• Tentang Kami
Monday, July 6, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar 2026 Digelar Sederhana, Sri Sultan HB X: Penghematan

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menyatakan menghargai dan menghormati keputusan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk menyederhanakan prosesi Adat Garebeg Besar Iduladha 2026.

byredaksi
May 22, 2026
in headline, Kultur
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X, saat ditemui di Kepatihan, Kamis (21/5/2026).

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X, saat ditemui di Kepatihan, Kamis (21/5/2026). [populi.id/Dewi Rukmini]

0
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar dalam rangka memperingati Hari Iduladha 1447 Hijriyah pada Rabu (27/5/2026). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memutuskan untuk menyederhanakan prosesi Upacara Adat Garebeg Besar 2026.

Langkah tersebut akan berpengaruh terhadap jalannya prosesi upacara, yakni tidak akan menampilkan iring-iringan prajurit dan kirab gunungan di luar lingkungan istana.

BERITA MENARIK LAINNYA

Sensus Ekonomi Kota Yogyakarta Capai 20,15 Persen, Sultan hingga Wali Kota Sudah Didata

Tinjau Wisata Sri Gethuk, Wabup Gunungkidul Dorong Pengembangan Skala Global

Sebab, Keraton Yogyakarta memutuskan untuk memusatkan seluruh rangkaian prosesi pembagian pareden di dalam Keraton dan diperuntukkan hanya untuk abdi dalem. Hal itu sesuai intruksi Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengungkapkan alasan penyederhanaan Hajad Dalem tersebut.

Ngarsa Dalem menjelaskan, langkah penyesuaian itu diambil demi efisiensi anggaran, berkaca pada kebijakan pemerintah pusat yang juga sedang melakukan pemangkasan APBN.

Selain faktor ekonomi, kebijakan itu juga untuk menjaga empati dan kondisi psikologis masyarakat, agar Keraton tidak terkesan menggelar acara yang bermewah-mewah di tengah dinamika ekonomi saat ini.

“Ya penghematan aja, semua kan penghematan. Nanti dikira mewah-mewah ya kan. Kami juga menjaga psikologis masyarakat. Kami lihat Pemerintah memangkas APBN, ya daerah juga harus penghematan, karena biaya terbesar kan ada di situ,” ucap Sri Sultan HB X saat ditemui di Kepatihan, Kamis (21/5/2026).

Ketika disinggung mengenai keberlangsungan penghematan untuk upacara adat lain, semisal Sekaten, Sultan menjelaskan bahwa pengawalan prajurit kemungkinan tetap ada. Namun format acaranya akan tetap menyesuaikan kondisi perkembangan ekonomi ke depan.

Ngarsa Dalem menegaskan bahwa kebijakan itu bersifat dinamis. Jika situasi perekonomian daerah dan nasional sudah kembali membaik di masa mendatang, maka prosesi kirab budaya yang megah bisa saja dihadirkan kembali untuk masyarakat.

“Saya tidak bisa menentukan (sampai kapan). Nanti kami lihat perkembangannya. Kalau memang keadaan ekonomi sudah lebih baik, ya mungkin bisa dimunculkan lagi,” ungkap beliau.

Sementara itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menyatakan menghargai dan menghormati keputusan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk menyederhanakan prosesi Adat Garebeg Besar Iduladha 2026.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, percaya bahwa kebijakan itu tidak akan mengurangi nilai sakral dari upacara adat tersebut. Nilai luhur Garebeg sebagai perwujudan sedekah Raja kepada masyarakatnya diyakini bisa tetap terjaga seutuhnya melalui perantara para abdi dalem.

“Masyarakat perlu memahami bahwa penyesuaian format tahun ini merupakan bentuk penyederhanaan dan bukan peniadaan upacara adat. Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan Keraton sama sekali tidak menghilangkan esensi utama Garebeg sebagai wujud syukur dan sedekah dari Raja,” katanya.

Menurutnya, secara historis, tradisi Garebeg kerap mengalami adaptasi zaman. Berakar dari tradisi Jawa kuno Rajawedha, format sedekah Raja itu sempat bermutasi menjadi sarana syiar Islam pada era Kerajaan Demak oleh Wali Songo.Hingga akhirnya terjaga di Yogyakarta dalam tiga perayaan besar setahun.

Tak hanya itu, dari masa ke masa jumlah dan jenis gunungan yang dikeluarkan mulai dari Gunungan Kakung, Putri, Darat, Gepak, hingga Pawuhan, selalu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman.

