YOGYAKARTA, POPULI.ID – Menjelang momen perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mempercepat penanganan sampah di sejumlah depo, terutama Depo Kotabaru yang berada di kawasan padat aktivitas keagamaan. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa area tersebut harus bersih sebelum 10 Desember 2025.
Hasto menyampaikan bahwa keberadaan tumpukan sampah di Depo Kotabaru semakin tidak relevan, mengingat lokasinya berdekatan dengan gereja dan pusat kegiatan masyarakat. Ia menilai situasi ini tidak pantas dibiarkan, terlebih menjelang hari raya.
“Saya sudah berpikir keras bagaimana di Kotabaru itu tidak lagi untuk menumpuk depo sampah karena di situ ada gereja,” ujar Hasto, Senin (8/12/2025).
Karena itu, Pemkot mendorong percepatan pemindahan fungsi depo tersebut. Hasto menyebut upaya pemindahan tidak mudah karena minimnya lokasi alternatif di Kota Yogyakarta. Meski demikian, ia berkomitmen untuk menyelesaikan persoalan itu sebelum Natal.
“Tunggu sajalah. Saya ingin berusaha agar yang di Kotabaru itu sebelum Natal ini sudah bersih, bahkan saya berusaha untuk memindah. Mudah-mudahan itu bisa selesai,” ucapnya.
Hasto memastikan bahwa pemindahan depo dari Kotabaru itu ditujukan untuk permanen.
“Saya berusaha permanen, karena di situ menurut saya tidak pada tempatnya. Meski cari tempat lain itu tidak gampang, tapi di situ tidak pada tempatnya. Jangan sampai mengganggu ibadah Natal,” katanya.
Ia menuturkan bahwa Pemkot telah menetapkan batas waktu penanganan hingga Rabu, 10 Desember, sesuai janjinya.
“Hari Rabu besok itu batas terakhir. Kami mau mengerahkan 100 truk hari Rabu itu. Karena saya sudah janji tanggal 10 ya,” ujarnya.
Hasto memastikan Pemkot akan bekerja maksimal untuk memastikan seluruh depo, terutama Kotabaru, benar-benar bersih sebelum puncak perayaan Natal dan Tahun Baru.
Ia juga mengakui upaya mengembalikan kondisi depo seperti semula bukan perkara mudah, namun pemerintah harus tetap optimistis.
“Saya harus yakin ya. Harus yakin. Meskipun ada keterbatasan kuota di TPST Piyungan oleh pemerintah provinsi, tapi kami harus berusaha,” ucapnya.
Di sisi lain, Pemkot Yogyakarta juga menghadapi keterbatasan kuota pembuangan sampah ke TPST Piyungan. Saat ini Kota Yogyakarta hanya mendapat jatah 300 ton per minggu, atau setara 50 ton per hari.
“Per minggu diberi kuota 300 ton. Kalau per minggu diberi 300 ton, bisa dibayangkan sehari hanya dapat 50 ton,” jelas Hasto.
Sementara itu, sampah yang masih berada di depo mencapai 210 ton dari total 20 depo yang masih terisi, dengan 11 depo sebagai titik utama.
“Deponya sekarang tinggal 20 yang isi, tapi yang utama ada 11 depo. Jadi ya produksi sampahnya mencapai 210 ton,” katanya.


![Pasar Kranggan. [populi.id/Gregorius Bramantyo]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/1767693177149-120x86.jpg)









