicairkan per tiga bulan.
Beruntung, mayoritas guru telah lulus sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) sehingga nafkah utama mereka bersandar pada tunjangan profesi tersebut.
“Kalau ditanya secara matematika apakah guru sejahtera? Ya dilihat dari passion-nya di mana. Di sini panggilannya banyak pelayanan. Nek bati yo bati momong bocah (kalau untung ya untung bisa mengasuh anak-anak),” kata Ame dengan nada getir sekaligus bangga.
Dedikasi itu tidak sia-sia. Keterbatasan fasilitas terbukti tidak mengerdilkan potensi para siswa. Lantaran, beberapa alumni sekolah kini tersebar bekerja di sektor formal, diterima di SMK Negeri favorit, bahkan beberapa tahun lalu ada alumni SMA yang berhasil menembus seleksi masuk Sastra Arab Universitas Gajah Mada (UGM).
“Kondisi ekonomi di bawah tidak melabelkan bahwa mereka tidak cerdas. Tugas kami di sini hanya mengarahkan dan menjadi wadah. Selebihnya, kembali ke kepribadian dan tekad anak-anak itu sendiri,” pungkasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)


