YOGYAKARTA, POPULI.ID – Senin (13/7/2026) pagi itu, terik mentari belum sepenuhnya meninggi di atas langit Kota Yogyakarta. Namun, halaman SMPN 10 Yogyakarta sudah penuh energi baru dari ratusan pasang mata remaja yang berdiri tegak mengikuti upacara bendera.
Senin pagi itu cukup istimewa, karena menjadi hari pertama para siswa kembali ke sekolah setelah menjalani libur panjang semesteran. Bagi siswa baru Kelas VII, pagi itu menjadi langkah awal yang mendebarkan karena menjadi tanda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai.
Guratan cemas bercampur rona antusiasme jelas terlukis di wajah-wajah belia mereka. Ada rasa canggung yang menggelitik saat mereka harus menanggalkan seragam putih-merah dan mulai beradaptasi dengan seragam putih-biru.
Berbeda dengan masa orientasi cara lama yang sarat dengan atribut aneh dan tugas-tugas tak masuk akal. MPLS kali ini didorong lebih ramah pelajar dan menyenangkan, agar masa orientasi tak lagi menjadi momok menakutkan bagi para siswa baru.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengimbau seluruh pihak sekolah untuk mengubah paradigma lama terkait pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ia menegaskan bahwa MPLS tidak boleh lagi menjadi ajang perundungan (bullying) atau pembuktian senioritas, melainkan harus berfungsi sebagai wadah pencairan suasana (ice breaking) yang menyenangkan bagi siswa baru.
”Kadang-kadang kita sering salah mempersepsikan masa orientasi sekolah. Paradigma lama menganggap ajang ini untuk mendidik anak baru agar tidak ‘kemelinti’ (sombong) dan menghormati senior. Itu keliru. Paradigma baru haruslah ice breaking,” ujar Hasto di SMPN 10 Yogyakarta, Senin (13/7/2026).
Dia menyebut, para panitia MPLS dan guru harus memanfaatkan momen pengenalan itu untuk berdiskusi dengan peserta didik baru. Terutama untuk mengali apa saja kekhawatiran, ketakutan, serta harapan anak-anak yang beranjak memasuki dunia baru itu.
Dia tak menampik bahwa setiap anak punya kekhawatiran tersendiri ketika memasuki lingkungan baru. Maka sekolah harus bisa mengakomodir kekhawatiran itu agar berubah jadi motivasi selama lima hari gelaran MPLS dilaksanakan. Sehingga anak tak hanya mengetahui terkait lingkungan sekolah, namun mereka juga siap menerima ilmu-ilmu baru.
“Kalau nanti 80-90 persen kekhawatiran anak-anak sudah teratasi setelah MPLS, berarti itu sukses dong. Karena tujuan MPLS itu ice breaking atau untuk menghancurkan kekhawatiran dan menaruh harapan. Jadi bukan membully tapi mengali agar kekhawatiran mereka hilang,” katanya.
Tak hanya itu, Hasto juga meminta sekolah memberikan kelonggaran waktu kepada siswa baru yang belum memiliki seragam lengkap karena alasan ekonomi. Dia tak ingin kondisi tersebut menjadi alasan siswa minder dan menjadi bahan ejekan.
“Saya kira sekolah harus pandai-pandai ngemong (mengasuh) anak-anak. Artinya beri kelonggaran atau toleransi waktu jika orang tuanya belum mampu. Jangan sampai ada yang dibully karena belum punya seragam,” ujar dia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta, Agus Trimadi, menuturkan pihaknya telah menerjunkan tim untuk memastikan kegiatan MPLS pada 13-17 Juli 2026 berjalan sesuai pedoman. Tim tersebut juga akan memonitoring bahwa sekolah menyampaikan materi utama dan pilihan kepada para peserta didik baru.
“Intinya adalah MPLS ramah, aman, nyaman, dan bahagia. Itu merupakan bagian dari babak baru transisi pendidikan. Jadi tidak hanya himbauan tapi kami juga menerjunkan tim monitoring,”ucapnya.
Selama lima hari gelaran MPLS, Agus menyebut ada beberapa materi yang wajib disampaikan kepada pada murid baru. Di antaranya materi utama tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, pagi ceria, budaya 5S (salam, senyum, sapa, sopan, santun), hingga penguatan karakter, dan kebiasaan baik.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 10 Yogyakarta, Edy Thomas, menyampaikan jumlah siswa baru di SMPN 10 Yogyakarta pada tahun ini mencapai 288 anak. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya karena SMPN 10 Yogyakarta mendapatkan tambahan dua rombel (rombongan belajar) pada tahun ajaran baru 2026/2027.
“Kami mendapatkan tambahan rombel berjumlah 64 siswa, jadi total siswa baru Kelas VII sebanyak 288 anak. Insya Allah ruang kelas kami mencukupi,” katanya.
Dia menyebut, sekolah telah meningkatkan kualitas dan kompetensi guru untuk menyambut penambahan rombel tersebut. Para guru dibekali peningkatan komunikasi dan public speaking agar dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sejak hari pertama masuk sekolah.
“Selain peningkatan guru, kami juga lakukan peningkatan sarana dengan berkomunikasi kepada dinas. Kami tekankan refleksi agar semakin lama sekolah semakin baik. Tak kalah penting pembinaan keagamaan. Jadi walaupun sekolah negeri tapi pembinaan dan penguatan akidah serta agamanya tetap kami utamakan. Baik yang Islam maupun non-Islam juga mendapatkan konsentrasi sama,” jelasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)




![Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Joko Prayitno saat diwawancarai, Rabu (1/7/2026). [populi.id/Hadid Pangestu]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/07/Joko-Prayitno-120x86.png)



![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



