JAKARTA, POPULI.ID – Anggota Komisi XI DPR RI mendesak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk mengundurkan diri menyusul anjloknya nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp17.600 per Dolar AS pada Senin (18/5/2026).
Pelemahan ini menjadi sorotan tajam karena nilai mata uang Rupiah mencapai titik terendahnya sejak krisis moneter 1998, di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang diklaim masih tumbuh positif.
Dalam rapat kerja yang berlangsung di Gedung DPR, Jakarta, Senin (18/5/2026), anggota Komisi XI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, secara terbuka meminta pertanggungjawaban moral dari Perry Warjiyo.
Primus menilai telah terjadi anomali besar karena Rupiah terus terdepresiasi parah meskipun indikator ekonomi kuartal I-2026 tumbuh meyakinkan sebesar 5,61 persen.
“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar Rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap Dolar,” tegas Primus, dikutip dari kanal YouTube TVR Parlemen, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan bahwa langkah pengunduran diri adalah bentuk tanggung jawab yang luhur jika pejabat publik gagal menjalankan tugas menjaga stabilitas mata uang.
Kritik juga datang dari anggota fraksi lain yang menyoroti efektivitas instrumen kebijakan BI. Harris Turino dari Fraksi PDIP mempertanyakan mengapa depresiasi terus berlanjut padahal BI mengklaim telah mengerahkan seluruh instrumennya.
“Pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan, tetapi kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI Hanif Dhakiri mengingatkan bahwa di lapangan, masyarakat mulai tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan terkikisnya daya beli kelas menengah akibat pelemahan kurs ini.
“Di dalam laporannya, BI juga menyebut soal tercapainya stabilitas nilai tukar rupiah. Publik melihat pelemahan yang cukup tajam rupiah terhadap dolar. Nah kita ingin minta penjelasan, sebenarnya definisi stabil menurut BI itu apa? Definisi stabil itu apa? Karena kalau di persepsi publik kan memang rupiahnya justru dianggap melemah secara signifikan,” katanya.
Menanggapi tekanan tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh faktor eksternal, termasuk konflik bersenjata di Timur Tengah dan kebijakan suku bunga tinggi dari Bank Sentral AS (The Fed). Secara domestik, terdapat tekanan musiman akibat lonjakan permintaan valas untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan dana haji pada periode Mei hingga Juni.
“Tiap tahun tertekan pada Mei dan Juni karena demand tinggi,” ujar Perry.
Ia menyatakan bahwa nilai tukar akan kembali stabil. Perry memprediksi Rupiah akan bergerak menguat pada Juli dan Agustus 2026 setelah fase tekanan musiman terlewati. BI berkomitmen untuk terus melakukan intervensi aktif di pasar uang guna memastikan rata-rata nilai tukar tahunan tetap berada dalam kisaran sasaran fundamental Rp16.200 hingga Rp16.800 per Dolar AS.
Untuk mengawal proses pemulihan tersebut, ia memastikan akan terus mengucurkan pasokan valas dan melakukan intervensi aktif guna menstabilkan pasar uang.
“Apakah BI akan masuk? Masuk. Karena sekarang year-to-date Rp16.900 dan pengalaman kami kalau April, Mei, dan Juni memang tinggi, kalau Juli-Agustus akan menguat,” tutur Perry.












