SLEMAN, POPULI.ID–Kapanewon Cangkringan ketatkan aturan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) untuk menjaga fungsi lereng Merapi sebagai daerah resapan air utama. Batas maksimal KDB di kawasan tersebut idealnya tidak melebihi 30%.
“Di beberapa lokasi percontohan seperti Kampung Plosorejo bahkan hanya berkisar 12%, sehingga 88% sisa lahannya difungsikan sebagai area resapan,” kata Panewu Cangkringan, Tamzis Sarwana dalam bincang santai bersama Wakil Ketua DPRD Sleman Ani Martanti dan pemilik Ruas Bambu Nusa Widya Purwoko di Dewandanru, Rabu (19/8/2026).
Tamzis mengatakan, kawasan lereng Gunung Merapi di Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, kini terus menunjukkan pergeseran signifikan menuju pelestarian lingkungan. Aktivitas penambangan liar yang sempat marak di wilayah Cangkringan, terutama pasca-erupsi Merapi, sudah menurun drastis.Sebagian warga mulai beralih menggantungkan perekonomian ke sektor pariwisata berbasis lingkungan dan ekonomi sirkular.
Tamzis, mengatakan sejak dulu kawasan Cangkringan telah marak aktivitas galian C tak berizin. Sehingga banyak lahan bekas tambang pasir di lereng Gunung Merapi tersebut. Namun seiring berkurangnya material pasir, jumlah warga yang bergerak di sektor pertambangan saat ini diperkirakan tidak lebih dari lima persen.
Tamzis menyebut kawasan lereng Gunung Merapi merupakan daerah resapan air yang sangat vital. Oleh karena itu, langkah pemulihan lingkungan perlu dilakukan untuk mengembalikan fungsi alaminya.
Salah satu upaya konkret yang bisa dilakukan yakni mengalihfungsikan lahan bekas galian tambang menjadi kawasan hijau dan jalur wisata olahraga. Contohnya seperti kawasan Ruas Bambu Nusa di Desa Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, yang dikembangkan oleh Widya Purwoko.
Bekas galian tambang di kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai lanskap pemandangan alam tanpa membutuhkan biaya mahal untuk pengurukan tanah. Sebagai gantinya, area di sekeliling galian ditanami kembali dengan berbagai jenis vegetasi, terutama bambu.
Widya Purwoko, mengungkapkan perjalanannya menyulap lahan bekas tambang galian C menjadi kawasan hijau. Dalam prosesnya, ia menerapkan prinsip utama memulihkan lanskap tanah tanpa merusak struktur alaminya secara drastis. Dia memilih tidak meratakan kontur tanah secara masif, melainkan memanfaatkannya sebagai lanskap unik yang dipadukan dengan vegetasi alami.
“Kontur tanah itu terbentuk selama ratusan tahun, jadi kalau diubah total justru bisa menghilangkan nilainya. Jadi, lubang-lubang bekas galian kami manfaatkan kembali dan berkolaborasi dengan tanaman. Di tanah miskin hara atau gersang yang tidak bisa ditanami sayur, kami gunakan bambu sebagai tanaman pionir,” jelasnya.
Menurut Widya, tanaman bambu memiliki peran penting dalam pembentukan lapisan tanah baru (topsoil). Guguran daun bambu yang membusuk secara cepat akan terurai menjadi nutrisi alami bagi tanah. Metode itu memungkinkan terciptanya lapisan tanah subur baru tanpa perlu mendatangkan tanah dari luar kawasan.
Widya menambahkan, penanaman vegetasi pohon bambu di kawasan lereng Merapi tidak hanya berfokus pada pemandangan hijau semata, tetapi juga berfungsi menjaga ketersediaan pasokan air tanah. Dia menilai, menanam pohon di kawasan resapan lereng Merapi merupakan bentuk kepedulian ekologis yang dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat luas.
Upaya reklamasi lahan bekas tambang galian C di Kapanewon Cangkringan itu mendapatkan apresiasi dari Wakil Ketua DPRD Sleman, Ani Martanti. Dia menyebut, pemulihan area kritis bekas tambang sebenarnya merupakan inovasi yang mudah dilakukan, asalkan ada kemauan dan pemahaman dari masyarakat setempat.
Menurut dia, membiarkan lahan bekas galian tanpa penanganan akan membuat daerah resapan air tersebut menjadi gersang. Namun, upaya reklamasi tidak harus dilakukan dengan meratakan tanah secara masif yang memakan biaya besar.
“Kalau harus menutup dan meratakan lubang-lubang bekas galian, itu butuh biaya yang sangat banyak. Bekas tambang biarkan saja secara alami, tetapi di sekitarnya kita tanami pohon agar menjadi lumbung-lumbung air. Vegetasi seperti bambu sangat luar biasa untuk menyimpan pasokan air, menjaga ekosistem, hingga membuat lingkungan jadi adem,” tuturnya.(Dewi Rukmini)






![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



