YOGYAKARTA, POPULI.ID – Rumah berukuran kecil di Kampung Ratmakan, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta terlihat tampak tak terurus.
Sebagian cat temboknya telah mengelupas. Sementara terlihat rumput liar memenuhi area pekarangan. Pagar dari kerangka besi dan rajutan kawat pun telah berkarat.
Dari tempat ini, siapa sangka pernah ditempati oleh orang berpengaruh yang memiliki hubungan erat dengan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Namanya Kassian Cephas.
Ia merupakan seorang fotografer pribumi pertama asal Jawa. Sejarah mencatat, Kassian sempat didapuk sebagai fotografer kerajaan Yogyakarta.
Kebanggaan tidak hanya terletak sebagai fotografer pribumi pertama, namanya pun sudah tidak asing pada kala itu di dunia internasional.
“Kassian Cephas menjadi spirit di Kampung Ratmakan, namun belum banyak yang tahu bahwa ada cerita tersebut di Kampung Ratmakan,” kata Nur Oryza Argo, Ketua Kampung Wisata Ratmakan saat diwawancarai Populi.id, Kamis (7/8/2025) petang.
Pria berusia 32 tahun yang telah dipercayai sebagai RW tersebut menyampaikan bahwa saat ini tidak ada harta benda atau karya tersisa miliki Chepas di rumah tua tersebut. Namun masih ada sisa tungku roti yang menjadi alat untuk mengisi kesibukan dari istri Chepas.
“Asetnya dalam rumah sudah tidak ada, yang masih ada tungku roti dari batu bata. Karena istrinya orang Belanda sering membuat roti, itu masih ada bangunannya. Sekarang cerita itu tinggal sejarah yang tidak terungkapkan oleh masyarakat umum,” kata Argo.
Disebutnya, era keemasan Chepas terjadi selama periode 1800 – 1900 ketika mengabdi di Kasultanan Ngayogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI.
Ia menyebut kamera yang digunakan Chepas saat itu hanya menggunakan peralatan yang minim namun menghasilkan karya-karya fenomenal.
Cerita Chepas disebutnya banyak diketahui dari para peneliti yang masih penasaran dan menyadarkannya sebagian warga Ratmakan akan sejarah panjang kampung tersebut.
Hal tersebut menurutnya karena minim literatur yang dapat membantu warga mengenal sosok Kassian Chepas.
Warga disebutnya baru menyadari bahwa sejarah tersebut ke depan mampu membawa mimpi-mimpi dalam mengharumkan nama Kampung Ratmakan.
Misi Penyelamatan
Ia menyampaikan bahwa rumah Chepas sejatinya terdiri dari beberapa rumah hingga pinggiran Jalan Mayor Suryo Utomo. Namun saat ini Surat Hak Milik (SHM) nya telah terpecah untuk beberapa ahli waris.
“SHM itu terpecah beberapa bagian itu satu wilayah, ada beberapa kotak, tinggal 1 ini yang mau dijual,” katanya.
Dengan nilai dan sejarah yang ada, pengelola kampung mengaku kebingungan untuk merawat sisa rumah Chepas yang masih berdiri kokoh itu.
Pasalnya, keluarga ahli waris menginginkan agar rumah tersebut bisa dijual. Sementara pengelola kampung tidak ingin rumah tersebut jatuh kepada pihak yang salah, terlebih tidak memahami sejarah.
Misi penyelamatan saat ini menjadi tujuannya. Ia dan warga kampung Ratmakan ingin agar rumah Kassian Cephas bisa dibeli oleh pemerintah maupun orang agar bisa dilestarikan.
Ia menyebut permintaan ahli waris menjadi PR tersendiri mengingat harga jual tinggi yang diinginkan tidak didukung oleh kondisi wilayah.
Berbagai upaya untuk menawarkan rumah tersebut disebutnya sudah dilakukan sejak lama.
“Di Musrenbang bisa mengusulkan. Kalau kuat (membeli) bangunan fisik terealisasi nominal sedikitnya Rp1,5 M, itu belum terealisasi hingga saat ini. Padahal sudah saya gemborkan dari 2018,” katanya.
Bangunan tersebut menurutnya merupakan nilai lebih bagi kampung yang tengah merangkak untuk bisa jauh berkembang bersamaan dengan histori yang ada guna membangun potensi wisata setempat.
“Kampung Wisata di Ratmakan ini sebagai lokomotif utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekosistem luas serta daya tarik wisata, homestay, hingga kuliner,” katanya.
“Semua itu dilakukan untuk meningkatkan taraf kepariwisataan, karena kami terletak di jantung perekonomian Kota Yogyakarta yakni di wilayah 0 kilometer,” jelasnya.
Sejarah Perjuangan Saat Agresi Militer
Di samping rumah milik Kassian Cephas, di Kampung Ratmakan masih terdapat sederet rumah tua yang dibangun dari era 1800-1900 an. Bangunannya rerata masih berdiri kokoh di tengah aktivitas sosial masyarakat.
“Dulu bangunan-bangunan ini mungkin dari tahun 1900, ada yang 1800an juga. Buktinya tampak dari bahan bagunan yang dipakai. Tak pakai semen tapi benar-benar dari gamping,” katanya.
Argo mengungkapkan bahwa Kampung Ratmakan punya sejarah yang memiliki peran penting dalam kemerdekaan. Kampung tersebut menyimpan cerita saat para prajurit Indonesia menyiapkan strategi menghadapi agresi Belanda.
“Era 1945 akibat rentetan serangan di Kotabaru, Kampung Ratmakan menjadi lokasi ndelik (sembunyi) para pahlawan-pahlawan kita, ada di kampung kecil ini,” katanya.
Meneladani Chepas
Meskipun hidup dengan zaman yang berbeda dimana Chepas sempat menjadi bagian yang menghangatkan kampung waktu itu, Argo dan warga lainya merasakan kedekatan secara emosional.
Dari sosok Chepas, menurutnya banyak hal yang bisa diteladani untuk dijadikan contoh dalam menghadapi masa-masa yang akan datang.
“Perjuangan, yang jelas kami melihat arti kegigihan beliau, Chepas bergerak dalam sunyi tapi migunani,” jelasnya.
Hal tersebut menurutnya menjadi pengingat kepada generasi muda untuk menjadi seseorang yang tidak hanya hidup, namun juga meninggalkan legasi.
“Kalau ingin sejarah mencatat kamu, maka kamu harus meninggalkan jejak apakah berbentuk gambar, tulisan atau hal lainya,” tukasnya.
(populi.id/Hadid Pangestu)












