YOGYAKARTA, POPULI.ID – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (Menbud RI), Fadli Zon, mencanangkan 29 Maret 2026 sebagai Hari Filateli Nasional di Taman Budaya Embung Giwangan Kota Yogyakarta.
Pencanangan itu dilakukan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-104 Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI) pada Minggu (29/3/2026).
Pantauan Populi.id, prosesi pencanangan Hari Filateli Nasional ditandai dengan penandatanganan sampul surat peringatan khusus oleh Menbud RI, Fadli Zon, dan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.
Pada kesempatan itu, Fadli Zon juga sempat meluncurkan buku kartu pos bergambar dengan judul ‘Djocjocarta (Yogyakarta)’.
Fadli Zon mengatakan bahwa filateli atau hobi mengumpulkan barang-barang pos semisal prangko, sampul, dokumen, dan kartu pos merupakan sebuah budaya material (material culture).
Sebab, dalam barang-barang pos tersebut telah menceritakan dan menyimpan banyak peristiwa sejarah. Bahkan, benda pos juga menjadi identitas sebuah bangsa.
“Bangsa yang baru merdeka termasuk Indonesia pada 1945 yang pertama kali dibuat adalah benda-benda pos, selain mata uang. Karena benda-benda pos ini bagian dari identitas bangsa, begitu juga dengan mata uang. Kemudian dibuat juga prangko yang menjadi alat komunikasi,” katanya, Minggu (29/3/2026).
Kota Yogyakarta dipilih sebagai lokasi pencanangan Hari Filateli Nasional karena termasuk kota perjuangan yang telah terjadi banyak peristiwa bersejarah.
Peristiwa-peristiwa bersejarah di Kota Yogyakarta dan kota lainnya di Indonesia selalu terekam dalam prangko.
Tak hanya itu, tokoh-tokoh nasional, peristiwa bencana alam, rumah adat, pakaian tradisional, organisasi, dan wasta nusantara juga termuat dalam prangko. Sehingga keberadaan prangko bisa jadi penanda zaman, pemotret sejarah, disamping sebagai benda koleksi.
Fadli tak menampik ada lompatan perkembangan zaman dan teknologi yang membuat hobi filateli atau menulis surat cukup asing bagi Gen-Z, Gen Milenial, maupun Gen Alpha. Kendati demikian, dia menyebut benda-benda filateli bisa memberikan pelajaran tentang ketekunan, kejujuran, dan edukasi pendidikan.
“Filateli juga menjadi instrumen diplomasi karena sampai sekarang puluhan negara mempunyai diplomasi dalam peringatan-peringatan semisal 70 tahun atau 50 tahun hubungan diplomasi dengan menggunakan prangko. Jadi ikut publikasi prangko bersama, itu bagian second track diplomasi yang menarik untuk menjadi salah satu platform,” jelas dia.
“Saya kira budaya material juga bagian dari ekspresi budaya yang bisa menjadi salah satu platform. Itu sesuai perintah konstitusi untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya,” ujarnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut hangat pencanangan Hari Filateli Nasional di Kota Yogyakarta. Mengingat kebudayaan di Kota Yogyakarta memiliki spektrum yang luas.
Dia menilai, pencanangan Hari Filateli Nasional tersebut menjadi penanda bagi Kota Yogyakarta untuk mengembangkan spektrum baru dalam karya budaya.
“Saya kira banyak sekali budayawan, seniman, dan pengemar atau kolektor filateli di Kota Yogyakarta yang sangat luar biasa. Maka kami berharap kegiatan itu ke depan bisa menambah kunjungan wisata dan menjadi bagian dari karya budaya,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












