• Tentang Kami
Senin, Agustus 31, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Mustahil Jalani Slow Living di Yogyakarta Bila Masih Terjerat Hal Ini

Selain identik sebagai tujuan wisata, Yogyakarta juga disebut sebagai daerah yang bisa mewujudkan konsep slow living, emang beneran bisa?

byredaksi
Januari 30, 2026
in headline, Lifestyle
Reading Time: 2 mins read
A A
0
kawasan Tugu Jogja yang merupakan satu di antara ikon Kota Yogyakarta

kawasan Tugu Jogja yang merupakan satu di antara ikon Kota Yogyakarta. [populi.id/Dewi Rukmini]

0
SHARES
76
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Gaya hidup lambat dan santai yang mengutamakan kualitas waktu ketimbang kuantitas aktivitas atau slow living, kini mulai dilirik sebagian masyarakat di tengah cepatnya ritme hidup modern.

Yogyakarta menjadi satu di antara daerah di Indonesia yang kini identik sebagai tempatnya untuk mewujudkan konsep slow living.

BERITA MENARIK LAINNYA

Gubernur DIY Sri Sultan HB X Lantik Sembilan Pejabat Eselon II di Lingkungan Pemda DIY

Pakuwon Mall Bantah Pemasangan Pagar Terkait Isu Antisipasi Kerusuhan

Tapi benarkah bisa hidup dengan konsep slow living di Yogyakarta? Mengingat Yogyakarta hari ini masih menyisakan persoalan klasik, mulai dari kepadatan penduduk, harga tanah yang mencekik hingga UMR kecil.

Satu di antara warga Yogyayarta, Gita (28), menyebut konsep hidup slow living bisa diterapkan di Yogyakarta, asalkan tidak mengikuti ke-fomo-an yang sedang terjadi di seluruh sudut kota. Menurutnya, gaya hidup slow living hanya tergantung cara pandang seseorang menjalani hidup.

“Kalau menurutku slow living di Jogja bisa-bisa saja, tapi dengan syarat tidak mengikuti ke-fomo-an. Orang dengan gaji UMR juga masih bisa slow living, asalkan gaya hidupnya menyesuaikan budget,” ucapnya kepada Populi.id, Kamis (29/1/2026).

Dia menilai, sikap gengsi tinggi, perilaku konsumtif, kecenderungan ingin ikut-ikutanlah yang membuat seseorang susah menjalani hidup santai. Padahal, lanjutnya, jika dilihat dari segi harga makanan di Yogyakarta masih tergolong murah dan terjangkau.

“Kalau saya sih sudah merasa hidup slow living karena ibu rumah tangga, kegiatanku juga tidak terlalu banyak. Sehari saya juga membatasi pengeluaran maksimal Rp100 ribu, dengan satu anak itupun sudah bisa jajan kemana-mana. Jadi menurutku sudah slow living, tapi tidak tahu kalau menurut orang lain,” paparnya.

Warga lainnya, Niarti (41), menilai hidup slow living di Kota Yogyakarta bisa dilakukan apabila tidak ada beban tagihan atau cicilan kredit. Sebab, dia menganggap biaya hidup di Yogyakarta masih terjangkau, bahkan harga makanan serba murah standar kantong mahasiswa.

“Tergantung punya tagihan atau tidak. Walaupun gaji di bawah UMR tapi tidak punya tagihan atau beban cicilan maka masih bisa hidup nyaman dan santai. Tapi kalau punya cicilan berarti mencukupi itu dulu, jadi harus ngirit,” ujarnya.

Sementara itu, warga pendatang dari Solo, Marsono (50), mengaku sudah merantau ke berbagai kota semisal Bandung, Surabaya, Kalimantan, dan Sumatera, hingga mengakhiri perantauan di Yogyakarta. Dari seluruh kota yang pernah didatangi, hanya Yogyakarta yang dia rasa paling nyaman.

“Ya menurut hati saya yang paling nyaman itu Jogja, mungkin karena lingkungannya dan pergaulannya yang berbeda,” ujarnya.

Dia mengakui hidupnya lebih santai di Yogyakarta. Terlebih dia berjualan cilok milik sendiri sehingga tidak merasa tertekan atau stres saat menjemput rezeki.

“Saya berusaha sesantai mungkin. Semua kan tergantung bagaimana cara mengurus ekonominya,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)

Tags: gaya hidupJogjaslow livingUMRYogyakarta

Related Posts

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, melantik sembilan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Bangsal Kepatihan, kompleks Kantor Gubernur DIY, pada Rabu (5/8/2026).

Gubernur DIY Sri Sultan HB X Lantik Sembilan Pejabat Eselon II di Lingkungan Pemda DIY

Agustus 5, 2026
Sejumlah titik sekitar Pakuwon Mall dilakukan pemasangan pagar, Senin (3/7/2026).

Pakuwon Mall Bantah Pemasangan Pagar Terkait Isu Antisipasi Kerusuhan

Agustus 5, 2026
Pengolahan sampah perolisis memanfaatkan minyak jelantah di Bank Sampah Berlian, Tompeyan, Kota Yogyakarta, Minggu (26/7/2026).

Bank Sampah Berlian Kembangkan Inovasi Ubah Sampah Residu dan Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar

Juli 27, 2026
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo.

Proyek PSEL DIY Masih Matangkan Persiapan, Pembangunan Ditargetkan Dimulai Akhir 2026

Juli 27, 2026
Wamen UMKM, Helvi Moraza, saat menghadiri perjanjian kerja sama Kementerian UMKM dan Aprindo untuk menghapus biaya listing fee produk usaha mikro masuk ke ritel modern, di Teras Malioboro 1 Kota Yogyakarta, Jumat (17/7/2026) malam.

Dobrak Akses Pasar, Kementerian UMKM Bebaskan Listing Fee Ritel Modern untuk Usaha Mikro

Juli 19, 2026
Sejumlah penumpang mengantre di gate tiket setelah menggunakan layanan KAI Bandara YIA PSO, belum lama ini.

Tren Meningkat, KAI Bandara YIA PSO Layani 865.187 Penumpang Selama Januari-Juni 2026

Juli 19, 2026
Next Post
Kepala Bidang Pasar Rakyat Disdag Kota Yogyakarta, Gunawan Nugroho Utomo.

Kurangi Tumpukan Sampah Organik di Pasar Giwangan, Disdag Yogyakarta Ajak Pedagang Olah Buah Afkir

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

Februari 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

Juni 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

Juni 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

Juni 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

Mei 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.