YOGYAKARTA, POPULI.ID– Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, mampu membukukan omzet sebesar Rp250 juta hingga Oktober 2026. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp137,5 juta.
Ketua KKMP Gunungketur, Muhammad Reza Murtaza, menjelaskan bahwa seluruh omzet yang dibukukan pada 2025 berasal dari kegiatan produksi dan penjualan batik. “Omzet 2025 kemarin baru mengerjakan Rp137,5 juta dari batik saja. Kalau untuk tahun ini, sampai Oktober sudah di angka Rp250 juta,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (2/11/2026).
Selain mengembangkan usaha secara mandiri, KKMP Gunungketur juga mendapatkan kepercayaan mengerjakan pesanan batik dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Nilai pesanan tersebut mencapai sekitar Rp580 juta, termasuk pajak, dengan jumlah produksi sekitar 3.000 batik.
Untuk memenuhi pesanan tersebut, KKMP Gunungketur menggandeng tujuh koperasi lainnya melalui konsorsium produksi batik. Kerja sama ini dilakukan agar seluruh pesanan dapat diselesaikan sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan.
Reza menyebut kolaborasi tersebut menjadi salah satu wujud semangat gotong royong antarkoperasi. Masing-masing koperasi mendapatkan bagian pekerjaan, sedangkan proses pengawasan mutu tetap berada di bawah kendali KKMP Gunungketur.
“Karena waktunya hanya satu bulan, akhirnya kami berbagi pekerjaan. Kami mengajak tujuh koperasi lainnya untuk mengerjakan bersama-sama. Untuk quality control tetap dari Gunungketur karena kami yang mendapatkan pesanan,” tuturnya.
Ia mengatakan KKMP Gunungketur termasuk koperasi yang sudah mampu menjalankan kegiatan usaha secara mandiri. Sejak awal pembentukannya, pengurus tidak menjadikan dana hibah maupun bantuan pemerintah sebagai tumpuan utama untuk menggerakkan koperasi.
Dalam menjalankan aktivitasnya, KKMP Gunungketur juga telah menyediakan Kios Merah Putih dengan konsep warung sederhana. Keberadaan kios tersebut ditujukan untuk menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat di lingkungan kelurahan.
Kendati demikian, Reza berharap Pemkot Yogyakarta dapat membantu membuka akses distribusi barang bagi koperasi, terutama dengan menghubungkan koperasi dengan penyedia kebutuhan pokok seperti Perum Bulog.
Menurut dia, salah satu kendala yang dihadapi koperasi saat ini adalah tingginya harga pembelian barang dari pemasok. Selain itu, proses administrasi dan regulasi untuk memperoleh pasokan dinilai masih menyulitkan.
Akibatnya, harga jual barang di koperasi terkadang tidak mampu bersaing dengan toko modern maupun pasar yang sudah lebih dulu menjangkau masyarakat. “Harapan kami Pemkot bisa memfasilitasi dan menyambungkan kami sebagai penyedia barang dengan Bulog. Sebab, ada beberapa proses birokrasi yang masih terlalu berbelit-belit,” katanya.
Reza menilai kemudahan akses distribusi menjadi hal penting agar tujuan pembentukan Koperasi Merah Putih dapat tercapai, terutama dalam memangkas rantai distribusi dan mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak. Ia menegaskan, koperasi tidak meminta perlakuan khusus berupa subsidi. Namun, pemerintah diharapkan memberikan kemudahan regulasi agar koperasi bisa mendapatkan pasokan barang dengan harga kulakan yang lebih terjangkau.
Hal itu juga berlaku untuk sejumlah komoditas yang distribusinya berkaitan dengan Bulog maupun LPG. Menurut dia, akses tersebut perlu diperjelas agar koperasi di Kota Yogyakarta dapat memperoleh kesempatan distribusi secara langsung.
“Kami tidak pernah berharap disubsidi. Tetapi jalur distribusinya yang perlu dipermudah. Kalau harga kulakan kami bisa lebih murah, tentu kami bisa bersaing dengan toko maupun pasar modern,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Reza mengapresiasi respons Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta terkait upaya pemenuhan pasokan barang kebutuhan masyarakat melalui koperasi. Ia juga mendukung rencana pendataan warung-warung yang berada di wilayah kelurahan untuk kemudian diarahkan menjadi anggota koperasi. Melalui skema tersebut, koperasi nantinya dapat menyalurkan barang kebutuhan kepada warung-warung yang tergabung sebagai anggota.
Menurut Reza, pola kemitraan tersebut dapat memberikan manfaat bagi koperasi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha warung kecil di lingkungan masyarakat. Warung yang menjadi anggota koperasi nantinya berpeluang memperoleh harga kulakan lebih rendah. Dengan demikian, mereka dapat menjual barang kepada masyarakat dengan harga yang lebih kompetitif tanpa harus tersisih oleh keberadaan koperasi. (Hadid Pangestu)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