“Penyesuaian format seperti sekarang bukanlah hal baru. Karena format serupa pernah diterapkan secara ketat saat masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Dia menegaskan, alasan atau latar belakang filosofis mendalam di balik keputusan penyederhanaan tersebut merupakan ranah domestik Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu, Pemda DIY mengimbau masyarakat untuk memahami langkah penyesuaian itu. Mengingat nilai kesakralan dan doa keselamatan bagi masyarakat tetap berjalan khidmat. (populi.id/Dewi Rukmini)

Tags: Dian Lakshmi PratiwiHajad Dalem Garebeg BesarIduladhaKeraton Ngayogyakarta HadiningratPariwisataSri Sultan Hamengku Buwono X

Related Posts

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Joko Prayitno saat diwawancarai, Rabu (1/7/2026). [populi.id/Hadid Pangestu]

Sensus Ekonomi Kota Yogyakarta Capai 20,15 Persen, Sultan hingga Wali Kota Sudah Didata

July 2, 2026
Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto meninjau destinasi wisata air terjun Sri Gethuk di Playen

Tinjau Wisata Sri Gethuk, Wabup Gunungkidul Dorong Pengembangan Skala Global

July 1, 2026
Sejumlah pengayuh becak sedang mangkal atau menunggu penumpang di kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Senin (8/6/2026).

Malioboro Steril Kendaraan Bermotor pada Akhir November 2026, Diganti Becak Listrik

June 9, 2026
YOGYAKARTA, POPULI.ID - Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjadi sorotan dalam agenda pertemuan Kepala Daerah se-Jawa Bali di Kantor Gubernur DIY, pada Kamis (4/6/2026). Kasus tersebut disinggung langsung di hadapan para pemimpin daerah sebagai pengingat keras dalam menyusun kebijakan publik. Hal itu disampaikan langsung oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim, usai kegiatan. Dia mengungkapkan, dalam agenda silahturahmi Forkopimda se-Jawa Bali itu diisi dengan beberapa paparan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah menteri. Seperti diketahui, pertemuan itu dihadiri sejumlah menteri dan gubernur di wilayah Jawa dan Bali. Antara lain Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Koordinator Bidang dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, dan Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) Amalia Adininggar Widyasanti. Dalam kegiatan itu tampak hadir Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Bali I Wayan Koster, dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sedangkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Gubernur DKI Pramono Anung, serta Gubernur Banten Andra Soni tidak terlihat menghadiri kegiatan itu. "Pada dasarnya memotivasi kami semua para kepala daerah. Secara umum, yang saya tangkap adalah kami dibayar oleh rakyat, jadi jangan sekali-kali sakiti hati rakyat," ungkapnya. Selain membahas isu-isu strategis seperti penanganan hoaks, penguatan kepemimpinan daerah (pimda), dan pencegahan konflik melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Forum tersebut juga secara khusus menyoroti gaya hidup flexing atau pamer aparat negara dan akuntabilitas kebijakan. Kasus penangkapan Dadan Hindayana bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, Sonny Sanjaya dan Lodewyk Pusung, atas kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG juga dijadikan contoh nyata agar para kepala daerah lebih mawas diri. Poin penekanan yang diberikan terkait pentingnya menjaga benteng pertahanan, baik secara personal maupun sistemik. "Salah satu yang disinggung seperti itu (soal kasus MBG). Jadi maksudnya bahwa jaga-jaga diri baik secara sistem, jangan sampai kami salah membuat kebijakan. Karena ada beberapa kebijakan yang kami tidak bermaksud tapi kebijakannya salah, bisa memperkaya pihak lain. Apalagi kalau ada mensrea (niat jahat)," jelasnya. Dia menyebut menjadi kepala daerah itu bukan hal yang mudah. Karena seluruh kepala daerah diharapkan dapat bekerja lebih all-out dan selektif dalam merancang program kerja demi memastikan setiap anggaran negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. "Kalau kami bikin program, sebenarnya itu bermanfaat atau tidak. Walaupun suratnya lengkap, barangnya ada, tapi kalau ternyata sudah diadakan tapi tidak berguna untuk masyarakat, nanti malah menjadi salah satu tindakan koruptif," katanya. "Memang tidaj ada korupsi secara langsung tapi koruptif. Untuk apa kami belanja sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat, begitu kurang lebih," tandasnya.

Kasus Korupsi Kepala BGN Jadi Bahasan dalam Pertemuan Kepala Daerah se-Jawa di Yogyakarta

June 5, 2026
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, saat berbincang dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada Kamis (4/6/2026).

Menteri PKP Maruarar Sirait Klaim Realisasi Program KUR Perumahan dan Bedah Rumah di DIY Tertinggi pada 2026

June 5, 2026
Sejumlah Menteri dan Gubernur saat berjalan menuju ruang pertemuan bersama Kepala Daerah se-Jawa Bali di Kantor Gubernur DIY, Kamis (4/6/2026).

Menteri dan Kepala Daerah se-Jawa Bali Berkumpul di Kantor Gubernur DIY, Bahas Identifikasi Masalah Lokal

June 5, 2026
Next Post
Ilustrasi daycare

Pakar UGM Soroti Banyaknya Daycare Belum Berizin di Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.