YOGYAKARTA, POPULI.ID – Di sebuah gang sempit di kawasan Panembahan, Kemantren Keraton, Kota Yogyakarta, berdiri sebuah rumah tua yang nyaris tak lagi layak disebut tempat tinggal.
Dindingnya kusam, barang-barang bekas menumpuk di setiap sudut, sementara aroma lembab bercampur bau tak sedap menjadi bagian dari keseharian penghuninya. Di rumah itulah Sumilah (82) menghabiskan masa senjanya.
Perempuan lanjut usia itu menjalani hidup dengan kesederhanaan yang jauh dari kata nyaman. Rumah yang telah ia tempati sejak masih kecil kini menjadi saksi perjalanan hidup panjangnya, mulai dari membesarkan anak-anak hingga kehilangan pasangan hidup.
“Rumah ini dibangun waktu saya umur tujuh tahun. Sekarang saya sudah 82 tahun. Dulu daerah sini masih kebun dan tempat pembuangan sampah sebelum ramai seperti sekarang,” tuturnya saat diwawancarai dalam acara bedah rumah, Minggu (12/7/2026).
Lingkungan tempat tinggalnya telah berubah menjadi kawasan permukiman padat. Namun kondisi rumah Sumilah seolah tertinggal oleh waktu. Tumpukan pakaian bekas yang sudah tak terpakai memenuhi ruangan. Tak banyak barang berharga yang tersisa.
Bahkan, ia berseloroh, seandainya rumahnya dimasuki pencuri pun mereka mungkin akan kebingungan karena tidak ada harta benda yang layak dibawa.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sumilah lebih banyak mengandalkan bantuan tetangga dan orang-orang yang masih peduli kepadanya. Sementara dari empat anak yang dimilikinya, hanya anak keduanya, Dwi, yang masih rutin mendampingi meski tinggal di kecamatan berbeda.
Meski ditawari tinggal bersama, Sumilah mengaku lebih memilih hidup sendiri dan tidak ingin merepotkan anaknya dengan keterbatasan.
“Harta terakhir saya cuma tabung gas LPG, itu pun sekarang entah dibawa cucu ke mana,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Meski hidup serba terbatas, listrik dan sambungan air bersih masih mengalir ke rumahnya. Baginya, itu sudah menjadi nikmat yang patut disyukuri.
Di balik kehidupannya yang sederhana, Sumilah menyimpan kisah pengabdian yang panjang bagi kampungnya. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai sosok yang mengurus jenazah perempuan sesuai syariat Islam. Ketika ada warga meninggal, ia menjadi orang yang dipercaya memandikan jenazah sebelum dimakamkan.
“Dulu pekerjaan saya nyirami (memandikan) priyayi yang meninggal. Sekarang sudah beda, kebanyakan dibawa ke rumah sakit,” kenangnya.
Pengabdian itu tidak pernah ia lakukan demi imbalan. Baginya, membantu sesama merupakan bentuk ibadah yang tak harus dibalas dengan materi.
Namun pekerjaan mulia tersebut sempat membuat anak bungsunya merasa takut.
“Anak saya yang paling kecil dulu tidak mau duduk dekat saya setelah saya memandikan jenazah. Padahal saya sudah mandi dan keramas,” katanya sambil tertawa kecil.
Kini, di usia yang tak lagi muda, Sumilah lebih banyak menghabiskan waktunya mendekatkan diri kepada Tuhan. Hampir setiap pagi ia berjalan kaki bersama teman-teman seusianya berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk mengikuti pengajian dan membaca Al-Qur’an.
“Kalau ngaji hampir setiap pagi, pindah-pindah masjid bersama teman-teman, semuanya jalan kaki,” tuturnya.
Baginya, bekal terbaik di usia senja bukanlah harta, melainkan amal ibadah yang dapat dibawa hingga akhir hayat.
Harapan baru akhirnya datang pada Minggu (12/7/2026). Sumilah menjadi salah satu penerima bantuan program bedah rumah yang diinisiasi Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Wali Kota Hasto Wardoyo.
Bagi Dwi, bantuan tersebut menjadi jawaban atas kegelisahan yang selama ini ia rasakan melihat kondisi tempat tinggal ibunya.
“Alhamdulillah, semoga tempat tinggal ibu bisa menjadi lebih nyaman, bersih, dan terurus,” ujarnya.
Ia mengaku informasi mengenai program tersebut diperoleh melalui Jaga Warga. Setelah diusulkan oleh warga sekitar, rumah Sumilah dinilai memenuhi kriteria untuk mendapatkan bantuan.
“Waktu saya masih SD, rumah ini sudah ditempati ibu. Alhamdulillah sekarang akhirnya ada bantuan,” katanya.
Di usia yang telah melewati delapan dekade, Sumilah mungkin tidak lagi berharap memiliki banyak harta. Namun rumah yang lebih layak menjadi harapan sederhana agar ia dapat menjalani sisa hidup dengan lebih tenang di tempat yang selama puluhan tahun menjadi saksi pengabdiannya kepada sesama.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan kondisi rumah Sumilah perlu mendapatkan perhatian. Ia juga mengaku heran wanita tua ini bisa tinggal di tempat yang kumuh dan tidak terawat dalam waktu yang lama.
Dalam momen yang penuh keceriaan itu, Hasto meminta sejumlah terutama dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Yogyakarta pihak untuk mencukupi kebutuhan dan memnagun kembali rumah Sumilah.
“Besok ketua Panitia, Pak Lurah, dan Baznas untuk gotong royong mencukupi kebutuhan Bu Sumilah,” kata mantan Bupati Kulon Progo tersebut. (populi.id/Hadid Pangestu)



![Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Joko Prayitno saat diwawancarai, Rabu (1/7/2026). [populi.id/Hadid Pangestu]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/07/Joko-Prayitno-120x86.png)




![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



