POPULI.ID – Sejarah pahit tercipta di Denmark. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaannya sejak tahun 1958, tim bulu tangkis putra Indonesia dipastikan gagal melaju ke babak perempat final Thomas Cup 2026. Kegagalan ini menjadi noda hitam bagi sang raja turnamen yang memegang rekor 14 gelar juara tersebut.
Kepastian tersingkirnya skuad Merah Putih terjadi pada Selasa (29/4/2026) setelah mereka tumbang dengan skor telak 1-4 dari Prancis dalam laga pamungkas Grup D. Hasil ini membuat Indonesia hanya mampu finis di posisi ketiga klasemen akhir, kalah bersaing dengan Thailand yang keluar sebagai juara grup dan Prancis sebagai runner-up.
Indonesia sebenarnya turun dengan kekuatan terbaiknya, namun justru mengalami kesulitan sejak awal laga menghadapi strategi Prancis yang memainkan tiga tunggal di awal. Tiga tunggal putra andalan Indonesia secara mengejutkan tumbang beruntun.
Jonatan Christie membuka laga dengan kekalahan dua gim langsung dari Christo Popov (19-21, 14-21). Langkah sulit ini berlanjut saat pemain muda Alwi Farhan menyerah dari Alex Lanier (16-21, 19-21).
Harapan sempat tertumpu pada Anthony Sinisuka Ginting, namun ia pun gagal membendung perlawanan Toma Junior Popov dalam drama rubber game yang berakhir dengan skor ketat 22-20, 15-21, 20-22.
Indonesia benar-benar terkunci setelah pasangan ganda Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani takluk dari Eloi Adam/Leo Rossi (19-21, 19-21). Kekalahan Sabar/Reza ini tergolong di luar dugaan mengingat peringkat dunia mereka yang jauh di atas lawan (posisi 9 berbanding 52). Kemenangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di partai terakhir pun hanya menjadi pelipur lara yang tidak mengubah nasib tim.
Kegagalan di edisi 2026 ini melampaui rekor terburuk Indonesia sebelumnya, yakni saat terhenti di babak perempat final pada Thomas Cup 2012. Sebelum peristiwa di Denmark ini, Indonesia selalu berhasil melewati fase penyisihan grup dalam 30 kali keikutsertaannya di ajang beregu putra paling bergengsi di dunia ini.
Sebagai negara tersukses dengan koleksi 14 trofi (terakhir diraih pada edisi 2020), hasil ini menjadi tamparan keras bagi prestasi bulu tangkis nasional. Indonesia yang biasanya menjadi pelanggan tetap partai final kini harus angkat koper lebih awal dengan hanya mengoleksi dua poin dari kemenangan atas Aljazair dan kekalahan dari Thailand serta Prancis.
Kekalahan ini dianggap sebagai rapor merah yang menandakan adanya masalah serius dalam kesiapan mental serta strategi di lapangan. Indonesia sebenarnya hanya membutuhkan setidaknya dua kemenangan partai melawan Prancis untuk bisa mengamankan posisi runner-up grup. Namun, syarat yang semestinya terasa mudah tersebut rupanya sangat jauh dari jangkauan.











