• Tentang Kami
Saturday, January 10, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Pemkot Yogyakarta Fokus Turunkan Kemiskinan Lewat Pendekatan Simptomatis dan Kausatif, Apa Itu?

Hasto juga menyoroti cara penghitungan angka kemiskinan yang menurutnya masih terlalu sempit dan bisa menimbulkan stigma yang tidak sepenuhnya akurat.

Gregorius BramantyobyredaksiandGregorius Bramantyo
October 22, 2025
in headline, Kota Yogyakarta
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. [populi.id/Gregorius Bramantyo]

0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya pendekatan ganda dalam strategi pengentasan kemiskinan di Kota Yogyakarta. Menurutnya, pengentasan tidak bisa hanya bersifat simptomatis atau berdasarkan gejala dan kausatif alias berdasarkan akar penyebab. Melainkan harus menggabungkan keduanya secara seimbang.

“Jadi, kami fokus bagaimana strategi menurunkan kemiskinan. Jangan hanya memikirkan satu pendekatan saja. Jangan hanya memikirkan kausatif atau simptomatis. Harus dua-duanya dipikirkan,” ujar Hasto di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (22/10/2025).

BERITA MENARIK LAINNYA

Satu Warga Kota Yogyakarta Positif Super Flu Pada September 2025, Dinkes Pastikan Sudah Sembuh

Larangan Sampah Organik ke Depo Cegah 29 Ton Sampah per Hari di Kota Yogyakarta

Ia menjelaskan, pendekatan simptomatis misalnya dengan memberikan bantuan makanan atau memperbaiki rumah warga tidak mampu. Sedangkan pendekatan kausatif lebih menekankan pada penyelesaian akar masalah seperti pendidikan rendah, pengangguran, atau masalah kesehatan.

“Contohnya, kalau ada warga miskin yang makannya tidak terpenuhi, lalu dikasih makan, itu pendekatan simptomatis. Tapi kalau kita beri beasiswa, bantu cari pekerjaan, atau tingkatkan kesehatannya, itu kausatif,” jelasnya.

Hasto juga menyoroti cara penghitungan angka kemiskinan yang menurutnya masih terlalu sempit dan bisa menimbulkan stigma yang tidak sepenuhnya akurat. Ia menyebut, Provinsi DIY sering dinilai miskin karena masyarakatnya tidak mengonsumsi daging atau ikan. Padahal, kata Hasto, pilihan itu bisa jadi karena gaya hidup, bukan keterbatasan ekonomi.

“Kan pertanyaan menilai orang miskin itu cuman seputar berapa kali makan nasi, makan daging, ikan, atau ayam. Banyak yang jawab enggak makan itu, tapi bukan karena miskin, karena memang dia enggak mau makan daging. Tapi akhirnya itu dicap sebagai kemiskinan,” bebernya.

Ia pun meminta agar indikator kemiskinan dipikirkan kembali dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Yogyakarta, terutama terkait pola konsumsi dan gaya hidup.

Terkait sebaran wilayah, Hasto menyebut pengentasan kemiskinan akan difokuskan pada kantong-kantong padat penduduk di sekitar bantaran sungai. Ia memfokuskan ke daerah-daerah di sepanjang Sungai Code, Gajah Wong, dan Winongo.

“Itu kantong-kantong penting yang harus disentuh lebih dulu. Kalau bisa selesai di sana, kemiskinan akan cepat turun,” katanya.

Sebagai contoh program nyata, Hasto mendorong penguatan food bank untuk menjangkau kelompok rentan seperti janda lansia, fakir miskin, dan warga lanjut usia yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Food bank itu bisa membagi makanan ke orang-orang yang makannya sering tidak tercukupkan. Ini penting agar ketika disurvei, mereka tidak terus-menerus dinilai miskin karena akses makan buruk,” ujarnya.

Selain itu, Hasto juga mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis koperasi, terutama yang menyasar warga kurang mampu. Salah satu contohnya adalah Koperasi Merah Putih. Ia meminta anggota koperasi Merah Putih diisi mayoritas warga kurang mampu.

“Jangan sampai anggotanya juragan semua. Isinya orang miskin, suruh mereka berkumpul, diberi pekerjaan, seperti membuat batik yang sudah jelas pasarnya,” jelas Hasto.

Ia menuturkan, koperasi tersebut ke depannya akan memproduksi batik Segoro Amarto untuk keperluan seragam sekitar 6.000 orang. Tahun depannya diproyeksikan untuk 65.000 siswa.

Hasto menambahkan, data terakhir yang diterimanya menunjukkan angka kemiskinan di Kota Yogyakarta berada di kisaran 6,5 persen. Sementara kemiskinan ekstrem tercatat 0,5 persen pada 2023. Ia menyebut belum ada pembaruan data terbaru dari pemerintah pusat setelah angka tersebut.

“Angka terakhir kemiskinan 6,5 persen, yang kemiskinan ekstrem 0,5 persen. Saya minta dua-duanya (simptomatis dan kausatif) disentuh. Saya kira dua-duanya harus kami kerjakan,” tandasnya.

Tags: angka kemiskinanbantaran sungaihasto wardoyoWali KotaYogyakarta

Related Posts

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah memberikan keterangan terkait kasus super flu di Kota Yogyakarta, Jumat (9/1/2026)

Satu Warga Kota Yogyakarta Positif Super Flu Pada September 2025, Dinkes Pastikan Sudah Sembuh

January 9, 2026
Kondisi depo sampah Kotabaru sebelum dilakukan pengosongan oleh Pemkot Yogyakarta.

Larangan Sampah Organik ke Depo Cegah 29 Ton Sampah per Hari di Kota Yogyakarta

January 9, 2026
Pasar Kranggan. [populi.id/Gregorius Bramantyo]

Pasar Kranggan Mendesak Dilakukan Revitalisasi

January 6, 2026
Ilustrasi sakit super flu

Muncul Satu Kasus Super Flu, Dinkes DIY Minta Warga Tak Panik

January 6, 2026
Ilustrasi keuangan negara

Perputaran Uang Selama Nataru di DIY Turun, BI Ungkap Biangnya

January 6, 2026
kawasan Malioboro dikunjungi 1 juta wisatawan saat libur Nataru 2025

Dikunjungi 1 Juta Wisatawan, Dispar Sebut Pondasi Wisata Yogyakarta Masih Kuat

January 6, 2026
Next Post
Kereta kencana bersejarah milik Keraton Yogyakarta, Kyai Landower Surabaya dan Permili, kembali ditampilkan dalam Kirab Trunajaya, Rabu (22/10/2025).

Keraton Yogyakarta Tampilkan Dua Kereta Bersejarah di Peringatan Tingalan Dalem Sultan Hamengku Buwono X

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.