YOGYAKARTA, POPULI.ID – Sore itu, hiruk pikuk aktivitas warga tampak bergeliat di sekitar Jalan Tukangan, Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Deru mesin kereta api dari Stasiun Lempunyangan sayup-sayup terdengar dan sesekali beradu dengan suara kendaraan bermotor yang melintas di jalan tersebut.
Di antara hilir mudik kendaraan yang melintas, terlihat sejumlah turis asing dengan ransel besar di punggungnya berjalan santai memasuki sebuah gang di Jalan Tukangan itu. Warga lokal mengenalnya dengan nama Gang Hansip Karno Waluyo. Namun, belum lama ini gang tersebut mendapatkan julukan mentereng sebagai Gang Internasional.
Bukan tanpa alasan julukan itu melekat. Gang sepanjang 300 meter dari samping Kantor Kelurahan Tegalpanggung hingga Jembatan Kewek itu kini bertransformasi menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Lokasi gang itu sangat strategis di antara Stasiun Lempuyangan, Stasiun Tugu Yogyakarta, dan Kawasan Malioboro. Tak ayal, gang tersebut menjadi jalan pintas favorit bagi para pelancong dari Stasiun Lempuyangan yang ingin berjalan kaki menuju kawasan Malioboro.
Bahkan, tak sedikit wisatawan yang memilih penginapan di sepanjang Gang Hansip Karno Waluyo untuk melepas penat.
Ketua RW 06 Kelurahan Tegalpanggung, Tri Suwito, mengungkapkan bahwa sebelum riuh kedatangan turis, Gang Karno Waluyo hanyalah pemukiman warga biasa. Wajah gang dikatakan mulai berubah sekitar lima tahun lalu ketika sebuah penginapan hadir.
“Pertama kali ada penginapan di bagian barat, terus berkembang dan menyewa rumah warga di sebelah timur. Lalu muncul kedai kopi dan terus merembet penginapan-penginapan lain di sebelahnya,” ungkap Tri kepada Populi.id, Minggu (28/6/2026).
Kini, setidaknya ada enam homestay yang ada di sepanjang Gang Hansip Karno Waluyo. Sebagian besar homestay dikelola dengan konsep backpacker yang menyasar turis asing dari berbagai negara, semisal Jerman, Amerika, hingga Inggris. Kendati demikian, homestay atau penginapan tersebut juga melayani wisatawan domestik dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya lokasinya yang strategis, harga penginapan di kawasan Gang Hansip Karno Waluyo juga ramah di kantong. Hanya dengan merogoh kocek Rp50-99 ribu, para pelancong bisa beristirahat semalam sebelum melanjutkan perjalanan liburan.
“Tarifnya sangat terjangkau, mulai Rp50 ribu saja per orang untuk satu malam. Makanya cocok sekali untuj turis lokal dari Jakarta atau Surabaya yang turun kereta sore, menginap semalam, baru besoknya lanjut berwisata,” ujarnya.
Tri menuturkan, kehadiran Gang Internasional itu membawa berkah tersendiri bagi warga setempat. Meskipun persentase rumah yang disulap jadi penginapan belum mencapai setengahnya, namun dampak ekonomi mulai terasa. Lantaran, banyak warga yang memilih menyewakan rumah mereka di tepi jalan untuk dijadikan homestay.
“Sementara ini, sistemnya masih disewa oleh pengelola homestay. Tentu itu sangat membantu memperbaiki ekonomi warga,” katanya.
Di sisi lain, geliat ekonomi juga dirasakan warga yang membuka warung-warung kuliner di sepanjang jalan gang tersebut. Menariknya, kehadiran turis asing tidak menciptakan dinding pembatas dengan masyarakat lokal. Warga setempat menyambut ramah para pelancong lintas negara tersebut. Bahkan terkadang para turis membaur dengan masyarakat terutama ketika momen hiburan musik.
“Warga tanggapannya sangat positif, sudah tidak heboh lagi kalau lihat bule. Bahkan kalau kita pas mengadakan acara 17 Agustus-an dan ada hiburan musik, turis-turis mancanegara itu sering keluar, berbaur, dan ikut joget bareng warga. Seru sekali,” kenangnya.
Lebih lanjut, Tri menyampaikan bahwa julukan Gang Internasional itu sudah dikukuhkan secara resmi oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pada pertengahan Mei 2026 lalu. Hal itu pun mempertegas status Gang Hansip Karno Waluyo sebagai koridor wisata potensial.
Meski begitu, Tri mengaku ada tantangan tersendiri untuk memunculkan daya tarik spesifik dari kemampuan warga setempat. Sebab, saat ini potensi yang ada baru sebatas pemanfaatan lokasi yang strategis.
“Kami berharap, geliat pariwisata itu bisa memotivasi warga yang memiliki kemampuan untuk secara mandiri menyulap hunian mereka menjadi homestay tanpa harus bergantung pada pihak ketiga,” ucapnya.
Salah satu pionir akomodasi di gang tersebut adalah Laura Backpackers. Berdiri sejak 2014, penginapan itu menjadi saksi bisu bagaimana wajah Gang Hansip Karno Waluyo berubah total.
Resepsionis Laura Backpackers, Jenny, menceritakan bahwa pada awal berdiri, kehadiran hostel sempat mendapat penolakan dari warga sekitar.
“Dulu pas hostel ini pertama dibuka, banyak tetangga dan warga yang tidak mau ada hostel di sini,” bebernya.
Namun, waktu perlahan mengikis prasangka. Ketika warga melihat para turis asing berlalu-lalang dengan tertib, membawa dampak positif, dan menghidupkan suasana kampung. Sudut pandang warga pun mulai bergeser dan melihat ada peluang kemajuan di depan mata.
Kini, penolakan itu telah menguap dan berganti menjadi kolaborasi. Sepanjang kiri dan kanan gang, rumah-rumah warga telah bersolek. Banyak dari mereka yang mengikuti jejak Laura Backpackers dengan membuka homestay mandiri.
Kawasan yang dulu adalah pemukiman padat, kini menjelma menjadi jujukan utama para pelancong domestik maupun mancanegara.
Saat musim libur sekolah seperti saat ini, pergerakan wisatawan lokal memang mendominasi. Namun, bagi komunitas homestay di gang itu, puncak pesta sesungguhnya terjadi pada pertengahan tahun.
“Kalau untuk turis mancanegara, biasanya paling banyak itu pas musim liburan di sana, sekitar bulan Juli dan Agustus. Negara asal mereka paling banyak dari Jerman dan Australia,” ungkap Jenny.
Akomodasi berkonsep dormitory atau asrama tersebut menjadi pionir penginapan murah bagi para backpacker di kawasan tersebut. Dengan kapasitas enam orang per kamar, tempat tersebut menawarkan kehangatan khas Jogja dengan harga yang sangat ramah kantong.
“Harga sewa kita mulai dari Rp90.000, dan paling mahal sekitar Rp100.000. Biasanya tergantung hari, seperti Minggu atau Selasa, atau saat musim liburan (high season),” paparnya.
Lebih lanjut, penyematan julukan Gang Internasional di Gang Hansip Karno Waluyo pun menjadi oase baru bagi para pelaku usaha akomodasi di wilayah tersebut.
“Sebagai staf dan yang berkecimpung di sini, kami senang banget. Tempat ini bisa dikenal lebih banyak orang dan diharapkan bisa menarik lebih banyak wisatawan lagi ke depannya,” pungkas dia. (populi.id/Dewi Rukmini)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



