YOGYAKARTA, POPULI.ID β Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mengungkapkan bahwa kondisi kualitas air di wilayah Kota Yogyakarta masih berada pada level sedang atau berstatus waspada. Penilaian tersebut diperoleh dari hasil pemantauan rutin terhadap aliran sungai dan air sumur milik warga.
Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menjelaskan pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan sekaligus menjadi langkah antisipasi terhadap potensi pencemaran yang semakin meluas.
“Secara umum kualitas air di Kota Yogyakarta masih dalam fase waspada,” kata Rajwan saat ditemui wartawan, Minggu (19/7/2026).
Ia menuturkan, salah satu faktor yang membuat kualitas air belum membaik secara optimal adalah masih adanya limbah domestik yang dibuang langsung ke sungai. Padahal, sungai memiliki fungsi penting sebagai sumber daya alam yang harus dijaga kelestariannya.
“Kita harus mulai ada kepedulian terhadap kondisi air di sekitar kita. Sampai sekarang masih ada limbah domestik yang dialirkan ke sungai,” ujarnya.
Rajwan menegaskan, menjaga kualitas air bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, masyarakat juga memiliki peran penting dengan mengelola limbah rumah tangga secara benar agar tidak mencemari lingkungan.
Sebagai upaya pencegahan, DLH terus memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus berkoordinasi dengan para pemangku wilayah agar limbah domestik dapat diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Sewon sebelum dibuang ke lingkungan.
“Kami melakukan pembicaraan dengan masyarakat dan pemangku wilayah agar limbah domestik dapat dialirkan melalui IPAL Komunal Sewon,” jelasnya.
Selain memonitor kualitas air sungai, DLH juga rutin menguji kualitas air sumur warga. Hasilnya menunjukkan kondisi air sumur berbeda-beda di setiap wilayah, bergantung pada kondisi lingkungan setempat.
Rajwan menyebut sekitar 40 persen warga Kota Yogyakarta masih mengandalkan air sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
“(Sebanyak 40 persen) rata-rata adalah warga yang masih mempunyai lahan di kawasan pinggiran seperti Kotagede, Umbulharjo, Tegalrejo, dan Wirobrajan. Kalau di dalam kota rata-rata sudah menggunakan PDAM,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang kualitas air sumurnya belum memenuhi standar, terutama karena terindikasi tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli), DLH merekomendasikan penggunaan layanan air bersih dari PDAM sebagai alternatif yang lebih aman.
“Untuk rumah-rumah yang kualitas airnya belum layak, kami menyarankan agar menggunakan saluran PDAM,” katanya.
Ia menambahkan, rekomendasi tersebut juga perlu dipertimbangkan dalam proses penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), sehingga setiap bangunan memiliki akses terhadap sumber air yang memenuhi standar kesehatan.
Dalam upaya menjaga kualitas air, DLH bekerja sama dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Satpol PP Kota Yogyakarta untuk melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada masyarakat.
Sementara pengelolaan infrastruktur IPAL komunal dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta.
“Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik dalam pengawasan, edukasi masyarakat, maupun pengelolaan infrastruktur IPAL komunal,” tutup Rajwan. (populi.id/Hadid Pangestu)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



