MAGELANG, POPULI.ID – Suasana santai penuh kehangatan terasa ketika Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, melukis bersama para seniman dan budayawan di kawasan Wonolelo, Kabupaten Magelang, Kamis (12/2/2026).
Puluhan pelaku seni hadir, tidak sekadar membawa kanvas dan kuas, tetapi juga semangat kebersamaan yang menjadi ruh pertemuan tersebut.
Dalam kesempatan berbincang bersama populi.id, SBY menyampaikan pandangannya tentang kebebasan berekspresi dan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan berbangsa.
“Seniman itu kebanyakan kritis. Mereka terus berkarya dengan ekspresi masing-masing. Freedom bagi seniman, berikanlah ruang. Mereka tahu batasnya. Negara kita memiliki semangat kebersamaan yang luar biasa. Saya ingin kebebasan berekspresi tetap tumbuh,” ujar SBY.
Sebagai upaya untuk mewadahi kebebasan berekspresi, SBY belakangan tengah membangun jaringan para seniman dan budaya melalui SBY Art Community.
Gagasan membangun komunitas seni SBY Art Community lahir pada 2025. Komunitas ini digagas oleh para pendiri dari sejumlah institusi seni terkemuka, yakni Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Institut Kesenian Jakarta, serta Institut Teknologi Bandung. Dari sinergi lintas kampus inilah, SBY Art Community resmi tumbuh sebagai ruang kolaborasi dan ekspresi.
Bagi SBY, dunia seni menghadirkan pengalaman batin yang berbeda. Setelah 30 tahun menjadi prajurit dan 15 tahun berada di lingkar pemerintahan, ia menemukan energi baru dalam kanvas dan warna.
“Saya menemukan semangat baru dalam dunia ini. Saya ingin komunitas ini selalu dalam kebersamaan dan kedamaian,” tuturnya.
SBY Art Community tidak hanya menjadi wadah seni lukis, tetapi juga merangkul seni tari dan ragam ekspresi budaya lainnya. Komunitas ini berdiri bukan sekadar sebagai ruang berkarya, melainkan sebagai simpul persaudaraan—tempat kritik, kreativitas, dan cinta Tanah Air bertemu dalam harmoni.
Di Magelang, kanvas-kanvas itu seakan menjadi saksi bahwa seni bukan hanya soal estetika, melainkan tentang menjaga ruang dialog, merawat kebebasan, dan memperkuat kebersamaan bangsa—sebuah pesan yang mengemuka kuat dalam wawancara eksklusif tersebut.












