YOGYAKARTA, POPULI.ID – Rasa syukur terlukis di wajah Supiyati (64) dan Bambang Hartono (67) setelah rumah mereka menjadi sasaran program bedah rumah dari Pemerintah Kota (Pemkot Yogyakarta) pada Minggu (28/6/2026). Rumah mereka yang berada di Jalan Bimo Kurdo, Kampung Papringan, Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, akan diperbaiki menggunakan anggaran CSR senilai Rp20 juta.
Rumah yang berada di gang sempit depan SD Muhammadiyah Sapen itu merupakan bangunan tua. Sebagian besar atap genteng rumah terlihat sudah lapuk dimakan usia. Plafon gedeg terbuat dari anyaman bambu yang terpasang di bawah atap tampak usang dan hampir ambruk sehingga diikat menggunakan kawat besi.
Sudut tembok rumah di bagian dapur terlihat ambruk dan retak yang merupakan jejak dari peristiwa gempa bumi 2006 lalu. Lantai rumah itu masih berupa tanah. Beberapa kain dan spanduk digelar menjadi alas yang menghangatkan.
Supiyati mengatakan bahwa rumah itu adalah peninggalan dari orang tuanya. Beberapa sudut rumah tersebut dikatakan mengalami kerusakan sejak gempa bumi melanda Yogyakarta pada 2006 silam.
“Sebenarnya setelah gempa itu sempat diperbaiki, tapi tidak total. Masih ada tembok-tembok yang retak dan ambruk tapi belum diperbaiki. Terus atapnya juga sudah lapuk, jadi harus diperbaiki karena sering bocor saat hujan,” ujar Supiyati kepada Populi.id, Minggu (28/6/2026).
Supiyati dan Bambang mengaku sangat senang dan bersyukur akhirnya mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumahnya yang tidak layak huni. Bambang berharap dengan dana senilai Rp20 juta itu bisa memperbaiki atap rumahnya yang sudah lapuk. Apabila dananya cukup, dia juga berharap lantai rumahnya bisa dikeramik.
“Harapan kami ke depan, semoga rumahnya lebih baik lagi. Istilahnya bisa ada privasi sehingga kami tidak khawatir suatu hari rumahnya roboh. Kami ikut saja pelaksanaannya, kalau kemarin rencana (yang diperbaiki) atap dan genteng dulu. Pokoknya dimaksimalkan dulu, semoga bisa untuk memperbaiki lantai juga,” papar dia.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menuturkan, rumah Supiyati dan Bambang menjadi sasaran prioritas penerima bantuan program bedah rumah karena kondisinya memperihatinkan dan jumlah penghuninya cukup banyak. Apalagi rumah tersebut juga dihuni oleh anak-anak usia sekolah.
Hasto menegaskan bahwa faktor keberadaan anak sekolah menjadi pertimbangan penting dalam menentukan skala prioritas penerima bantuan program bedah rumah.
“Saya sudah berulang kali meminta kalau penerima program bedah rumah itu ada prioritasnya. Prioritas itu rumah-rumah yang masih dihuni oleh anak-anak sekolah dan usia produktif. Itu penting sekali,” ucapnya.
Selain itu, kondisi bangunan tersebut juga dinilai sangat tidak layak, terutama pada lantai dan atap bagian rumah belakang yang mengalami kebocoran.
“Tadi atap bagian belakang bocor, kemudian semua lantai dari depan sampai belakang perlu perbaikan. Dindingnya juga belum di-finishing, jadi nanti akan di-finishing supaya bersih,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Hasto bahkan menyatakan akan memberikan bantuan tambahan secara personal.
“Secara pribadi, saya akan bantu untuk perbaikan lantainya,” imbuh dia.
Terkait capaian program, Hasto mengakui bahwa realisasi saat ini masih cukup jauh dari target tahunan. Pemkot Yogyakarta mematok target sebanyak 200 rumah dapat selesai dibedah hingga akhir tahun.
“Kita menargetkan 200 rumah. Terakhir kemarin laporan yang masuk baru 67 rumah, jadi memang masih kurang banyak,” ungkapnya.
Kendati demikian, Pemkot Yogyakarta berkomitmen untuk terus mendorong kemitraan dengan pihak swasta agar sisa target rumah tidak layak huni dapat segera tertangani, dengan tetap mengutamakan rumah-rumah yang dihuni oleh keluarga dengan anak usia sekolah. (populi.id/Dewi Rukmini)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



