YOGYAKARTA, POPULI.ID – Gaya hidup lambat dan santai yang mengutamakan kualitas waktu ketimbang kuantitas aktivitas atau slow living, kini mulai dilirik sebagian masyarakat di tengah cepatnya ritme hidup modern.
Yogyakarta menjadi satu di antara daerah di Indonesia yang kini identik sebagai tempatnya untuk mewujudkan konsep slow living.
Tapi benarkah bisa hidup dengan konsep slow living di Yogyakarta? Mengingat Yogyakarta hari ini masih menyisakan persoalan klasik, mulai dari kepadatan penduduk, harga tanah yang mencekik hingga UMR kecil.
Satu di antara warga Yogyayarta, Gita (28), menyebut konsep hidup slow living bisa diterapkan di Yogyakarta, asalkan tidak mengikuti ke-fomo-an yang sedang terjadi di seluruh sudut kota. Menurutnya, gaya hidup slow living hanya tergantung cara pandang seseorang menjalani hidup.
“Kalau menurutku slow living di Jogja bisa-bisa saja, tapi dengan syarat tidak mengikuti ke-fomo-an. Orang dengan gaji UMR juga masih bisa slow living, asalkan gaya hidupnya menyesuaikan budget,” ucapnya kepada Populi.id, Kamis (29/1/2026).
Dia menilai, sikap gengsi tinggi, perilaku konsumtif, kecenderungan ingin ikut-ikutanlah yang membuat seseorang susah menjalani hidup santai. Padahal, lanjutnya, jika dilihat dari segi harga makanan di Yogyakarta masih tergolong murah dan terjangkau.
“Kalau saya sih sudah merasa hidup slow living karena ibu rumah tangga, kegiatanku juga tidak terlalu banyak. Sehari saya juga membatasi pengeluaran maksimal Rp100 ribu, dengan satu anak itupun sudah bisa jajan kemana-mana. Jadi menurutku sudah slow living, tapi tidak tahu kalau menurut orang lain,” paparnya.
Warga lainnya, Niarti (41), menilai hidup slow living di Kota Yogyakarta bisa dilakukan apabila tidak ada beban tagihan atau cicilan kredit. Sebab, dia menganggap biaya hidup di Yogyakarta masih terjangkau, bahkan harga makanan serba murah standar kantong mahasiswa.
“Tergantung punya tagihan atau tidak. Walaupun gaji di bawah UMR tapi tidak punya tagihan atau beban cicilan maka masih bisa hidup nyaman dan santai. Tapi kalau punya cicilan berarti mencukupi itu dulu, jadi harus ngirit,” ujarnya.
Sementara itu, warga pendatang dari Solo, Marsono (50), mengaku sudah merantau ke berbagai kota semisal Bandung, Surabaya, Kalimantan, dan Sumatera, hingga mengakhiri perantauan di Yogyakarta. Dari seluruh kota yang pernah didatangi, hanya Yogyakarta yang dia rasa paling nyaman.
“Ya menurut hati saya yang paling nyaman itu Jogja, mungkin karena lingkungannya dan pergaulannya yang berbeda,” ujarnya.
Dia mengakui hidupnya lebih santai di Yogyakarta. Terlebih dia berjualan cilok milik sendiri sehingga tidak merasa tertekan atau stres saat menjemput rezeki.
“Saya berusaha sesantai mungkin. Semua kan tergantung bagaimana cara mengurus ekonominya,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)





![Penumpang memasuki kereta api dari stasiun Yogyakarta. [Dok. PT KAI]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/03/pt-KAI-120x86.png)






