YOGYAKARTA, POPULI.ID – Lagi-lagi teror menimpa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM. Kali ini menimpa Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto usai melontarkan sejumlah kritik terhadap pemerintah.
Serangkaian teror tersebut dilaporkan muncul setelah BEM UGM mengirimkan surat resmi kepada UNICEF pada 6 Februari 2026, yang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menyoroti tragedi bunuh diri seorang siswa di NTT akibat keterbatasan ekonomi.
Tiyo menjelaskan bahwa sejak 9 Februari 2026, ia mulai menerima pesan-pesan bernada ancaman dari sedikitnya enam nomor telepon misterius dengan kode negara Inggris Raya (+44). Isi pesan tersebut beragam, mulai dari ancaman penculikan hingga upaya pembongkaran aib pribadi.
Lebih jauh, serangan tersebut berkembang menjadi upaya pembunuhan karakter yang terstruktur di media sosial. Tiyo menyebutkan adanya konten hoaks yang dibuat menggunakan teknologi AI untuk menyudutkan reputasinya, termasuk tuduhan bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas LGBT hingga fitnah terkait kebiasaan menyewa pemandu lagu (LC).
“Mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar ‘Awas LGBT di UGM’ dengan foto saya. Bahkan, ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di-generate oleh AI,” ungkap Tiyo.
Selain pembunuhan karakter, Tiyo juga mengaku sempat dikuntit oleh orang tak dikenal.
Tiyo menceritakan insiden tersebut terjadi pada 11 Februari 2026 saat ia sedang berada di sebuah kedai.
Di sana, ia merasa diikuti dan difoto secara sembunyi-sembunyi oleh dua pria tidak dikenal yang memiliki perawakan tubuh tegap. Meski sempat mencoba mengejar oknum tersebut, mereka berhasil melarikan diri.
Menanggapi situasi ini, Tiyo menegaskan keprihatinannya terhadap iklim demokrasi saat ini.
“Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” tegasnya.
Selain menyasar dirinya, teror juga merembet ke pihak keluarga, di mana ibunda Tiyo menerima pesan palsu yang menuduh anaknya menggelapkan dana kampus.
Merespon hal tersebut, juru bicara UGM, I Made Andi Arsana, mengonfirmasi bahwa pimpinan universitas telah menjalin komunikasi langsung dengan Tiyo.
Sebagai langkah konkret, pihak kampus telah menginstruksikan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk memberikan pengawalan dan pemantauan khusus demi menjamin keselamatan Ketua BEM tersebut.
Sementara itu, beberapa tokoh politik seperti Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyarankan agar Tiyo segera membuat laporan resmi ke pihak kepolisian agar kasus ini dapat diusut tuntas.
Gelar Jokowi Memalukan
Sebagaimana ditulis pada bagian awal, kasus teror terhadap BEM UGM merupakan kejadian berulang.
Dalam kurun 5 tahun terakhir, BEM UGM beberapa kali mengalami teror seusai lantang menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Sebelum menimpa Tiyo, Ketua BEM UGM terdahulu yakni Gielbran Mohammad Noor juga mengalami kondisi serupa.
Dirinya mengalami serangkaian tekanan berupa intimidasi dan penyebaran informasi palsu (hoaks), setelah organisasi yang dipimpinnya menobatkan Presiden Joko Widodo sebagai “Alumnus UGM Paling Memalukan” dalam sebuah aksi diskusi pada 8 Desember 2023.
Gielbran membeberkan bahwa upaya intimidasi tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai intelijen dari kesatuan tertentu.
Oknum tersebut dilaporkan mendatangi Fakultas Peternakan UGM, tempat Gielbran menuntut ilmu, untuk meminta data pribadinya.
Namun, permintaan tersebut ditolak oleh pihak akademik karena oknum tersebut tidak dapat menunjukkan surat tugas resmi.
Selain di lingkungan kampus, upaya serupa juga menyasar kediamannya di Sragen, Jawa Tengah. Gielbran menceritakan bahwa oknum yang mengaku intel mendatangi Ketua RT setempat dengan maksud menemui orang tuanya.
“Ketua RT menghalau dan membatasi juga mengimbau agar tidak usah bertemu orang tua saya. Intel-intel tersebut tidak sampai bertemu orang tua saya, mereka mengundurkan diri dan tak mengintervensi secara langsung,” jelas Gielbran.
Gielbran juga diserang secara pribadi melalui media sosial dengan narasi bahwa dirinya telah dikeluarkan dari kampus (drop out) dan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang rendah, yakni 2,2.
Gielbran dengan tegas membantah isu tersebut dan membuktikan bahwa dirinya masih memiliki akses penuh ke sistem akademik kampus (Simaster).
Gielbran mengungkapkan bahwa IPK aslinya jauh di atas angka yang dituduhkan, yakni mencapai 3,68, dengan transkrip nilai semester terakhir yang didominasi nilai A.
“Isu-isu yang beredar liar di luar sana tidaklah benar adanya, termasuk isu yang menyebut bahwa saya sebagai Ketua BEM UGM telah di drop-out,” tegasnya.
Kecaman dan Desakan
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengecam keras rentetan teror yang dipicu langsung oleh aktivitas kritik mahasiswa.
Ia menilai teror yang menimpa sejumlah mahasiswa baik secara individu maupun organisasi merupakan tindakan yang mereduksi demokrasi.
“Intimidasi dan teror semacam ini kami nilai sangat berbahaya bagi demokrasi serta hanya akan terus menggerus kebebasan sipil,” ujar Dimas.
Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi mendesak kepada pihak kepolisian untuk bertindak atas teror yang menimpa BEM UGM.
“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi teror ke BEM UGM terutama ke Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” tegas Politisi Fraksi PKB tersebut.












