• Tentang Kami
Friday, April 3, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Kasus Bunuh Diri Anak Melonjak, Prof Koentjoro: Dampak Perubahan Sosial Akibat Media Sosial

kasus bunuh diri anak di Indonesia saat ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan data yang dirilis Komis Perlindungan Anak Indonesia

byredaksi
February 16, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi kesehatan mental

Ilustrasi kesehatan mental. [pexels/Natalie Dmay]

0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Angka kasus bunuh diri anak di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang sangat memperihatinkan. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam periode 2023-2025 tercatat sebanyak 116 anak melakukan bunuh diri.

Adapun pada 2026 tercatat sudah ada lima kasus anak mengakhiri hidupnya. Bahkan pada 2023-2024 angka kasus bunuh diri di Indonesia menjadi yang tertinggi se-Asia Tenggara.

BERITA MENARIK LAINNYA

Guru Besar UGM Kritik Kebijakan Pemerintah Alihkan Sebagian Besar Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengamat: Berpotensi Ganggu Stabilitas Pangan Domestik

Satu di antara kasus anak bunuh diri yang menjadi perhatian luas menimpa siswa SD di Ngada, NTT, diduga karena ketidakmampuan ekonomi. Terbaru, kasus bunuh diri menimpa siswa SD di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Fenomena tingginya kasus bunuh diri anak tersebut mendapatkan tanggapan dari Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor), Prof Koentjoro Soeparno.

Mantan Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) itu menilai fenomena tersebut terjadi karena ada perubahan sosial imbas kemunculan media sosial.

“Dengan adanya media sosial membuat anak-anak khususnya Gen Z dan Gen Alpha punya dua dunia. Yaitu dunia nyata dan dunia virtual dari internet atau dunia maya. Nah tergantung anak lebih banyak hidup di dunia nyata atau dunia maya,” ucap Koentjoro saat dihubungi Populi.id, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, kehadiran media sosial atau teknologi juga membuat orang tua terlena. Sehingga cenderung membiarkan anak larut terpapar konten media sosial.

“Kalau anak semakin dibiarkan, akibatnya dia hidup bukan di dunia nyata tapi di dunia maya. Itu satu dampak dari teknologi,” katanya.

Koentjoro menuturkan, saat ini anak-anak lebih banyak bermain handphone daripada bersosialisasi dengan kawan atau tetangga sebaya.

Akibatnya peran masyarakat dari tri pusat pendidikan (orang tua, masyarakat, dan sekolah) menjadi hilang. Padahal masyarakat berperan mengenalkan norma-norma bermasyarakat dalam hidup bersosialisasi.

“Karena peran masyarakat tidak ada, membuat anak berbicara di dunia nyata semakin tipis. Malah justru hidup dengan dunia khayalannya,” ucapnya.

Dikatakan, media sosial juga memberikan mediasi dalam berbagai variasi, mulai dari konten melankolis, ekstrem, hingga radikalis yang bisa membuat mudah tersinggung atau strees.

Lantas karena orang tua kurang memberi perhatian, akhirnya anak-anak bermain dengan emosinya sendiri yang sudah terkontaminasi paparan konten media sosial.

“Kalau menurut pengamatan saya, anak-anak kan berpikir dengan pola pikir anak. Ketika dia berusaha bunuh diri itu sebenarnya upaya anak mencari perhatian karena mungkin tidak pernah diperhatikan orang tua,” jelasnya.

“Tetapi dunia anak tidak paham kalau bunuh diri itu mati, tidak bisa hidup kembali. Nah mati itu sebetulnya proses validasi, mereka ingin tahu siapa yang menangis. Karena pikiran anak-anak belum terlalu jauh,” imbuhnya.

Menanggapi adanya fenomena tersebut, Koentjoro menyebut jangan pernah meninggalkan anak-anak sendiri. Orang tua harus memantau dan memastikan anak-anak tidak larut dalam dunia media sosial. Orang tua juga diminta aktif memonitori konten media sosial apa saja yang diakses anak-anak.

“Cara monitornya anak disuruh cerita kepada orang tua apa saja yang diikuti di media sosial. Kemudian harus tahu berapa lama anak menggunakan media sosial. Kalau bisa dibatasi penggunaannya,” tutur dia.

Selain itu, orang tua juga harus memberikan pujian kepada anak atas proses belajar dan perkembangannya. Sehingga anak punya kepercayaan diri dan pola pikir positif dalam menghadapi konflik atau tekanan hidup. (populi.id/Dewi Rukmini)

Tags: bunuh diri anakKoentjoro Soeparnomedia sosialperubahan sosialsiswa SDUGM

Related Posts

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama dengan Bupati Sleman, Harda Kiswaya menghadiri peluncuran kelembagaan 80.081 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digelar serentak melalui daring, bertempat di Halaman Kantor Kalurahan Sinduadi Mlati Sleman, Senin (21/7). (dok.Prokopim)

Guru Besar UGM Kritik Kebijakan Pemerintah Alihkan Sebagian Besar Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih

April 1, 2026
Ilustrasi nilai tukar Rupiah

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengamat: Berpotensi Ganggu Stabilitas Pangan Domestik

March 26, 2026
Ilustrasi media sosial.

Melindungi Generasi Digital, Ini Daftar Negara yang Membatasi Media Sosial bagi Anak

March 7, 2026
Ilustrasi puasa

Puasa dapat Picu Autofagi, Apa Itu?

March 4, 2026
Para guru besar Universitas Gadjah Mada menyampaikan sikapndi tengah kondisi globalnyang memanas dan serta masukan kepada pemerintah di Balairung, Karangmalang, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY, Senin (2/3/2026).

UGM Ambil Sikap di Tengah Situasi Global yang Memanas, Dorong Pemerintah Jaga Kedaulatan

March 3, 2026
Sosiolog UGM, Arie Sujito

Arie Sujito: Indonesia Tengah Hadapi Krisis Berlapis

February 27, 2026
Next Post
penggawa PSIM Yogyakarta berlatih dalam persiapan menghadapi lanjutan Super League

5 Tim yang Belum Pecah Telur di Putaran Kedua Super League 2025/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.