YOGYAKARTA, POPULI.ID – Hiruk pikuk aktivitas ekonomi masyarakat menghiasi sepanjang Jalan Jogokariyan, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DIY, pada Kamis (19/2/2026). Jalan menuju Masjid Jogokariyan itu berubah menjadi pasar tiban begitu memasuki bulan Ramadan 2026.
Ratusan pedagang tampak sibuk mengelar lapak dan menawarkan dagangannya. Ribuan pengunjung terlihat asik berburu kuliner takjil untuk buka puasa.
Meski pada sore itu hujan deras mengguyur kawasan Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan. Namun pengunjung tetap semangat berburu kuliner favorit sambil mengenakkan jas hujan. Begitupun para pedagang, mereka tampak sabar dan telaten menjemput rezeki di tempat tersebut.
Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan menjadi salah satu tempat incaran warga Yogyakarta dalam berburu takjil sambil ngabuburit. Lokasi tersebut juga jadi incaran para pedagang kaki lima (PKL) atau UMKM dadakan untuk mengais rezeki di bulan suci Ramadan.
Tak pelat, seribuan pedagang rela antre mendaftar dan mengikuti undian agar bisa mendapatkan kuota lapak di Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan. Seperti yang dialami seorang pedagang bernama Ronald (37), warga Desa Tamanan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY.
Selain mengandalkan undian lapak, Ronald juga meminta izin langsung kepada pemilik lahan lapak yang ia tempati untuk berjualan.
“Jadi meski ikut undian, kami juga tidak terlalu khawatir (tidak dapat lapak) karena sudah ada kedekatan dengan pemilik tempat,” ungkap Ronald kepada Populi.id, Kamis (19/2/2026).
Dia mengaku sudah 16 kali mengikuti Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan. Artinya, hampir setiap tahun Ronald membuka lapak di pasar tiban itu.
“Cuman tempatnya pindah-pindah terus, karena sesuai undian. Saya selalu daftar karena di sini ramai, sehari pengunjungnya bisa sampai 5.000 orang. Terus, dekat rumah juga,” ucapnya.
Selama 16 tahun membuka lapak di Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan, Ronald menyebut pendapatan di masing-masing tahun terdapat perbedaan signifikan. Dia mengungkapkan pada 2012-2016 penghasilan yang dia dapatkan cukup bagus. Namun mendekati dan pasca pandemi Covid-19, penghasilannya mengalami penurunan signifikan.
“Mungkin karena keadaan ekonomi yang masih kurang bagus. Kalau sekarang rata-rata per hari bisa dapat Rp300-500 ribu. Kalau tidak hujan bisa lebih tinggi. Tapi kami tetap optimis,” kata penjual takoyaki tersebut.
Manfaat semarak Kampung Ramadan Jogokariyan juga dirasakan Meri, warga setempat. Wanita berusia 26 tahun itu mengaku senang Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan semakin ramai tiap tahunnya. Sehingga, warga Kampung Jogokariyan bisa mengais rezeki dengan berjualan menu takjil.
“Saya berjualan minuman aneka es. Alhamdulillah kalau tidak hujan bisa dapat Rp1 juta sehari. Kalau hujan paling dapat Rp500 ribu sehari. Alhamdulillah bisa beli baju baru saat Lebaran dan memberikan THR untuk keponakan,” tandasnya.
Dimeriahkan 400 Lapak UMKM
Ketua Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan, Muhammad Falah Akbar, mengatakan pada tahun ini terdapat sebanyak 400 pelaku UMKM di Pasar Sore Kampung Ramadan. Ratusan pelaku UMKM itu berasal dari warga Kampung Jogokariyan dan sebagian merupakan pedagang luar wilayah.
“Alhamdulillah tahun ini ada peningkatan jumlah pedagang dari 350 menjadi 400 orang. Artinya ada penambahan 50 lapak untuk Pasar Sore,” katanya.
Falah menyebut, panitia telah melakukan riset kecil-kecilan terkait potensi perputaran uang selama gelaran Pasar Sore Kampung Ramadan Jogokariyan. Hasilnya, dia memperkirakan perputaran di pasar tiban itu bisa mencapai Rp400 juta dalam sehari.
“Satu pedagang sehari mungkin bisa dapat omzet Rp300 ribu sampai Rp1 juta. Nah itu dikalikan saja, berarti bisa Rp400 juta (kalau omzet mencapai Rp1 juta),” ujarnya.
Sedangkan, apabila pendapatan terendah pedagang Rp300 ribu per hari. Maka perputaran uang di 400 pedagang diperkirakan mencapai sekitar Rp120 juta per hari.
Falah menuturkan, selain menyediakan fasilitas lapak pedagang untuk pelaku UMKM. Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan juga menyiapkan berbagai kegiatan untuk menjangkau seluruh kalangan.
Di antaranya untuk anak-anak, pihaknya menyediakan kegiatan berkisah atau berdongeng dan nonton film bersama menjelang buka puasa. Tah hanya itu, kajian untuk remaja, Ibu-ibu, dan Bapak-bapak juga disiapkan guna memperdalam ilmu keagamaan.
“Kami juga Insya Allah akan mengundang sejumlah tokoh, semisal Prof Mahfud MD, Prof Zainal Arifin Mokhtar, dan tokoh nasional lainnya. Kemudian musisi-musisi juga dihadirkan seperti tahun sebelumnya, Insya Allah Letto, ada kolaborasi dengan Yogyakarta Hadroh Clan, dan komika-komika juga kami undang,” tuturnya.
Lewat berbagai kegiatan itu, dia berharap gelaran Ramadan di Masjid Jogokariyan bisa mendatangkan keberkahan berjamaah. Seperti tema ‘Berkah Berjamaah’ Kampung Ramadan Jogokariyan pada usia 60 tahun Masjid Jogokariyan.
“Kami menyadari bahwa Masjid Jogokariyan bisa seperti sekarang larena leberkahan dari berjamaah, bersama-sama, persatuan ukhuwah, bukan hasil dari kerja individu,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












