YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta tengah menyiapkan pembangunan tempat khusus parkir (TKP) baru bagi bus pariwisata sekaligus mendorong pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan transit oriented development (TOD).
Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan masuknya kendaraan berukuran besar ke kawasan inti Sumbu Filosofi seperti Malioboro, Tugu, dan sekitarnya.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menyatakan penetapan Sumbu Filosofi sebagai warisan dunia merupakan pencapaian strategis yang patut dibanggakan.
Namun, status tersebut juga membawa tantangan besar dalam pengelolaan kota, terutama terkait tekanan lalu lintas.
“Tekanan paling signifikan datang dari pergerakan bus pariwisata. Hal ini tidak hanya mempengaruhi kelancaran mobilitas, tetapi juga kualitas kawasan serta keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata,” ujar Agus, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, kawasan Yogyakarta bagian selatan dengan pusat aktivitas di Terminal Giwangan dinilai memiliki peran strategis. Selain berfungsi sebagai simpul transportasi dan gerbang masuk kota, kawasan ini juga diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi wilayah selatan.
Terminal Giwangan telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi salah satu lokasi prioritas pembangunan dalam dokumen perencanaan daerah periode 2025–2029.
Agus menambahkan, penguatan fungsi Terminal Giwangan semakin terbuka setelah pemkot memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal. Hal ini memberikan peluang bagi optimalisasi aset daerah secara terintegrasi.
“Pengelolaan kawasan Terminal Giwangan merupakan bagian dari agenda strategis pembangunan Kota Yogyakarta, terutama untuk mendorong pemerataan pembangunan di wilayah selatan dan memperkuat struktur ekonomi kota,” katanya.
Ia menjelaskan penyusunan master plan kawasan Terminal Giwangan telah melalui proses kajian selama lebih dari empat bulan.
Kajian tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah kota dan provinsi, pelaku usaha, operator transportasi, pelaku pariwisata, hingga akademisi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah mengurangi tekanan kendaraan di kawasan Sumbu Filosofi.
Menurutnya, pengembangan destinasi wisata baru tetap penting, namun pengendalian beban lalu lintas di kawasan warisan dunia menjadi prioritas utama.
“Jika tujuannya mengurangi beban di Sumbu Filosofi, maka kebijakannya harus benar-benar mengarah ke sana. Tekanannya harus berkurang agar bus pariwisata tidak lagi masuk ke kawasan inti,” tegas Hasto.
Ia mencontohkan kawasan Jalan Panembahan Senopati yang selama ini menjadi salah satu titik dengan tekanan tinggi akibat aktivitas bus pariwisata. Menurutnya, penataan kawasan tersebut harus diawali dengan pengurangan beban kendaraan.
“Kondisi di Senopati perlu diperbaiki. Langkah awalnya adalah menurunkan beban kendaraan, baru kemudian dicari solusi lanjutan,” ujarnya.
Hasto juga menekankan pentingnya perhitungan kapasitas dan skema pengalihan bus secara realistis, baik pada hari biasa maupun saat puncak kunjungan wisata.
“Kami perlu menghitung kapasitas yang ada, jumlah bus per hari, baik di hari normal maupun musim ramai. Setelah itu baru ditentukan pengalihan ke mana,” jelasnya.
Dalam pengembangan sistem transportasi kota, Hasto menegaskan perlunya langkah bertahap dengan visi jangka panjang.
“Kami mulai dari hal-hal yang bisa dikerjakan sekarang. Kami susun kerangka besar sistem transportasi Kota Yogyakarta yang ideal agar tidak bersifat tambal sulam dan tidak bertentangan dengan arah pembangunan ke depan,” tuturnya.




![Pasar Kranggan. [populi.id/Gregorius Bramantyo]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/1767693177149-120x86.jpg)







