SLEMAN, POPULI.ID – Menteri Kesehatan RI Budi Gunawan Sadikin meresmikan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) di RSUP Dr. Sardjito, Kamis (8/7/2026).
Pembangunan Gedung CMU ini menjadi bagian dari transformasi besar RSUP Dr. Sardjito menuju rumah sakit modern yang terintegrasi dan mengutamakan pelayanan berbasis kebutuhan pasien.
Di hadapan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Menkes menjelaskan bahwa penataan kawasan rumah sakit dilakukan dengan konsep efisiensi bangunan tanpa mengorbankan mutu layanan.
Ia menyebutkan jumlah gedung akan disederhanakan secara signifikan. “Dari 32 gedung kita tata ulang jadi sembilan gedung,” ujar Budi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengurangan jumlah gedung tidak berarti pengurangan fasilitas. “Bukan berarti mengurangi fasilitas, malah fasilitasnya naik dua sampai tiga kali lipat. Lahan hijaunya juga akan lebih bagus,” katanya.
Awalnya, transformasi RSUP Dr. Sardjito direncanakan rampung pada 2040. Namun, target tersebut dinilai terlalu lama setelah dikomunikasikan dengan Sri Sultan. “Ngomong sama Ngarsa Dalem, katanya ‘waduh lama amat’,” ungkap Menkes.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong percepatan pembangunan. Menkes menargetkan pada 2029, sebelum masa jabatan pertama Presiden Prabowo Subianto berakhir, RSUP Dr. Sardjito versi baru sudah dapat diresmikan.
“Kami akan usahakan di 2029, Bapak Presiden Prabowo bisa meresmikan rumah sakit Sardjito yang sudah relatif lengkap,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa percepatan tersebut memerlukan dukungan lintas pihak, termasuk pemerintah daerah dan manajemen rumah sakit.
Selain pembangunan fisik, Menkes menekankan bahwa peningkatan kualitas layanan harus menjadi prioritas utama.
Transformasi ini diharapkan tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat, khususnya warga Yogyakarta yang memiliki jumlah lansia cukup tinggi.
“Saya titip ke Ibu Dirut, yang penting layanannya fokus ke pasien. Bukan hanya menyembuhkan penyakit, tapi juga merawat kehidupan masyarakat Yogyakarta,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat, terutama lansia, tidak perlu lagi berobat ke luar daerah. “Kalau masyarakat sakit, terutama lansia, enggak usah keluar, cukup dirawat di sini dan bisa sembuh,” tambahnya.
Menkes juga mengungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan tengah membangun dan memodernisasi sekitar 40 rumah sakit di berbagai daerah.
Beberapa proyek meliputi pembangunan gedung ibu dan anak di RS Kanker Dharmais, RS Persahabatan, RS Hasan Sadikin, serta RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah.
Selain itu, layanan kanker dikembangkan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang dan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
“Kita juga bangun dua rumah sakit besar di Surabaya dan Makassar, rumah sakit di wilayah timur seperti Ambon, Kupang, dan Jayapura,” jelasnya.
Menkes juga menyebut pembangunan RS di IKN dan proyek rumah sakit di Riau yang saat ini masih berjalan.
Mulai tahun depan, Kemenkes akan memasuki tahap pendanaan kedua guna melanjutkan pembangunan gedung-gedung baru, termasuk di RSUP Dr. Sardjito, demi mengejar target penyelesaian 2029.
Di akhir pernyataannya, Menkes menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan. “Tantangan berikutnya adalah tenaga medis,” katanya.
Ia menekankan bahwa dokter tidak hanya dituntut unggul secara medis, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi dan empati.
“Masyarakat butuh dokter yang komunikasinya baik, empatinya baik, sehingga pasien merasa ‘diwongke’,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












