JAKARTA, POPULI.ID – Baru satu tahun berjalan, sejumlah pihak kini telah ramai membicarakan terkait dukungan kepada Prabowo Subianto untuk lanjut dua periode sebagai Presiden Indonesia.
Hal itu bisa dilihat dari sikap sejumlah pimpinan partai politik yang bergantian menyampaikan soal dukungan kepada pemerintahan Prabowo sekaligus dilanjutkan hingga periode berikutnya.
Wacana Dua Periode
Wacana dukungan dua periode kepada Prabowo Subianto tersebut mencuat secara signifikan setelah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menyatakan dukungannya secara terbuka agar pasangan Prabowo-Gibran kembali menjabat pada Pilpres 2029.
Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi di Kota Solo pada akhir Januari 2026, yang kemudian direspons oleh berbagai pihak sebagai sinyal dimulainya pemanasan politik menuju periode kedua.
“Sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode. Sudah, itu saja,” kata Jokowi.
Pernyataan Jokowi itu sekaligus merespons pandangan Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, yang menyebut Gibran berpotensi menjadi kompetitor kuat dalam Pilpres 2029.
Daftar Partai Pendukung
Sejumlah partai politik dalam koalisi pemerintahan telah memberikan sinyal kuat untuk mendukung Prabowo kembali maju di 2029:
- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, menyatakan kepuasannya terhadap kinerja pemerintahan saat ini dan menegaskan bahwa koalisi minimal harus berjalan dua periode. Menurut Muhaimin, dukungan tersebut didasarkan pada kepuasan PKB terhadap kinerja pemerintahan Prabowo.
“Kami pokoknya intinya puas dengan pemerintahan Pak Prabowo dan kompak minimal dua periode,” ujar Cak Imin.
Namun, ia belum memberikan jawaban tegas terkait kemungkinan dukungan tersebut diberikan bersama Gibran sebagai calon wakil presiden.
- Partai Amanat Nasional (PAN)
Secara tegas menyatakan dukungan final bagi Prabowo untuk menuntaskan program hingga 10 tahun. PAN merasa program ekonomi kerakyatan Prabowo sangat cocok dengan visi partai.
“Kami sudah tiga kali mendukung Bapak Presiden Prabowo, satu-satunya partai di luar Gerindra yang konsisten mendukung Pak Prabowo tiga kali dalam tiga Pilpres,” kata Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno.
Meski demikian, PAN belum menetapkan sikap resmi mengenai calon wakil presiden. Eddy menegaskan, penentuan pasangan capres-cawapres membutuhkan banyak pertimbangan.
- Golkar
Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia menyebut Prabowo sebagai sosok terbaik dan alumni Golkar yang layak didukung kembali.
“Pak Prabowo ini kan juga adalah kader Golkar, alumni Golkar. Kalau sudah ada yang terbaik, ngapain cari yang lain?” ujar Bahlil. Namun, dukungan Golkar itu belum secara tegas mencakup Gibran sebagai calon wakil presiden.
- Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
Mendukung penuh narasi keberlanjutan dan stabilitas di bawah kepemimpinan Prabowo. Politisi PSI, Faldo Maldini, memberikan argumen kuat untuk mempertahankan duet Prabowo-Gibran.
Menurutnya, narasi dua periode bukan sekadar soal orang, melainkan soal stabilitas dan menjaga arah pembangunan agar bangsa ini tidak mulai dari nol lagi setiap lima tahun.
Dukungan ini mayoritas baru ditujukan kepada sosok Prabowo sebagai calon presiden. Terkait posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah partai seperti PKB dan PAN menyatakan bahwa masalah cawapres belum dibahas atau akan ditentukan berdasarkan realitas politik menjelang 2029.
Di sisi lain, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hingga saat ini belum mengambil sikap resmi dan memilih fokus mengawal pemerintahan hingga akhir periode.
Motif Parpol
Menanggapi fenomena dukungan yang muncul sangat awal ini, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, memberikan pandangan kritis terkait motif di balik manuver partai-partai tersebut.
Menurut Yunarto, munculnya dukungan ini secara bersamaan menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif parpol. Ia melihat ada dua kemungkinan.
“Yang pertama sedang berlomba ingin menunjukkan kesetiaan atau mencari perhatian atau bahasa kasarnya menjilat. Atau yang kedua, jangan-jangan ada komando, ada yang meminta dari atas,” ujarnya dilansir dari channel YouTube Kompas TV.
Yunarto juga menyoroti pergeseran magnet kekuasaan. Ia menjelaskan bahwa begitu seorang presiden dilantik, magnet kekuasaan sepenuhnya berpindah ke tangan presiden tersebut.
“Dalam konteks Prabowo-Gibran, saya selalu mengatakan ketika Prabowo dilantik, magnet kekuasaan itu hanya satu, namanya Prabowo. Tidak ada itu yang namanya magnet kekuasaan ada di mantan presiden,” tegasnya.
Hal ini berimplikasi pada posisi Gibran, di mana Yunarto menilai bahwa seiring waktu, magnet kekuasaan Jokowi yang melekat pada Gibran akan memudar. Sehingga partai-partai akan lebih melihat Prabowo sebagai satu-satunya pusat kekuatan.
Yunarto menganggap perdebatan mengenai capres-cawapres 2029 saat ini terlalu dini dan kejauhan. Ia menyayangkan energi politik yang terkuras untuk masalah elektoral ketimbang fokus pada isu-isu krusial seperti kerusakan ekologis dan stabilitas ekonomi pasar saham.
Menurutnya, langkah sejumlah partai yang mulai tidak menyebut nama Gibran secara eksplisit dalam paket dukungan dua periode adalah hal yang rasional karena setiap partai tentu memiliki ambisi untuk mendorong kader atau ketua umumnya sendiri menjadi cawapres di masa depan.












